Susah tidur.
Yaaaapp.
Itu yang aku rasakan sepulang dari berguru, karena siapa sangka aku akan segera di- Hindu-kan.
Ajaran kejawen yang selama ini ku jalani memang tidaklah mudah, karena ketetapan ilmu kejawen tidak seperti agama-agama terdaftar, sehingga rasanya aku ingin menjadi pemeluk agama yang konsep Ketuhanan nya tidak jauh dari apa yang ku percaya.
Sejak peristiwa meninggalnya Den Andy, aku memang terpikir ingin sekali memperdalam Hindu. Tetapi mana sangka secepat ini???
Secepat kilat di sebuah Geriya yang baru saja ku datangi.
Dengan ritual upakara yang diringkas mulai dari prosesi banten, hingga sertifikasi PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) .
Semua sangat dipermudah tanpa mengurangi esensi dan tujuan Sudhi Wadani.
Menurutku itu sebuah anugrah, yang aku tahu, memeluk agama Hindu tidaklah mudah,
Bisa dibilang, ibarat Ajik bilang,
Aku mungkin mendapat "Golden Ticket".
Menuju hari rabu, aku perbanyak bertapa di malam hari, seperti aku memohon izin pada siapa saja yang perlu aku berikan bakti, terutama pada Tuhan, aku percaya, berpindah agama adalah bukan sedang mengkhianati Tuhan, aku butuh perbaikan dan keteraturan dalam mengagungkan Tuhan.
Aku merasa,
Putra pertamaku yang keturunan Mataram Hindu, berbagai pertanda sejak sebelum ke Bali, undangan ke Bali, Kematian Den Andy, hingga berkali-kali pengaturan semesta aku alami di Bali, ditambah moyang ku seorang Raja Bali beragama Hindu , dikelilingi brahmana,
itu semua lebih dari cukup menjadikan aku memutuskan untuk menjadi Hindu.
Akupun percayakan diriku yang sudah berusia 30 tahun pasti mengerti segala konsekuensi yang akan ku hadapi.
Keluargaku?
Mereka tahu aku Agnostik Kejawen,
Dan sejak di Bali keluarga pun sudah tidak kaget jika aku menjadi Hindu.
Bahkan mereka sudah menganggap aku Hindu jauh sebelum aku Sudhi Wadani.
Satu hari sebelum upacara Sudhi Wadani, perasaanku campur aduk, aku juga ingin menangis rasanya karena menjalani ini tentu tidaklah mudah bagiku yang sendirian di Bali, teman terbaik yang ku miliki hanya Ajik.
Aku percaya,
Ajik memang ditugaskan Tuhan untuk mendampingi aku sampai akhirnya aku menjadi umatNya.
Ajik senantiasa sabar walau mungkin campur sedikit pusing dengan berbagai pertanyaanku yang kadang cukup kritis.
Aku orang yang haus ilmu, ingin belajar , dan suka menganalisa sesuatu.
Aku percaya apapun yang Ajik arahkan, walau Ajik bukan yang lugas dan respon cepat, tapi aku mengikuti siapa saja yang ajik rekomendasi kan, termasuk hingga pertemuan ku dengan Ratu Peranda tersebut yang kali ini membantuku secepat kilat berpindah agama Hindu.
Lebih dari itu, aku tidak menyangka Ratu Peranda melihat aku layaknya spiritualis. Siapalah aku hingga Ratu Peranda cukup menghargai aku.
Aku bersyukur sekali dan terharu, ku perbanyak menyebutkan nama Tuhan menjelang upacara Sudhi Wadani,..
Aku peluk Ajik sekeras-kerasnya untuk sekedar meletakkan rasa haru, terimakasih, dan syukurku mengenalnya.
Aku sudah tidak tidur sejak selasa malam, semua sudah ku persiapkan, sejak jam 5 pagi aku sudah siap, mengingat Ratu Peranda menunggu ku jam 7 pagi untuk tiba di Geriya.
Siapa sangka???
Tiba-tiba mobilku tidak hidup.
Pagi itu Ajik perlu mendatangiku , cek mobil, dan syukurlah hidup.
Akupun jalan, tetapi belum terlalu jauh, aku perlu kembali ke kost karena dompet ku ketinggalan.
Berhasil ambil dompet, sudah berjalan lagi, tiba-tiba aku baru ingat kunci ku sepertinya tergantung di pintu kamar.
Berhasil jalan lagi,
Mobil mogok di pom bensin, syukurlah dibantu oleh orang sekitar.
Ku teruskan lagi perjalanan,
Mogok lagi. Akupun tlp Ajik dan juga Opa ku , siapapun yang lebih dulu tiba, aku mohon bantu aku...
Bagaimana aku bisa sampai ke Geriya..
Hingga keduanya datang, dan mobil berhasil jalan lagi, tetapi aku minta Ajik arahkan aku ke pantai terdekat, aku rasa aku lupa melakukan satu janji.
Janji untuk tidak meninggalkan baktiku pada sosok penting dalam kepercayaan Jawa, seperti kepada Sang Hyang Ismaya, Kanjeng Ratu Kidul, Batara Guru atau Sang Hyang Manikmaya.
Setelah maturan di pantai,
Aku pun berhasil meneruskan perjalanan dan bisa tiba di Geriya walau terlambat 5 jam lamanya.
Upacara berjalan dengan baik,
Akupun telah lahir kembali,
Lalu aku diberikan nama dan gelar baru,
Raden Ajeng Endlessia Haryandri, menjadi
Menak Ayu Kilinatha Brata.
Menak Ayu adalah gelar brahmani bangsawan Majapahit.
Ratu Peranda melihat dari silsilah ku yang bermula dari Raja Bali maka gelar Raden Ajeng yang identik milik murni Jawa tersebut dan aku yang dikembalikan menjadi pemeluk agama leluhur ku, maka gelar ku pun dikembalikan ke gelar Majapahit.
(Walau gelar ini membuatku sedikit berasa hidup di salah abad..)
Kili , dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti seorang perempuan pertapa.
Ratu memilihkan nama tersebut karena aku suka sembahyang dengan bentuk bertapa.
Natha, dalam bahasa Jawa Kuno berarti Ratu atau kaum Brahmana Perempuan, dan dalam bahasa Sanskerta yaitu Pelindung dan Penjaga Kuat.
Brata, adalah salah satu kata yang kutemukan dalam pertapa singkat di Geriya, yang dimaknai sebagai Sifat Kuat Rohani/Spiritual dan Pertapa Brahmana.
Nama yang cukup berat. :)
Semoga aku mampu mengendalikan diriku sebaik arti nama baru tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
"NINGRAT"
Spiritual• Jembatan Tak Terlihat Antara Jawa dan Bali • Sebuah Kisah Nyata Inspiratif Tentang Perjalanan Hidup Seorang Wanita Bangsawan Yang Tidak Biasa
