Setelah sadar dari tidur panjangnya, Taehyung melemparkan nampan berisi makanan saat sedang bicara pada Jimin. Keteledoran Jimin membuat Ha Seul hampir celaka. Bagaimana 3 orang yang ada diluar membiarkan Suga masuk tanpa diketahui. Firasat Taehyung akan menghabisinya terjadi. Namun, memang itu kesalahan Jimin.
"Sebaiknya kita pulang," ujar Taehyung yang sudah bicara banyak pada Jimin.
Ha Seul segera duduk di samping Taehyung yang sedang emosi. Dia memberanikan diri untuk itu karena Taehyung akan melepaskan alat medisnya lagi. Dia segera memegang lengan Taehyung dan membuat suaminya itu menatap.
"Ingat kondisi Oppa. Aku baik-baik saja. Sudah jangan marah lagi, aku mohon." Ha Seul memeluk tubuh Taehyung setelah mengatakannya.
"Akh!!" teriak Taehyung kesal. Untung tidak terjadi apapun pada Ha Seul, jika sampai terjadi apa-apa. Dia akan menyalahkan diri.
Ha Seul kembali menatap Taehyung, coba menenangkan dengan caranya. Jimin memilih keluar setelah Ha Seul memintanya meninggalkan ruang rawat Taehyung.
"Kita pulang, bilang pada Dokter," pinta Taehyung.
"Tidak. Oppa harus istirahat di sini. Aku mohon sayang. Ingat kondisimu." Tangan Ha Seul mengusap pelan dada Taehyung. Berharap suaminya itu bisa tenang. Dengan bahasa isyarat yang dia katakan.
"Jika tidak becus, harusnya tidak perlu di sini. Biarkan semua orang mengkhianatiku. Aku tidak peduli, aku tidak pernah mereka anggap berguna," tutur Taehyung.
"Tuan Jimin tak sengaja melakukan itu, dia hanya--"
"Tinggalkan aku sendiri saat kau ingin membelanya. Aku khawatir padamu. Apa kau pikir Suga Hyung akan bermurah hati untuk kedua kalinya. Kesekian kali dia coba mencelakai kalian. Salahkah kalau aku marah?" Taehyung sungguh khawatir dengan kondisi Ha Seul, itu sebabnya dia begitu marah pada Jimin.
Mungkin saja jika bukan di rumah sakit, Taehyung sudah menghajarnya. Dengan kondisi yang sedang di atas tempat persakitan, dia tidak bisa berbuat apapun selain memarahi mereka.
"Tenanglah, Oppa. Ingat kondisi Oppa saja. Apa Oppa tidak ingin bertemu dengan Taeri? Aku mohon." Tangan Ha Seul menggenggam erat tangan Taehyung.
Taehyung menghela nafas dan memejamkan mata. Bersandar dengan tangan di genggam istrinya. "Aku ingin istirahat dia rumah, mau ataupun tidak kau membantuku bicara pada Dokter, aku tetap ingin pulang," ucap Taehyung dengan posisi yang sama. Dia melepaskan tangannya dari Ha Seul. Dia masih saja merasa kesal.
Ha Seul tidak bisa berbuat apalagi. Dia gagal membujuk Taehyung. Emosi membuatnya tetap ingin pulang. Entah apa yang akan dia lakukan, tapi Taehyung memaksa pulang.
Setelah diperbolehkan pulang, diperjalanan Taehyung hanya diam. Ha Seul juga tidak berani mengajaknya bicara. Jimin saja yang mengemudi juga diam. Tuannya itu sedang marah, dan jika seperti ini suasana rumah akan sangat tidak nyaman. Semoga saja Taeri bisa meluluhkan hati ayahnya.
Sampailah mereka di apartemen. Dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih, Taehyung masuk apartemen seorang diri. Meninggalkan Ha Seul yang segera mengikutinya masuk.
"Ayah sudah pulang. Taeri-"
"Ayah sedang sibuk, Nak. Bermainlah bersama Paman J-Hope." Taehyung berjalan ke ruang kerjanya. Dia tidak ingin Taeri menjadi pelampiasannya.
"Ibu, apa Ayah marah?" Taeri segera menghampiri ibunya dan bertanya kenapa Taehyung tidak menghiarukannya.
"Ayah sedang lelah. Ayah tidak marah," jawabnya pada Taeri.
Taeri hanya mengangguk pelan mengiyakan apa yang ibunya katakan. Sikap Taehyung berbeda karena dia sedang menahan agar tidak meluapkan kekesalannya pada putrinya.
Setelah menemani putrinya sebentar, Ha Seul pergi ke menemui Taehyung yang sejak dari rumah sakit dia belum makan. Dia membawakan bubur untuknya. Saat berjalan ke arah Taehyung, dia menghela nafas kasar. Melihat Taehyung sedang ditemani oleh minuman keras yang harusnya dia tidak mengkonsumsi itu lagi.
Perlahan Ha Seul meletakkan nampan itu di depan Taehyung yang sedang bicara di telepon. Taehyung menatapnya, namun fokusnya masih pada seseorang yang menghubunginya. Saat Ha Seul akan meninggalkannya Taehyung membawanya ke pangkuan. Membiarkan duduk di pangkuan dan bicara dengan seseorang yang ada di sambungan telepon.
"Aku hubungi lagi nanti." Ucapan terakhir sebelum dia menutup sambungan teleponnya.
Ha Seul sudah menatap Taehyung yang tersenyum padanya. "Makanlah," jelas Ha Seul dengan bahasa isyarat.
"Kau tidak ingin menyuapi suamimu?" Sepertinya amarah Taehyung sudah luluh. Dia selalu berhasil tenang dengan minuman keras, dan itu yang tidak Ha Seul suka.
"Setelah makan kita coba latihan bela diri. Aku tak ingin kau hanya diam saat ada yang menyudutkanmu," imbuh Taehyung.
"Tapi--" Belum menyelesaikan ucapannya. Taehyung menggapai tangan Ha Seul agar tidak menjelaskan apa yang ingin dia katakan. Dia mengarahkan tangan istrinya pada nampan berisi bubur itu.
Daripada mood Taehyung kembali buruk, Ha Seul hanya mengiyakan saja. Dia menyuapi suaminya tanpa banyak bicara.
"Apa Taeri sudah tidur?" tanya Taehyung memecahkan keheningan. Ha Seul menggeleng pelan pertanyaan suaminya.
"Lusa ikut bersama J-Hope Hyung ke LA. Tinggallah di sana bersama Taeri. Aku tidak mau kau di sini dan membuatmu celaka. Aku selesaikan urusan di sini setelahnya aku akan menyusulmu." Ha Seul menghentikan ucapannya saat mendengar ucapan suaminya. Kenapa harus pindah saat dia merasa aman dekat Taehyung.
"Apa ini karena kejadian kemarin? Tidak bisakah di sini saja. Aku tidak mau harus tinggal jauh dari Oppa," jelas Ha Seul dengan bahasa isyarat.
"Aku tidak akan lama. Setelah selesai aku akan menyusul kalian," sahut Taehyung.
"Memangnya apa yang akan di selesaikan? Apa Oppa akan menghabisi keluarga Oppa sendiri?" Pertanyaan Ha Seul membuat Taehyung diam.
Ha Seul beranjak, dia akan pergi saat Taehyung membuatnya duduk di meja kerjanya dengan satu tarikan. Dia memegang dagu istrinya dan menatapnya lebih dekat. "Jika aku harus membunuh semua orang untuk melindungi keluargaku, lantas apa yang salah." Tatapan dingin dari Taehyung tergambar jelas dia memiliki sifat yang berbeda dari biasanya bersama Taeri.
"Semua aku lakukan untuk melindungmu," imbuh Taehyung, membiarkan Ha Seul sudah meneteskan air mata dengan sikap yang Taehyung perlihatkan padanya.
Sifat seseorang memang tidak akan bisa berubah saat bukan dia sendiri yang merubahnya. Apalagi efek dari minum akan membuat orang itu hilang akal.
Taehyung tertunduk di hadapan Ha Seul yang duduk di atas meja. Otaknya tidak bisa berpikir dengan benar saat Suga melakukan dengan berani untuk menyudutkan Taehyung.
"Aku menjadi sangat kasar saat aku marah. Apa ini yang dimaksdmud melindungi keluargaku saat aku sendiri yang menjadi penyebab luka hati itu," tuturnya. Dia beranjak dan duduk kembali ke kurso kerjanya. Menyandarkan tubuhnya dengan Ha Seul yang menangis menatapnya.
"Kenapa Ibu menangis? Apa Ayah nakal pada Ibu?" Suara Taeri membuat Ha Seul segera menyeka air matanya kasar. Dia menatap putrinya sudah berdiri di dekatnya tanpa dia sadari.
"Kenapa Ayah sekarang berbeda. Apa Ayah tidak sayang lagi pada kita? Apa kita mengganggu Ayah?" tanyanya polos.
"Bawa dia keluar, aku sedang tidak dalam kondisi baik," jawab Taehyung pada Ha Seul.
"Ibu, ayo kita pulang saja ke rumah lama kita," sahut Taeri yang ikut menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight (MAFIA-KTH)
Fiksi PenggemarKetua genk Mafia yang jatuh cinta pada wanita tuna wicara. Tanpa memandang kekurangan itu, Ketua Genk Mafia itu dengan sangat tulus mencintanya, sayangnya, semua itu berantakan ketika wanitanya memilih mengakhiri hubungannya karena merasa dibohongi...
