39

26 2 0
                                        

Taehyung hanya menghela nafas. Dia membuat putrinya tidak nyaman. Itu yang membuatnya ingin pulang ke rumah lamanya.

"Ibu, Taeri mau pulang saja. Taeri tidak mau tinggal bersama Tuan Aneh lagi." Dia memeluk ibunya yang coba menenangkan dirinya. Dia tak menatap Taehyung yang masih duduk di tempat yang sama.

"Maaf, Nak. Ayah hanya--"

"Tidak mau. Aku mau pulang. Tidak tinggal di sini lagi." Dia menjelaskan sambil menangis keras dalam pelukan ibunya.

Taehyung coba berjalan ke arahnya, namun Ha Seul menggendong putrinya dan menggeleng pelan. Isyarat agar Taehyung tidak mendekat, apalagi dia sedang mabuk. Ha Seul memilih untuk pergi dari sana, meninggalkan Taehyung yang meluapkan emosinya setelah Ha Seul keluar.

"Ada apa?" tanya J-Hope yang berpapasan dengan Ha Seul saat mendengar keributan di ruang kerja Taehyung.

Ha Seul hanya menggeleng dan pergi. Tak ingin putrinya mendengar apa yang sedang terjadi di dalam. Benda jatuh terdengar dari dalam, namun Ha Seul tidak ingin peduli karena itu semua Taehyung yang melakukannya dengan sengaja.

Dia memilih untuk mengajak Taeri keluar apartemen. Ada beberapa penjaga yang mengikuti mereka. Sampai mereka bertemu dengan Jimin saat akan keluar Lift.

"Kalian mau ke mana?" tanya Jimin.

"Paman, antarkan Taeri pulang ke rumah lama. Tuan Aneh tidak sayang lagi pada kita." Adunya pada Jimin yang menatap Ha Seul yang hanya diam.

"Nanti kalau Ayah mencari bagaimana?" Jimin coba menghentikan mereka. Tidak mungkin dia mengantarkan mereka kembali ke rumah lamanya.

"Tuan Aneh membuat Ibu menangis. Tuan Aneh tidak sayang lagi pada kita," sahutnya dengan polos.

"Sebaiknya masuk lagi saja. Ini sudah malam," jawab Jimin.

Ha Seul menggeleng, dia tetap ingin pergi. Dia tidak ingin putrinya melihat Taehyung sedang mengamuk. "Ha Seul ssi, tolong tetaplah tinggal." Ha Seul bingung harus menjawab apa saat dia tidak bisa menjelaskan semuanya. Pengawal yang mengikuti Ha Seul kemudian memberitahu Jimin apa yang terjadi.

Jimin menatap Ha Seul dan putrinya. "Mau ke rumah Paman? Hari sudah malam, tidak bisa pulang di malam seperti ini," bujuk Jimin.

"Tidak. Taeri ingin pulang ke rumah lama," jawabnya. Dia bersikeras ingin pulang. Tak ingin bersama Taehyung yang sedang marah.

"Jalanan begitu gelap. Paman takut jika harus mengantarkan pulang sekarang. Besok pagi saja ya? Sekarang kita pulang ke rumah Paman, tidak apa-apa kan?" Jimin tidak bisa memaksa mereka kembali ke apartemen saat Taehyung sedang ngamuk.

Malam itu mereka kemudian tinggal di rumah Jimin yang tidak begitu jauh dari apartemen Taehyung. Dalam gendongan, Taeri masih menangis, dia merasa jika Taehyung jahat padanya. Dia tidak tau saja karena sikap Taehyung begitu hangat padanya.

"Ibu, kita besok pagi pulang kan?" Sambil berbaring di tempat tidur di apartemen Jimin, dia kembali bertanya pada Ha Seul.

"Ayah sedang lelah, jadi mudah marah. Tapi Ayah sayang pada kita. Dia akan bersedih jika kita pulang, besok kita pulang ke rumah Ayah ya?" Ha Seul coba membujuk putrinya agar mau kembali ke rumah Taehyung. Walau hatinya juga sakit, dia tidak ingin Taeri membenci ayahnya. Dia belum mengerti apa-apa, yang dia tau apa yang dia lihat.

"Tapi kenapa Ayah membuat Ibu menangis. Dia juga tidak ingin bermain dengan Taeri. Bukankah itu artinya Ayah tidak lagi sayang kita?" Taeri bersembunyi dalam pelukan ibunya. Dia tidak ingik Taehyung menyakiti ibunya. Dia merasa sedih melihat ibunya menangis.

"Ibu tidak menangis. Hanya--"

"Lalu kenapa Ayah memecahkan gelas di ruangannya? Taeri ingin pulang ke rumah lama saja Ibu, tidak mau tinggal dengan Ayah." Kembali Taeri menangis dalam pelukan ibunya. Kali ini dia menangis sampai tertidur setelah banyak hal yang dikatakan tentang ayahnya.

Dia tidak sengaja melihat ibunya menangis saat bersama ayahnya. Itu yang membuat dirinya takut. Apalagi tadi sebelumnya, Taehyung terlihat marah.

Setelah putrinya tertidur, Ha Seul diam menatap jalanan dari balkon rumah Jimin. Walau tidak sebesar apartemen Taehyung, tapi untuk seseorang yang tinggal sendiri, apartemen Jimin besar. Air mata jatuh saat ingat sikap Taehyung padanya.

Padahal apa salahnya dia bertanya tentang tujuan Taehyung menyuruhnya untuk ke LA saat dia ada di sini. Jika untuk menghindari masalah, apa di LA menjamin? Ketika saat bersama Taehyung saja dia tidak aman.

"Apa dia sudah tidur?" tanya Jimin sambil membawakan selimut untuk Ha Seul yang masih di balkon sambil menangis.

Ha Seul segera menyeka kasar air mata yang membasahi pipi. Dia tidak berani untuk menatap Jimin yang ada di hadapannya. Dia hanya mengambil selimut itu dengan tertunduk malu.

"Dia sudah tenang, jangan pikirkan. Dia selalu seperti itu saat mendapatkan masalah. Apalagi di depan mata, kau akan celaka ketika bersamanya. Lakukan saja apa yang dia mau, itu juga untuk kebaikanmu sendiri." Ha Seul tetap diam. Jimin sendiri ikut berdiri di sampingnya.

"Sebaiknya kau istirahat. Besok kembalilah, aku akan coba membujuk Taeri agar mau bertemu dengan ayahnya," imbuh Jimin.

Ha Seul menarik lengan Jimin dan menuliskan pada telapak tangan Jimin. "Apa dia mabuk sekarang?" tanya Ha Seul.

Jimin mengangguk pelan. "Bisakah aku titip Taeri? Aku ingin menemuinya," ujar Ha Seul.

"Tetaplah di sini. Dia tidak akan mengampunimu jika kau membuatnya marah," balas Jimin.

"Maksudku bertemu dengan Tuan Suga," ucap Ha Seul.

"Untuk apa? Tidak. Aku tidak membolehkannya. Tuan Taehyung hanya akan marah saat kau bertemu dengannya," jelas Jimin. Dia coba mengartikan dengan benar tulisan di tangannya.

"Hanya sebentar saja," pinta Ha Seul.

"Sebaiknya kau tidur. Aku tidak ingin masalah ini semakin melebar saat Tuan Taehyung tau kau bertemu dengannya. Dia berusaha untuk tenang beberapa waktu ini, ketika dia sebenarnya bisa menghabisi keluarganya dengan mudah. Tolong untuk tetap tenang untuk sekarang. Kita ikuti apa yang mereka mau. Kau harus hati-hati untuk itu," jelas Jimin.

"Aku merasa posisiku salah datang ke sini. Aku hanya menjadi umpan agar mereka bisa mencelakainya. Dia semakin tertekan adanya diriku. Apa sebaiknya memang aku pergi saja?" Ha Seul merasa menjadi kelemahan Taehyung. Dia tidak bisa berbuat apapun selain membebani Taehyung.

Namun, apa yang menjadi pilihannya sekarang juga untuk kebahagian putrinya. Dia membutuhkan sosok ayah. Dia tidak boleh keras kepala untuk putrinya. Tapi, jika seperti ini, dia hanya akan menjadi beban saja.

"Kau harus tenang saat ingin membantunya. Lakukan saja apa yang dia mau," ucap Jimin.

"Jika aku harus pergi ke LA bersama putriku, aku tidak mau. Lebih baik aku pergi saja daripada terus membuatnya tertekan. Aku hanya ingin ada untuknya walau itu sulit untukku. Apa di sana aku akan aman saat bersama Tae Oppa saja aku tidak aman. Keputusannku akan tetap sama. Pergi atau memaksa ke LA," tegas Ha Seul.

Moonlight (MAFIA-KTH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang