41

27 2 0
                                        

Taehyung hampir terjatuh saat menggendong Ha Seul keluar mobil karena luka yang dia rasakan. Matanya saja tampak mengalir darah bercampur keringat karena luka di keningnya. Teriakan Taeri membuatnya tersadar, jika dia harus segera membawa Ha Seul berbaring keluar mobil.

"Op-pa," panggil Ha Seul lirih saat melihat suaminya penuh luka sedang menggendong ala brige style. Dia memeluk erat tubuh suaminya membiarkan darah mengenai dirinya.

Taehyung menurunkan Ha Seul di mana mobil Jimin berhenti. Dia membuat tubuh istrinya duduk di mobil. "Bawa ke rumah sakit, aku urus ini di sini," pinta Taehyung.

"Tapi kondisimu sedang tidak baik," sahut Jimin.

Tanpa peduli dengan yang Jimin katakan, Taehyung mengambil senjata laras panjang di bagasi mobilnya. Dia memasang peluru dan berjalan ke mobil anak buahnya. Entah ke mana dia akan pergi, dia tidak mengatakan apapun.

"Ayah," panggil Taeri saat ayahnya akan pergi. Ha Seul yang mulanya duduk langsung memegang lengan suaminya.

"Pergilah bersama Jimin. Aku temui nanti di rumah," ujar Taehyung.

"Ayah, maafkan Taeri," ucapnya sambil menangis.

Taehyung tersenyum manis dibalik darah yang menodai wajahnya. "Jangan marah lagi pada Ayah. Sekarang pulang dengan Ibu dan Paman. Ada yang harus Ayah lakukan sebelum pulang," tuturnya pada Taeri yang mala ingin ikut dengannya.

"Tidak. Ayah tidak boleh pergi. Taeri mau ikut Ayah saja." Taeri melingkarkan tangannya pada leher sang ayah. Tidak membiarkan ayahnya pergi dengan kondisi terluka.

Ha Seul memegang ujung baju Taehyung agar dia tidak pergi. Pasti dia akan melakukan hal yang tidak-tidak untuk membalas perlakuan ini pada orang yang bertanggung jawab.

Kembali Taehyung terbatuk dan memuntahkan darah, dan hampir mengenai Taeri yang ada di gendongannya. "Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kita pulang. Pastikan mereka yang kalian tangkap aman di tangan kalian." Taehyung memilih pulang. Membawa mobil Jimin yang mengurus sisa masalahnya dan memberikan senjata yang dia bawa pada Jimin.

Dia tidak bisa memaksa diri saat Taeri terus menangis dalam pelukannya. "Oppa, biar aku yang mengemudi," ucap Ha Seul saat Taehyung menatapnya.

"Tidak, biar aku. Takut mereka masih mengejar kita." Taehyung melajukan mobil ke arah apartemennya. Dia urung mengantarkan Taeri pulang ke rumah lama.

Dalam perjalanan, Taehyung menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia coba menghubungi seseorang yang bisa membantunya. Di sampingnya ada Ha Seul yang menatap khawatir dengan Taeri yang ada di pangkuannya. Dia sudah mulai tidur karena lelah menangis.

"Temui aku di apartemen, aku butuh kau mengurus sesuatu untukku. Kalau tidak kirimkan alamat untuk bertemu," ucap Taehyung. Setelahnya dia menutup sambungan telepon. Menatap sekilas Ha Seul sebelum dia fokus dengan kemudi. Dia menggenggam erat tangan Ha Seul yang terasa dingin, jujur saja dia takut. Bukan karena kejar-kejaran antar mobil sedan tadi. Melainkan tentang kondisi Taehyung. Dia terluka cukup parah, belum lagi luka gores di lengan kananya.

"Aku akan meninggalkanmu di apartemen sebentar. Aku akan segera kembali," ujar Taehyung.

"Mau ke mana?" tanya Ha Seul.

"Hanya bertemu dengan seseorang saja. Tidak akan lama, aku berjanji," sahut Taehyung.

"Tidak. Oppa tidak bisa pergi sendiri. Bukankah Tuan Jimin dan Tuan J-Hope masih di sana," jelasnya dengan bahasa isyarat.

"Aku harus menyelesaikannya, tidak bisa kita seperti ini terus. Aku tidak akan mati, karena mereka masih membutuhkan diriku, jadi dengarkan aku kali ini. Jangan membantah lagi," tutur Taehyung.

Jika dibiarkan masalah ini tidak akan selesai. Taehyung berencana untuk bertemu pemilik lahan yang Gyeong mau. Apa itu artinya dia menyerah dengan tekanan yang ibunya lakukan? Entahlah, dia tak pernah mengatakan rencananya pada Ha Seul.

Sesampainya di apartemen, Taehyung sempat masuk apartemen untuk mengganti bajunya dan mengikat lengan yang terus mengeluarkan darah. Dia juga membersihkan wajahnya yang penuh darah. Walau wajahnya pucat, tapi dia tetap dengan niatnya untuk menemui seseorang.

Senjata dia selipkan ke punggungnnya. Dia mengenakan jaket bomber hitam dan segera pergi setelah bersiap. Sebelum pergi, dia mencium lama kening Ha Seul yang sudah menangis karena tidak bisa melarang suaminya. Taeri saja tidak bisa melarangnya.

"Jaga mereka, jangan biarkan ada yang masuk. Setelah ini Jimin dan J-Hope pulang. Jangan biarkan mereka meninggalkan anak dan istriku, jika mereka pergi, kau yang akan menanggung resikonya." Taehyung pergi. Dia membawa mobil sport miliknya yang lain ke suatu tempat dia ada janji.

Setelah bertemu dengan orang yang ingin dia mintai tolong, Taehyung pergi untuk menemui Tuan Lee, pemilik tanah yang Gyeong inginkan. Dia datang sendiri tanpa takut aku celaka nantinya. Tidak ada yang menemaninya pergi selain orang yang membantunya bertemu dengan Tuan Lee.

"Ada urusan apa kau datang?" tanya Tuan Lee yang duduk di kursi roda untuk bertemu dengan Taehyung.

"Aku menginginkan apa yang Ayah berikan pada Anda. Sebagai gantinya Anda bisa meminta apa pun," jawab Taehyung. Dia sungguh meminta apa yang Gyeong mau. Padahal cara Taehyung membuat ibu tirinya itu tidak menerima apa yang menjadi kewajibannya akan membuatnya jera.

"Apa aku tidak salah dengar? Ayahmu sudah memberikanya dengan hitam di atas putih, kenapa kau memintanya lagi. Apa itu artinya kau mau membuat masalah baru?" tanya Tuan Lee.

"Tidak. Aku hanya berusaha untuk melindungi anak dan istriku dari orang yang menekanku hanya untuk mendapatkan lahan itu." Sepenting itu lahan yang Gyeong maksud sampai jadi rebutan.

"Apa peduliku. Aku sudah melakukan apa yang menjadi perjanjian kita dengan ayahmu," jawab Tuan Lee.

"Jika memang tidak diberikan, bisaka Anda membantuku?" Taehyung menjelaskan apa yang terjadi padanya, dan untuk apa dia meminta lahan yang sudah ayahnya berikan. Dengan sangat hati-hati dia coba untuk bicara.

"Lalu imbalannya apa saat kau mengingkari janjimu?" tanya Tuan Lee setelah mendengarkan niat Taehyung datang.

"Kepalaku sebagai gantinya. Aku hanya ingin Anda meminjamkan lahan itu saja, selebihnya jika ada kecurangan dari pihaknya, Anda bisa membunuhku," jelas Taehyung.

"Bagus juga jika kau memang mati, bukankah apa yang kau miliki tidak akan memiliki Tuan? Jadi, kita lakukan seperti rencanamu tadi, dan nyawamu yang menjadi taruhannya," tutur Tuan Lee. Hal itu sangatlah beresiko untuk Taehyung, saat Gyeong termakan dengan apa yang Taehyung lakukan, dia akan berhasil. Jika gagal dia yang akan mati.

Taehyung harus datang menemui ibu tirinya seorang diri dengan permintaan yang dia dapat dengan taruhan nyawanya. Dengan keyakinan hatinya, Taehyung pergi menemui ibu tirinya agar keluarganya terbebas dari ancaman mereka.

"Kau datang juga, Tuan Kim Taehyung," sapa seseorang saat Taehyung baru masuk.

Taehyung melemparkan berkas perjanjian yang isinya pemberian lahan yang Gyeong mau. Tak peduli orang yang di hadapannya lebih tua darinya atau tidak.

"Kau mendapatkannya. Bukankah cara seperti ini berhasil untukmu. Apa anak istriny baik-baik saja sekarang?" tanya Gyeong sambil melihat isi berkas itu.

"Baik selama kalian tidak mengganggunya. Oh ya, seperti permintaanku. Setelah kalian mendapatkan apa yang kalian minta, kalian bisa pergi dari sini," ucap Taehyung.

"Tidak semudah itu," bisik Suga dari belakang Taehyung yang sedang bicara.

"Akh!" rintihan lirih terdengar dari mulut Taehyung saat Suga menancapkan pisau tepat di punggung sebelah kiri Taehyung. Karena ada senjata di punggungnya, pisau itu tidak menancap begitu dalam.

"Bukankah tertusuk pisau itu sakit." Tanpa belas kasih, Suga menusukkan kembali pada bahu, seperti yang Taehyung lakukan pada dirinya dan dia biarkan pisau itu menancap begitu saja.

Moonlight (MAFIA-KTH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang