Sebelum Seokjin tiada, ada sebuah lahan yang memang menjadi rebutan, hingga akhirnya Seokjin kalah dan pihak ketiga yang mendapatkan itu. Banyak nyawa yang tumbang karena perebutan lahan itu, jadi saat Suga dan Gyeong minta lahan itu, sama artinya dia menyerahkan nyawa Taehyung karena melanggar perjanjian
"Bukan menyerahkan nyawa, tapi hanya kau yang bisa merunding tuan Choi untuk lahan itu," sahut Suga Kali ini dia ikut bicara, di sisi lain ada Jungkook yang hanya diam. Wajahnya masih pucat, seperti masih sakit. Tapi, itu bukan menjadi fokus Taehyung sekarang.
"Jika aku mendapatkan itu, bisakah kalian pergi dari sini. Termasuk kau Hyung. Untuk apa kalian di sini jika hanya menyusahkanku saja," pinta Taehyung.
Mereka diam. Bagaimana bisa mereka pergi. Selama ini Taehyung yang memberikan kenyamana untuk mereka apalagi Gyeong yang tidak harus melakukan apapun tapi menikmati kemewahan
"Kalau kalian tidak mau, artinya aku tidak akan melakukan apa yang menjadi kemauan kalian. Aku beri waktu sampai nanti malam, saat kalian setuju denga--"
"Tidak. Kau itu perhitungan sekali padaku. Ini juga untuk adikmu. Apa yang akan kau ambil tidak ada apa-apa nya dari yang kau miliki sekarang. Kau ini hanya harus merebutnya, kenapa sulit sekali melakukan itu," jawab Gyeong. Dia begitu entengnya mengatakan itu, saat tetap Taehyung yang menjadi umpan.
"Ya, perlukah aku membunuh anak istrimu itu agar kau mau melakukan kemauan kita," sahut Suga. Mendengar itu, Taehyung menatap tajam. Dia memang sudah tidak suka pada Ha Seul, dia juga yang menghasut agar tidak bersama Taehyung.
"Lakukan apa yang kalian mau. Aku tidak peduli," jawab Taehyung. Dia memilih untuk pergi daripada mendengarkan permintaan gila mereka.
"Kau melangkah pergi, itu artinya kau menyerahkan nyawa keluargamu. Jangan anggap aku bercanda, karena aku akan pastikan kau tidak akan bahagia karena ulahmu sendiri," tegas Gyeong dengan kesal Dia berani mengancam pemimpin Mafia Kelas Kakap seperti Taehyung. Terdengar lucu memang, tapi bisa apa Taehyung saat keluarganya yang melawan.
Tak ingin peduli, Taehyung benar-benar melangkah pergi. Biar saja mereka ingin melukai keluarganya, tugas Taehyung memang harua menjaga Ha Seul dan juga Taeri dari mereka
"Kau tidak bisa mengambil apa yang ayahmu sudah berikan. Kita sudah mulai bekerja sama dengan baik bersama mereka. Kartu matimu ada pada mereka, jadi akan percuma saja," jelas Jimin. Ide gila saat kemauan itu akan Taehyung kabulkan.
"Aku tidak ingin membahasnya. Kepalaku sudah cukup sakit karena mereka, aku tidak ingin kepalaku menjadi pecah karena mereka. Terserah bagaimana mereka saja. Jaga Ha Seul dan Taeri untukku. Jangan biarkan mereka terluka."
Taehyung memilih memejamkan mata daripada terus memikirkan apa yang mereka katakan. Mengancam dirinya akan percuma saja, karena dia sendiri terkenal sadis saat melawan musuhnya.
Sesampainya di rumah, Taehyung langsung memejamkan mata. Tidak menjelaskan apapun pada Ha Seul yang menunggunya sejak tadi dengan perasaan khawatir. Dia membuka pakaian bagian atas dan tidur tengkurap, tak ingin memikirkan masalah keluarganya lagi.
Ha Seul berjalan perlahan dan duduk di samping Taehyung yang sudah memejamkan mata. Dia mengusap rambut suaminya, berharap Taehyung menjelaskan apa yang terjadi. Dia bahkan tidak menanyakan Taeri, pasti ada yang mengganggu pikirannya.
"Aku lelah sekali. Bangun kan saat akan makan malam," ucap Taehyung tanpa ingin menatap isterinya.
Ha Seul tak mau memaksanya. Dia memilih pergi setelah menyelimuti sebagian tubuh suaminya. Di ruang tengah apartemen Taehyung, terlihat Taeri bersama Jimin dan J-Hope sedang bercanda. Ingin dia bertanya apa yang terjadi pada mereka, tapi tidak mungkin mereka mengatakannya.
"Ibu, apa Ayah sakit? Kenapa Ayah langsung tidur?" Pertanyaan Taeri membuyarkan lamunan Ha Seul. Dia langsung tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Ayah hanya lelah. Ibu akan siapkan makan malam. Bermain di sini bersama Paman," jelas Ha Seul dengan bahasa isyarat.
Ha Seul memilih untuk menyiapkan makan malam saja daripada bosan berdiam diri. Tengah asyik memasak ponselnya berbunyi ada pesan masuk. Dengan segera Ha Seul membukanya sambil menunggu masakan yang ada di atas kompor matang.
Pyarr
Ha Seul menjatuhkan piring yang ada di sampingnya. Dia terkejut saat melihat dengan sesama video yang dikirim oleh seseorang dengan nomor baru. Sebuah video yang ingin dia lupakan karena rasanya akan sangat sakit saat mengingatnya.
"Ada apa?" tanya Jimin yang langsung berjalan ke arah dapur saat mendengar suara sesuatu yang jatuh. Dia melihat Ha Seul menatap dengan mata yang sudah basah karena air mata dan tangan yang bergetar.
"Apa kau terluka?" tanya Jimin. Dia coba membersihkan pecahan yang ada di lantai agar tidak mengenai kaki Ha Seul yang hanya diam.
"Op-pa." Suara Ha Seul keluar saat tubuhnya melorot ke lantai.
Karena penasaran dengan yang Ha Seul lihat, Jimin coba mengambil ponsel Ha Seul dan memutar video itu. Dan dia dibuat terkejut dengan video di mana orang tua Ha Seul terbunuh karena seseorang.
"Ha Seul aa, kau bisa mendengarku?" tanya Jimin.
Namun, Ha Seul tidak menjawab. Dia hanya diam sambil menangis. Dia juga tidak peduli saat Jimin menatapnya khawatir. Dengan segera Jimin mengangkat tubuh Ha Seul karena keringat dingin sudah terlihat di wajahnya.
"Hyung matikan kompor itu. Dan bawa Taeri ke kamarnya," ucap Jimin dan segera membawa Ha Seul ke kamar Taehyung.
Sebelum Taeri melihat Jimin menggendong ibunya, Jimin membawa Ha Seul ke kamar. Dengan cepat dia segera masuk dan melihat Taehyung berbaring di tempat tidurnya.
"Tae ... bangunlah. Dia sedang mengalami traumanya," ujar Jimin yang segera membaringkan Ha Seul yang mulai memejamkan mata.
"Tae!" Jimin sedikit meninggikan panggilannya saat Taehyung tidak menjawab karena dia juga baru terlelap.
Perlahan mata Taehyung terbuka dengan kepala berdenyut karena baru juga tidur. Dia terkejut melihat Ha Seul pingsan di sampingnya. "Ada apa ini?" tanya Taehyung bingung.
"Lihatlah, aku panggilkan Dokter untuknya." Jimin menyerahkan ponsel Ha Seul pada Taehyung yang langsung memutar video itu.
Tanpa pikir panjang, Taehyung coba menghubungi nomor itu dan langsung dijawab. "Siapa kau? Darimana kau dapat video itu?" tanya Taehyung dengan tegas.
"Aku pikir ini akan membuatnya ingat jika keluarganya mati dengan cara yang tragis," jawabnya tanpa rasa bersalah. Dia juga tertawa puas. Karena saat Taehyung yang menghubungi itu artinya dia berhasil.
"Apa ini cara paling efektif yang bisa kau lakukan untuk istriku, Hyung?" tanya Taehyung. Dia tau siapa yang coba meneror Ha Seul dengan video itu.
"Ini belum seberapa. Kau akan melihat lebih dari ini saat kau tetap pada keputusanmu," jawabnya. Setelahnya dia mematikan sambungan telepon begitu saja.
"Akhh!!!" Teriak Taehyung yang kesal dengan rencana kotor Suga dan Gyeong yang mengincar Ha Seul agar dia tersudutkan.
Bagaimana pun harusnya memang tidak bisa Taehyung menarik istrinya dalam bisnis yang sedang mereka rencanakan. Tapi tetap saja keluarga kecil Taehyung menjadi taruhannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight (MAFIA-KTH)
FanficKetua genk Mafia yang jatuh cinta pada wanita tuna wicara. Tanpa memandang kekurangan itu, Ketua Genk Mafia itu dengan sangat tulus mencintanya, sayangnya, semua itu berantakan ketika wanitanya memilih mengakhiri hubungannya karena merasa dibohongi...
