28

37 4 0
                                        

"Untuk apa kau di sini? Dan ke mana para pengawalku?" tanya Taehyung. Mereka berhadapan dengan orang itu yang datang dengan beberapa orang.

"Mereka aman, jadi tenanglah. Aku hanya ingin tau saja apa rencanamu datang ke sini? Jangan kau melakukan transaksi di sini saat kau tidak bicara padaku lebih dulu," jelas pria dengan tubuh tinggi besar dan banyak tatto di tububnya.

"Aku datang ke sini untuk berlibur. Tidak ada urusan apapun mengenai bisnis gelap," jawab Taehyung.

"Benarkah? Aku pikir kau tidak mungkin hanya berlibur saat kau mengincar seseorang," timpanya.

Taehyung tersenyum. Dia begitu santai menghadapi beberapa orang yang memegang senjata, kapan saja bisa menembakkan padanya. "Aku datang bersama istriku ke sini, jadi tidak perlu ada kekerasan di sini. Aku berkata jujur, jika aku di sini hanya berlibur. Mana berani aku melakukan transaksi saat kau lah pemimpin di sini," balas Taehyung dengan santainya. Dia tidak takut saat ada beberapa orang yang berdiri di hadapannya.

"Kalau begitu ajak istrimu keluar. Aku ingin berkenalan dengannya," ujarnya. Dengan tidak sopan, dia meminta Taehyung untuk bertemu dengan Ha Seul.

"Tidak akan. Urusanmu hanya denganku, tidak dengannya," jawab Taehyung.

"Kalau begitu biar anak buahku yang mencarinya." Pria yang ada di hadapan Taehyung meminta anak buahnya membawa Ha Seul keluar untuk memastikan apa yang Taehyung katakan benar.

Namun, Taehyung tidak membiarkannya. Dia menembak kaki anak buah lawan bicaranya. Suara tembakan teredam karena Taehyung tidak ingin putrinya mengalami trauma karena hal-hal seperti ini.

"Bawa mereka padaku sekarang, dan jangan ganggu istriku," ucap Taehyung. Maksudnya anak buah yang lawannya sekap.

"Kau tetap tidak pernah takut dengan lawanmu. Kau hanya seorang diri sekarang." Padahal Taehyung hanya sendiri, dia harus berusaha untuk melindungi anak dan istrinya.

Taehyung berpikir pasti ada yang memberitahu mereka, jika dia sedang berlibur di Malta. Tapi dia akan kalah saat lawannya benar-benar menyerang. Dia harus tetap tenang menghadapi beberapa orang yang berpikir dirinya datang untuk urusan bisnis gelap.

"Aku pikir Suga akan menjadi duri dalam kelompokmu. Dia yang memberitahuku jik kau di sini dengan mengatakan dirimu sedang melakukan transaksi gelap. Bukankah menguntungkan jika aku ikut di dalamnya." Taehyung sudah menduga, jika Suga yang mengadukan posisinya pada lawan bicara Taehyung sekarang.

"Aku tidak pernah menganggapnya duri, bagaimanapun dia keluargaku. Aku rasa dia yang berhutang padamu, apa dia sudah membayarnya? Kau percaya pada orang yang menghabisi saudaramu," ujar Taehyung dengan senyum tipis.

"Sudahlah, bawa dia," pintanya pada beberapa anak buah untuk membawa Taehyung.

Walau kalah jumlah, Taehyung tetap melawan mereka satu-persatu. Tembakan membuat mereka lumpuh, dia tidak berpindah dari tempatnya duduk. Dia juga tidak takut untuk melukai lawannya.

"Untuk apa aku ikut denganmu. Jika kau merasa kedatanganku ancaman untukmu, aku akan pergi," jelas Taehyung.

"Aku mau kau segera kembali ke negaramu, dan jangan pernah datang untuk membuat onar di sini," ucapnya.

"Aku pikir kau yang datang membuat onar, dan aku ingatkan padamu. Kau tidak memiliki kuasa atas area ini. Kau hanya di suruh seseorang untuk mengusirku. Katakan pada Suga, jika aku akan pulang tanpa kau harus memaksa menyeretku keluar dari sini," balas Taehyung. Sepenting apa masalah yang mereka hadapi sampai harus Taehyung turun tangan. Pikir Taehyung, saat mereka yang mulai, mereka juga yang harus menanggung resikonya.

Setelah mereka pergi, Jimin dan beberapa pengawal pribadi Taehyung datang. Mereka merasa bersalah membiarkan Taehyung sendiri.

"Sudahlah, bereskan ini sebelum kita pulang. Aku tidak mau anak istriku melihat darah yang bercecer di sini," ujar Taehyung setelahnya dia pergi untuk menemui mereka di kamar.

Di dalam kamar, Taehyung langsung ke kamar mandi. Taeri hanya diam bersama ibunya di atas tempat tidur. Mereka tidak berani untuk menegur Taehyung yang tampak serius, mereka tidak tau apa yang terjadi, tapi pasti ada masalah hingga membuat Taehyung menyuruh mereka bersembunyi.

Tak lama Taehyung berjalan ke atas tempat tidur, berbaring di pangkuan istrinya dan menatap Taeri yang menatapnya takut. Dia belum terbiasa akan semua yang Taehyung lakukan.

"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?" tanya Taehyung.

"Apa Ayah sedang marah?" tanyanya dengan ragu-ragu.

"Memangnya kenapa Ayah harus marah? Ayah tidak marah. Mau jalan-jalan sebelum nanti malam pulang?" Taehyung kali ini duduk dan menatap mereka.

"Pulang? Bukankah masih mau main besok pagi. Kenapa pulang, Ayah?" tanya Taeri dengan wajah sedih.

"Ada pekerjaan yang mendesak, dan Ayah harus segera pulang. Lusa kita bermain ke taman hiburan di Korea. Sekarang kita pulang saja," bujuk Taehyung.

Ha Seul hanya menatap suaminya yang sedang bernegosiasi dengan anaknya. Karena rencananya besok masih ingin naik kapal dan memancing, tapi ayahnya malah membatalkannya.

"Ya sudah," jawabnya sambil tertunduk.

Taehyung menatap Ha Seul, dia membuat putrinya sedih. "Sayang, tidak apa kita pulang saja. Ibu merasa bosan di sini. Tidak nyaman seperti di Korea," bujuk Ha Seul dengan bahasa isyarat.

"Baiklah kita pulang, tapi Ayah tidak marah kan?" Dia menatap Taehyung yang ada di hadapannya.

"Tentu tidak." Taehyung memeluk tubuh putrinya dan mengelitiki sampai tertawa karena ulah ayahnya. Mencairkan ketegangan dengan bercanda menjadi obat untuk Taehyung sekarang. Biarkan keluarganya menentang tapi ada mereka berdua dan orang yang mempercayainya, itu sudah cukup walau hanya beberapa saja.

Malam itu juga mereka kembali ke Korea. Memakan waktu yang panjang untuk sampai di Korea. Taehyung banyak diam di pesawat, otaknya sedang memikirkan apa yang sudah mereka lakukan hingga dia harus dipaksa pulang.

Dan sesampainya di Korea, mereka segera ke apartemen. Taehyung tidak turun dari mobil. Dia hanya mengantarkan anak dan istrinya agar bisa langsung ke menemui Suga di rumah. Ha Seul menggenggam erat tangan Taehyung sebelum pergi dia juga mencium bibir suaminya singkat. Tidak ada obrolan yang penting diantara mereka, Taehyung hanya tersenyum pada istrinya.

"Hati-hati," jelasnya dengan bahas isyarat. Taehyung menangguk dan memeluk tubuh istrinya.

Setelahnya dia langsung bertemu dengan Suga. Dia sudah curiga ini ada hubungannya dengan Jungkook dan ibunya. Benar saja, saat sampai di rumah, mereka langsung menyergap Taehyung dengan pertanyaan yang mengintimidasi. Apalagi mereka berharap Taehyung melakukan apa yang pihak lawannya mau.

"Kenapa kalian malah membuatku yang harus bertanggung jawab atas apa yang kalian rencanakan. Sebenarnya aku ini apa di mata kalian? Aku tidak merasa menyetujui apa yang kalian mau, jadi ini bukan tanggung jawabku," tutur Taehyung. Dia tidak setuju akan permintaan mereka.

"Kau yang memiliki semua ini, dan tanggung jawabmu sebagai pemimpin untuk membuat pekerjaan itu berhasil. Ini tidak akan berhasil tanpamu, jadi kau yang harus melakukannya," sahut Gyeong tanpa merasa bersalah ini semua kesalahannya.

"Apa untungnya diriku melakukan ini. Kalian dengan seenaknya sendiri membuatku datang dan memerintah apa yang kalian mau saat kalian tau posisiku," timpa Taehyung. Dia merasa bukan seorang pemimpin saat berhadapan dengan mereka.

"Sudah tidak perlu banyak bicara, lakukan saja. Aku tidak meminta dirimu mati, hanya menyetujui apa yang mereka mau," ucap Gyeong.

Taehyung tersenyum tipis. Tidak mencelakai bagaimana jika dia harus mengambil hal yang sudah jelas bukan hak milik mereka, apalagi perjanjian tertulis, tidak akan lagi ada pengambilan kekuasan dari pihak ketiga, seperti perjanjian bersama Seokjin.

"Kalian menyerahkan nyawaku untuk merebut itu lagi," jawab Taehyung.

Moonlight (MAFIA-KTH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang