"Senang bertemu dengan Anda," ucap seseorang yang berdiri di depan Taehyung yang langsung menjawab tangannya sebelum orang itu pergi.
"Terima kasih untuk waktunya. Aku harap bisa menyelesaikan apa yang menjadi tujuan kita," jawab Taehyung.
Brakk!!
Terdengar suara saat Taehyung baru keluar dari ruang pertemuannya bersama klien. Beberapa orang berteriak. Musik yang awalnya berbunyi, seketika mati saat terlihat seseorang melemparkan sesuatu ke arah orang yang ada di lantai. Bahkan teriakannya membuat semua orang takut.
"Jungkook membuat onar di sana," bisik J-Hope pada Taehyung yang ingin tak peduli jika ada adiknya di sana.
"Antarkan beliau keluar," pinta Taehyung pada Jimin.
Setelah berpamitan, klien itu segera pergi sebelum Jungkook melihatnya. Dia berjalan ke arah di mana Jungkook sedang memaki seorang wanita.
"Kau itu mengerti apa! Kau hanya seorang pelacur," teriak Jungkook. Dia memberantakan apa yang ada di hadapannya. Tidak peduli jika lawannya itu seorang wanita.
Taehyung hanya berdiri tanpa ingin bicara pada adiknya itu. Dia ingin tau apa yang akan dilakukan lagi. Beberapa orang pergi saat melihat Taehyung yang duduk dan mulai menyulut rokok sambil menatap adiknya yang sedang mabuk.
"Dia memang Hyungku. Tapi tau apa kau tentang dia. Aku ini hanya adik tirinya. Kau tau itu, aku hanya adik tirinya saja. Dia yang selalu dipandang semua orang. Mereka selalu memandingkanku, apalagi ayah kita. Dia selalu menyebutku bodoh. Kau tau apa tentangnya? Dia itu hanya orang yang kejam," tuturnya tanpa sadar orang yang dia bicarakan sedang menatapnya.
Suasana Bar sudah sepi. Mereka semua keluar saat Taehyung datang. Seakan tau siapa Taehyung, mereka memilih untuk pergi. Karena akan percuma jika berurusan Taehyung, marahnya akan lebih dari Jungkook.
"Sebaiknya kau pergi. Gunakan ini untuk berobat. Kau tau yang harus kau lakukan. Cukup tutup mulut dan pergi dari sini. Obati lukamu," J-Hope memberikan selembar cek kosong pada wanita yang dihajar oleh Jungkook tanpa ampun.
Dengan bantuan temannya yang lain, wanita itu pergi dengan tubuh babak belur karena Jungkook menghajarnya tanpa ampun. Di sisi lain, Jungkook masih mengoceh sendiri. Dia tak hentinya menyalakan kakaknya atas semua yang menimpa hidupnya. Padahal dia memang bodoh saja, jika tidak bodoh tidak mungkin Seokjin terus memarahinya.
"Haruskah aku membawanya pulang?" tanya J-Hope pada Taehyung yang masih menikmati rokok dan juga minuman kerasnya.
"Biarkan dia melampiaskan sampai puas. Akan percuma kau memaksanya pulang saat dia masih seperti itu. Anak bodoh itu memang tidak pernah kapok dengan apa yang dia perbuat," ujar Taehyung.
Benar saja, Taehyung membiarkan Jungkook di sana menggerutu tentang dirinya yang dia anggap tidak sayang padanya. Padahal Taehyung begitu sayang padanya. Hanya saja Jungkook tertutup dengan rasa iri pada kakaknya yang dia pikir selalu di nomor satu kan oleh ayah mereka. Alasannya karena Taehyung memang mampu, tidak seperti Jungkook yang hanya ingin kesenangan saja.
"Hyung!! Kau di sini. Apa aku tidak salah melihatmu di sini? Aku sudah sangat mabuk rupanya." Jungkook menampar pipinya sendiri saat baru tau jika Taehyung ada di sana juga.
"Kau selesai meluapkan emosimu?" Taehyung beranjak dari tempatnya duduk dan berdiri di hadapan adinya.
"Ini memang kau," jawab Jungkook sambil tersenyum.
"Pulanglah bersama J-Hope, kau mabuk berat." Tanpa peduli dengan apa yang Jungkook katakan. Dia meminta Jungkook untuk pulang.
"Boleh aku pulang ke tempatmu saja? Agar bisa bertemu dengan Ha Seul. Kasihan dia, karena dirimu dia harus sengsara. Tapi jika dia bersamaku, Ibu tidak akan mengganggunnya. Berikan dia padaku, agar dia tetap aman." Jungkook mencengkram Jas yang Taehyung kenakan. Dia seakan ingin memukul wajah kakaknya.
"Sebaiknya aku mengantarkanmu pulang," timpa J-Hope.
"Tidak!! Aku ingin pergi ke tempat Hyung ku. Aku ingin bertemu dengan istrinya itu. Aku mencintai istrimu, Hyung. Harusnya kau ini mengalah. Kau selalu saja tidak mau kalah," ucap Jungkook. Dia terus saja mengerutu, padahal Taehyung tetap diam.
"Aku tidak akan meminta apapun asal kau berikan Ha Seul padaku. Kau tau, aku lebih dulu mengenalnya sebelum dirimu. Dia itu gadis yang aku temui karena ayahnya bekerja dengan Ibu." Taehyung menatap lekat Jungkook. Dia baru dengar kebenaran tentang ayah Ha Seul. Namun, apa benar yang Jungkook katakan.
"Aku hampir melupakannya karenamu. Jadi, biarkan dia bersamaku." Jungkook mendorong Taehyung yang masih diam.
"Jadi benar jika kematian orang tua Ha Seul adalah ulah ibumu," sahut Taehyung.
"Tentu. Dia itu penghianat, jadi harus mati. Penghianat harus mati," ucapnya tepat di wajah Taehyung.
"Ibumu itu salah target, kau membunuh orang yang salah," jelas Taehyung.
"Hyung tau apa. Kau ini hanyalah penjahat yang merebut semuanya dariku. Ya, kau ini orang terburuk yang pernah ada," balas Jungkook. Dia juga kembali mendorong kakaknya. Saat pengawal akan membantu, Taehyung tidak membiarkannya.
"Berikan senjatamu padaku," pinta Jungkook, namun J-Hope tidak memberikannya. Dia merasa tidak didengar, Jungkook melempari kakaknya dengan botol minuman keras yang tersisa. Lemparan itu mengenai kening Taehyung sampai darah mengalir dari luka ke wajahnya.
"Saat kau anggap dirimu baik, apa hal seperti ini baik menurutmu. Kau harus sadar, perlu waras untuk menjadi pemimpin. Saat kau hanya membuat ulah, apa yang akan kau dapat. Sebaiknya pulang dan istirahatlah," tutur Taehyung. Darah yang mengalir tidak dia pedulikan. Dia berjalan pergi setelah mengatakan itu pada Jungkook.
Taehyung meminta J-Hope untuk mengantarkannya. Namun, saat akan masuk ke mobil dia ingat jika datang dengan Supercar kesayangan kakaknya. Meski banyak mobil yang berjejer, tapi mobil yang sedang Jungkook pakai menjadi mobil kesayangan setelah Sportcar yang dia bawa ke apartemen.
Jungkook berusaha membuka pintu Supercar itu, tapi tidak bisa. Hingga dia yang kesal karena pintunya tak kunjung terbuka mengambil tongkat bassball yang dia lihat sebelum keluar. Dia menaiki bagian depan mobil dan memukul cap mobil itu dengan brutal di hadapan pemiliknya.
Taehyung hanya diam. Dia mengurungkan niat untuk masuk ke mobilnya. Melihat mobilnya di rusak oleh Jungkook. Mungkin uangnya bisa membeli Supercar itu banyak, namun kenangan yang ada di dalamnya begitu berharga. Tentang sejarah mobil itu, bukan nominal yang dia pikirkan.
"Turun dari sana!" pinta Jimin yang coba menarik lengan Jungkook agar berhenti memukul Supercar itu.
"Tidak!" Jimin hampir terkena pukulan saat memintanya turun. Sikapnya saat mabuk dia begitu buruk.
Karena Taehyung sudah hilang kesabaran dan mobil itu sudah hancur bagian depannya, dia coba menarik Jungkook kasar sampai adiknya itu terjatuh ke aspal. Mengambil tongkat basball dan melemparkannya begitu saja ke sisi kirinya.
"Kau pulang atau mau ku habisi di sini?" tanya Taehyung. Dia berbisik pada Jungkook yang menatapnya marah.
"Coba saja kalau Hyung--" Ucapannya terhenti saat Taehyung memukulnya hingga pingsan. Tak ingin masalah ini semakin panjang karena omelan Jungkook yang sedang mabuk.
"Bawa dia pulang. Katakan pada ibunya tentang apa yang terjadi dan bilang. Apa yang aku keluarkan sekarang akan menjadi hutangnya." Taehyung bersikap tega, saat mereka tidak menganggap dirinya keluarga, dia juga bersikap yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight (MAFIA-KTH)
FanfictionKetua genk Mafia yang jatuh cinta pada wanita tuna wicara. Tanpa memandang kekurangan itu, Ketua Genk Mafia itu dengan sangat tulus mencintanya, sayangnya, semua itu berantakan ketika wanitanya memilih mengakhiri hubungannya karena merasa dibohongi...
