Taehyung yang tau orang itu akan masuk mobil segera berlari menghalanginya. Coba merebut putrinya dengan menendang kaki pria itu. Namun, beberapa orang keluar dari mobil dan memukul Taehyung yang hanya seorang diri. Dia bersikeras untuk merebut Taeri dari pria itu. Memegangi kaki pria itu agar tidak pergi. Tidak peduli jika dia harus babak belur. Saat diras lenggah, Taehyung menendang pria itu dan membuatnya melepaskan gendongan dan segera merebut putrinya. Dia meringkuk menutupi putrinya, membiarkan tubuhnya dipukuli oleh beberapa orang itu.
Tak hanya itu, mereka menyeret kaki Taehyung dengan posisi Taeri berada dalam gendongan Taehyung. Tak melepaskan darinya yang terus dipukuli. Dia tidak bisa melawan karena kalah jumlah, jika dia melawan yang ada dia harus membiarkan Taeri sendiri. Apalagi mobilnya jauh dari sana.
Satu pukulan mendarat ke kepala Taehyung hingga darah mengalir dari pukulan itu. Menggunakan tongkat, mereka memukul tubuh Taehyung, tidak hanya itu. Dia juga menendang tubuh Taehyung yang meringkuk melindungi Taeri.
Hingga tak beberapa lama, anak buah Taehyung datang. Mereka melihat tuanyan sedang dikeroyok oleh banyak orang yang ingin mengambil Taeri darinya.
"Jangan menangis, Ayah tidak apa-apa," ucapnya dengan suara lemah. Dia tersenyum dibalik rasa sakit yang menjalar ditubuhnya.
Taeri tampak ketakutan dengan menggenggam erat kemeja ayahnya. Dia juga tak hentinya menangis. Saat anak buah Taehyung datang, dibantu J-Hope, dia berjalan ke mobil. Hal seperti ini yang mereka takutkan. Bukan Taehyung tak bisa melawnanya. Takut Taeri menjadi trauma.
"Kita ke rumah sakit. Kepalamu terus mengeluarkan darah," ujar J-Hope.
"Kita pulang. Dia ketakutan," jawab Taehyung dengan memeluk erat tubuh putrinya yang bergetar ketakutan.
Taehyung memilih pergi walau dirinya babak belur. Dia tidak mau Taeri terus menangis ketakutan. Dan sesampainya di rumah, Taehyung dibantu Dokter mengobati kepalanya yang terluka. Harus menutup lukanya dengan 10 jahitan karena dalamnya luka. Dengan posisi duduk, Taehyung menahan rasa sakit dengan diam dan memejamkan mata.
Dia dekat Taehyung ada Ha Seul yang menatapnya khawatir. Ada Taeri juga dalam gendongan, dia masih menangis sesampainya di rumah. "Tenanglah, Nak. Ayah baik-baik saja," ucap Taehyung dengan posisi yang sama. Setelah kepala bagian belakangnya di balut perban. Taehyung segera menggendong Taeri yang masih menangis.
"Siapa mereka?" tanya Taehyung pada J-Hope.
"Suruhan Nyonya Gyeong." Taehyung tersenyum sinis dengan jawaban yang J-Hope katakan. Gyeong masih berusaha untuk mencelakai anak dan istrinya.
"Singkirkan mereka dan buat Ibu yang bertanggung jawab atas semua ini," pinta Taehyung.
J-Hope segera pergi setelah mendapat perintah dari tuannya. Di hadapan Taehyung yang sedang duduk dengan Taeri di pangkuannya ada Ha Seul yang menatapnya khawatir.
"Istirahatlah, dia juga tertidur di pangkuanmu," jelas Ha Seul dengan bahasa isyarat.
"Aku baik-baik saja. Jangan menangis, itu hanya akan membuatku lemah," sahut Taehyung.
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Ha Seul memeluk tubuh 2 orang yang berarti dalam hidupnya. Taehyung terluka dan itu membuatnya merasakan sakit.
"Aku harap kau mulai terbiasa dengan ini semua. Kuatlah untukku, saat kau lemah, aku juga akan lemah." Taehyung memegang pipi isterinya lembut dan tersenyum manis.
"Apa latihanmu berjalan lancar?" tanya Taehyung.
"Lama tidak Gym, rasanya sakit semua saat memulainya lagi. Tapi aku menikmatinya. Aku hanya malu karena merepotkan Tuan Jimin," ucapnya dengan bahasa isyarat.
"Tidak apa-apa. Sudah menjadi tugasnya menjagamu saat tidak denganku. Kau bisa mengatakan apapun padanya tanpa sungkan. Aku harap kau bisa belajar bela diri dari dia. Setidaknya saat mereka berbuat buruk bisa kau lawan. Aku rencananya besok ingin mengajakmu Boxing, tapi--"
"Tidak usah di pikirkan. Sekarang lebih baik kau istirahat. Biar aku membantunya berbaring di tempat tidur." Ha Seul kemudian memindahkan Ha Seul ke atas tempat tidur dan kembali ke hadapan Taehyung untuk membantunya juga.
Namun, bukannya berdiri. Taehyung menarik lengan Ha Seul agar duduk di pangkuannya. Menyembunyikan kepalanya pada punggung Ha Seul yang ada di pangkuannya. "Aku hanya takut kalian terluka karena diriku," ucapnya.
"Aku ingin egois, tapi aku juga takut. Bukan kematianku yang aku takutkan, melainkan saat mereka berusaha melukaimu seperti ini. Aku ingin kau dan Taeri baik-baik saja." Dia memeluk erat isterinya dari belakang. Menyembunyikan kepala pada punggung Ha Seul yang hanya diam. Dia tau ini sulit untuk Taehyung. Apalagi musuh terbesarnya adalah keluarga sendiri.
"Mau mereka bicara banyak hal, tolong percayalah jika sampai kapanpun aku tetap mencintaimu. Kalian keluarga yang aku miliki. Tolong untuk baik-baik saja," timpa Taehyung.
Ha Seul membalikkan tubuh, duduk berhadapan dan mencium bibir Taehyung tanpa mengatakan apapun. Dia sendiri takut untuk meninggalkan Taehyung. Apalagi Taeri begitu bergantung pada ayahnya. Sejak mengenal Taehyung, dia selalu terlihat bahagia. Walau kekurangan darinya ada pada saat Taeri selalu takut saat melihat kekerasan yang menjadi kebiasaan untuk Taehyung.
"A-ku a-kan se-lalu ber-sama-mu," ucap Ha Seul. Ada perkembangan padanya. Jumlah kata yang keluar dari mulutnya semakin banyak. Namun, Taehyung tidak ingin dia memaksakannya.
Taehyung tersenyum dan semakin membuat tubuh Ha Seul lebih dekat dan memnciumnya. Namun, saat akan mencium lebih panas, Ha Seul menghindar. Kepalanya menoleh ke arah Taeri yang pulas di atas tempat tidurnya.
"Aku melupakan itu," jawab Taehyung.
"Sebaiknya kau istirahat." Ha Seul berdiri dan mengulurkan tangan agar Taehyung mengapainya dan menggandeng ke atas tempat tidurnya.
Ha Seul membiarkan Taehyung tertidur dengan menggenggam tangan isterinya yang diletakkan di dadanya. "Kita gagal makan malam hari ini. Maafkan aku," ucap Taehyung.
Ha Seul hanya menggeleng. Dia tidak bisa bicara saat tanganya digenggam erat oleh Taehyung. Sejenak suara hening, saat dua orang tersayang Ha Seul memejamkan mata. Taehyung terluka karena melindungi putrinya. Entah bagaimana nanti, pasti akan ada trauma untuknya karena kejadian tadi.
"Apa Tuan sudah tidur?" tanya Jimin.
"Sudah, apa Tuan Jimin menerlukan sesuatu?" Ha Seul balik bertanya. Dia menuliskan ucapannya pada notes yang selalu dia bawa.
"Tidak, hanya saja ada yang mencarinya di luar," jawab Jimin.
"Apa penting? Biar aku bangunkan," ucap Ha Seul lagi.
"Biar aku yang mengurusnya. Kasihan jika dia bangun, saat kepalanya terluka." Setelah mengatakannya, Jimin berjalan pergi. Dia tidak tega jika harus membangunkan Taehyung yang sedang istirahat, meskipun ini penting.
Terlihat di depan pintu Jimin sedang bicara pada seseorang yang mungkin dia maksud tadi. Pembicaraan mereka terlihat serius, sampai orang yang bersama Jimin menatap Ha Seul yang menatapnya juga. Dia tersenyum pads Ha Seul, namun tak lama Jimin menghalanginya ada tidak menatap Ha Seul. Entah siapa dia, tapi sepertinya hal yang serius dan Ha Seul belum pernah bertemu dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight (MAFIA-KTH)
FanfictionKetua genk Mafia yang jatuh cinta pada wanita tuna wicara. Tanpa memandang kekurangan itu, Ketua Genk Mafia itu dengan sangat tulus mencintanya, sayangnya, semua itu berantakan ketika wanitanya memilih mengakhiri hubungannya karena merasa dibohongi...
