34

34 3 0
                                        

"Tidak mau, Ibu. Tidak," teriak Taeri pada sang Ibu yang coba untuk membujuknya makan. Dia bangun lebih dulu daripada Taehyung yang masih terlelap. Mereka terlelap sampai pagi dan melewatkan makan malam, itu sebabnya Ha Seul memaksa putrinya untuk sarapan sekarang.

"Taeri aa, Ayah sedang tidur. Tidak bisakah bicara baik-baik, Nak," jelas Ha Seul dengan bahasa isyarat. Dia membuat putrinya menatap dirinya.

"Tapi Taeri tidak mau makan, Ibu," jawab Taeri, kali ini dia mengatakannya dengan tangis yang pecah.

Ha Seul hanya menghela nafas pelan melihat tingkah putrinya. Padahal dia ingin menyuapi saja, bukan mengajaknya berkelahi. Tapi seisi apartemen ricuh karena tangis Taeri. Bahkan Jimin ikut membujuknya agar mau makan, namun tetap tidak mau.

"Ada apa ini?" Suara berat itu membuat Taeri menatap seseorang yang akan membantunya dari Ha Seul.

"Ayah!!" Taeri berlari ke arah Taehyung yang ada di tangga. Bersembunyi di balik tubuh ayahnya.

Terlihat Ha Seul menyerah saat Taeri tetap tidak mau makan. Taehyung menganggukkan kepala sambil menatap Taeri dan membawanya ke meja makan. "Makan sambil duduk. Kasihan Ibu, harus berlari ke sana ke sini agar Taeri makan." Taehyung memposisikan putrinya di kursi dan mengambil sarapan yang Ha Seul bawa.

"Cepat makan. Ayah akan marah jika Taeri tidak makan," timpa Taehyung.

Taeri langsung menatap ayahnya. Bukannya menakuti, Taehyung malah tersenyum ke arah putrinya, dan mendapat balasanya senyuman yang sama dari bibir Taeri. Ha Seul mengendus kesal melihat mereka berdua. Dia duduk di samping Taehyung dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.

"Apa jadwalku hari ini?" tanya Taehyung pada Jimin yang sedang mengambil minum di dapur.

"Tidak ada. Aku mengosongkannya. Kau bisa istirahat saja," jawab Jimin.

"Baguslah kalau begitu. Aku hanya ingin tidur setelah ini," sahut Taehyung.

"Sebenarnya kemarin ada yang mencarimu." Jimin menatap Taehyung menyebutkan nama tanpa bersuara, membuat Taehyung menatapnya serius.

"Kau yakin menyuruhnya?" tanya Jimin.

"Dia akan memihak pada orang yang menguntungkan dirinya. Jika tidak, dia tidak mungkin mau melakukan tugas ini," balas Taehyung.

"Ya, tapi kau perlu hati-hati karena dia melirik istrimu," jelas Jimin.

Mendengar itu, Taehyung hanya tersenyum. Tidak kaget jika orang itu akan menggodanya, karena memang begitulah wataknya. Taehyung hanya perlu seseorang yang bisa memberinya informasi yang dia perlukan.

"Sayang, bolehkah aku bermain Drift?" Ha Seul menarik lengan Taehyung dan mengajaknya bicara. Dia sudah tidur sejak pagi setelah sarapan, sekarang jam menunjukkan pukul 3 siang dan dia masih setiap memejamkan mata.

Taeri sendiri baru tidur siang di kamarnya sendiri setelah dia bermain dengan anak buah ayahnya. Mulai sekarang dia akan belajar di rumah, Taehyung tidak membiarkan Taeri untuk pergi ke sekolah sebelum kondisinya benar-benar baik.

"Drift? Sudahlah, daripada bermain mobil. Lebih baik temani aku tidur saja." Taehyung menarik lengan Ha Seul hingga jatuh dalam dekapannya. Memeluk erat tubuh istrinya yang hanya diam, malah membalas pelukan dari sang suami.

"Kau masih bisa?" tanya Taehyung dan mendapatkan anggukan dari istrinya.

"Lusa saja ya. Hari ini tinggal saja di rumah, aku ingin kau menemaniku hari ini," pinta Taehyung.

Mendengar itu, Ha Seul menatap wajah pucat suaminya. Lukanya sedikit terasa sakit, membuat kepalanya berdenyut. "Kita ke rumah sakit saja?" tanya Ha Seul.

"Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja. Oh ya, apa Jimin tidak mengajarimu hari ini?" tanya Taehyung.

"Aku ingin Oppa yang mengajariku bela diri. Aku malu jika harus dengan Tuan Jimin saat Oppa sendiri bisa. Tidak perlu sekarang, nanti saja. Ya?" Ha Seul menatap Taehyung yang tersenyum dengan penjelasan istrinya. Dia memang belum sempat menemani Ha Seul belajar bela diri seperti keinginannya.

Taehyung diam dengan posisi berbaring, mengusap pipi Ha Seul dengan lembut. "Apa?" tanya Ha Seul.

"Tidak ada apa-apa. Hanya saja kenapa aku bisa jatuh cinta padamu begitu dalamnya. Aku merasa setengah nyawaku ada padamu saat ini," tutur Taehyung.

"Oppa beberapa hari ini selalu bicara yang tidak-tidak. Apa aku memberatkan Oppa?" tanya Ha Seul.

"Bukan begitu, hanya aku tidak ingin kau dsn Taeri terluka karenaku. Itu sebabnya aku ingin kau belajar bela diri. Setidaknya mengerti tentang mengoperasikan senjata akan membantumu untuk menggunakannya," balas Taehyung.

"Aku mau Oppa yang mengajarkannya. Aku merasa malu jika itu Tuan Jimin." Ha Seul jago mengemudi, Taehyung juga yang mengajarinya dulu. Namun, Taehyung berpikir memang itu skill yang Ha Seul miliki, dia hanya membantu untuk menyalurkan bakatnya.

Memiliki tubuh ideal dan wajah cantik membuat orang lain insecure melihat Ha Seul. Padahal dia memiliki kekurangan. Hal itu tidak membuatnya berkecil hati. Apalagi setelah melahirkan tubuhnya masih saja bagus. Walau bukan itu yang Taehyung lihat dari Ha Seul, karena saat itu hanya Ha Seul yang mengerti dirinya. Saat ayahnya menuntut banyak hal, dan dia harus melakukan apa yang menjadi kewajibannya.

Taehyung berusaha duduk dan bersandar di headboard tempat tidurnya. Menatap Ha Seul yang membuat hatinya bergetar saat dekat dengannya. "Aku tak percaya jika kau ini isteriku sekarang. Namun, aku berterima kasih kau membuka hatimu lagi untuk pria sepertiku," ucap Taehyung.

"Oppa selalu ada di hatiku, sampai kapanpun itu. Karena banyak yang kita lewat dulu selama berpacaran. Tidak hanya sebentar tapi 5 tahun kita bersama dan tinggal satu atap. Aku belajar banyak dari Oppa, walau akhirnya kenyataan membuatku terluka. Dan aku lebih mendengarkan orang lain, padahal aku percaya padamu," tutur Ha Seul.

"Sudahlah jangan bicarakan itu lagi. Kau hanya harus fokus pada dirimu. Buat dirimu mampu dan tidak takut. Karena kau harus terbiasa dengan hal semacam ini mulai sekarang. Maafkan aku menyeretmu ke pekerjaan yang buruk," sahut Taehyung.

"Aku selalu bersamamu, Oppa." Ha Seul memeluk tubuh suaminya. Bisa apa Ha Seul saat Taehyung kembali pergi darinya, karena kesempatan tidak bisa datang dua kali.

"Akh!" Rintih Taehyung saat tiba-tiba dadanya terasa sakit. Dia bahkan terbatuk dan sedikit memuntahkan darah dari sudut bibirnya.

"Oppa--" Taehyung segera memegang tangan Ha Seul saat istrinya itu terlihat khawatir.

"Aku bilang jangan terus minum. Ini yang akan terjadi saat Oppa terus minum dan merokok. Berhenti untuk itu, aku mohon," ucapnya sambil menatap Taehyung dengan mata berkaca-kaca.

"Jika kepalaku tidak sakit, aku sudah melampiaskannya padamu. Sayangnya aku tidak kuat untuk itu." Taehyung mengalihkan ucapan Ha Seul agar dia tidak merasa khawatir.

Ha Seul hanya diam. Menatap tajam ke arah Taehyung yang tersenyum padanya. Padahal dia sedang tidak sehat. "Jika nanti aku kalah dengan Ibu dan Suga Hyung. Aku harap kau yang bisa melanjutkan usaha ini."

"Teruskan saja bicara yang tidak-tidak. Aku akan pergi saja," sahut Ha Seul dengan bahasa isyarat.

"Baiklah, baik. Aku tidak akan bicara lagi. Aku hanya butuh tidur. Boleh aku memejamkan mata sekarang? Nanti saat aku tidak--" Belum menyelesaikan ucapannya, Ha Seul mencium bibir Taehyung yang membalasnya tak kalah panas. Walau baru saja Taehyung memuntahkan darah, tapi itu bukan apa-apa untuk Ha Seul.

Moonlight (MAFIA-KTH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang