Hati seorang ibu,
Aku yakin anakku masih hidup.
Aku lagi dan lagi mendesak untuk jujur, dimana anak kita?
Berkali-kali aku merasa bertemu dengan putraku di dalam mimpi, seolah dia juga mencariku.
Tapi Den Gung Dhana tidak pernah mau menjawab, dia hanya selalu berusaha menenangkan ku yang seolah aku ini sakit mental karena tidak siap kehilangan saja.
Sampai Den Gung Dhana membawaku ke psikiater, untuk mengobati trauma ku karena bayi ku meninggal.
Aku benar-benar dibuat seperti orang gila,
Intuisi ku berkata anakku masih hidup, tetapi Den Gung Dhana membuatku menjadi seseorang yang seolah depresi.
Seiring berjalannya waktu, Den Gung Dhana tetap menunjukan keseriusannya ,
Dhana datang kerumah dan untuk pertama kalinya mama ku menyambutnya dan membuatkannya teh hangat.
Setelah kasus penganiayaan lalu, sepertinya keluarga ku mulai menyadari kesalahannya menilai Ferry dan melihat keseriusan Den Gung Dhana, pacarku.
Tetapi,
ternyata hari itu justru menjadi hari terakhir pertemuan aku dengan ayah R. B. Chakra Raendra.
Sepulangnya dia dari rumahku,
Aku senaaaaanggg sekali.
Ditambah
"Kriiiiingggggggg"
Dia telpon ku saat dia sedang nyetir pulang dari rumahku,
Dengan wajah berbinar aku mengangkat tlp dan ingin menanyakan bagaimana perasaannya yang untuk pertama kali disambut ibuku.
Tentunya hal itu yang kami tunggu setelah 2 tahun lamanya berjuang bersama.
Tetapi,,,,,
Justru.............
Di dalam percakapan telpon tersebut, tiba-tiba Dhana bilang :
"Den Ajeng, aku terima teh hangat pertama yang ibumu buatkan setelah 2 tahun lamanya kita jalanin hubungan ini...
Tujuan ku mengantarmu sampai rumah hari ini adalah sebenar-benarnya tujuanku mengantarkanmu pulang. Tanda dari aku bahwa aku mengembalikan kamu ke rumahmu. Terimakasih sudah melahirkan keturunanku walau dia tidak diberikan hidup, tapi setidaknya aku tunjukkan sama kamu tanggungjawabku setidaknya aku tidak meninggalkan kamu dalam keadaan hamil, maaf aku ke Amerika bukan minggu depan, tapi pesawat malam ini, ini tlp ku terakhir. Maaf aku tidak bisa memperjuangkan hubungan ini lagi, kita selesai sampai disini, maaf kamu terlalu baik untuk aku yang pendendam. Maafin Aku Den Ajeng. "
:)
Sebegitu hebatnya hari demi hari yang harus aku lewati,
Entah Tuhan sedang mempersiapkan aku menjadi sekuat apa...
Kehilangan anak,
Kehilangan dia,
Sakit fisik, hati, mental, tenaga, semuanya...
Perasaan?
Apa itu perasaan? :)
Hilang semua, tidak bersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
"NINGRAT"
Espiritual• Jembatan Tak Terlihat Antara Jawa dan Bali • Sebuah Kisah Nyata Inspiratif Tentang Perjalanan Hidup Seorang Wanita Bangsawan Yang Tidak Biasa
