"Aku—" Kembali Taehyung memuntahkan darah saat pisau itu tercabut dari tubuhnya. Suga sungguh kejam, tega menusuknya.
"Lihatlah dirimu, kau hanya datang untuk menghantarkan nyawa." Suga tersenyum melihat Taehyung yang terluka. Dia mengorbankan diri untuk keluarga kecilnya.
"Bukankah kalian yang minta, sekarang lebih baik kalian melakukan apa yang sudah kalian janjikan. Aku sudah memberikan apa yang kalian minta, jangan lagi mengganggu keluargaku," tegas Taehyung.
Taehyung mengusap sudut bibirnya, berusaha untuk tetap kuat sampai dia berhasil dengan rencananya. Tak lama datanglah Jungkook, dia tampak senang melihat kondisi kakaknya yang sedang babak belur.
"Kau melakukan ini hanya karena wanita? Aku pikir kau pintar, nyatanya kau bodoh, Hyung," ucap Jungkook.
"Tanda tangani ini dan kau bisa pergi. Kita akan lakukan seperti perjanjian kita," ujar Gyeong sambil menyerahkan berkas pada Taehyung.
"Kau juga harus menandatanganinya juga." Taehyung meminta Gyeong membuka surat perjanjian lahan itu dan menandatanganinya.
Dengan tangan penuh darah karena lengannya terluka, Taehyung mengambilnya dan menandatangani tanpa membaca lebih dulu. "Apa kau sudah dengan jelas membaca isi berkas itu?" tanya Suga yang melihat Taehyung baru menandatanganinya. Tetesan darah jatuh ke lembaran berkas itu.
"Aku tidak peduli apa isi berkas ini, yang aku mau jangan mengganggu anak dan istriku lagi," jawab Taehyung.
"Baiklah, kau memang bisa dipercaya dengan janji yang kau buat. Tapi kau tetap tidak bisa pergi dengan mudah." Suga menghampiri Taehyung dan menendangnya. Tubuh Taehyung yang sedang tidak baik, harus terjatuh karena tendangan itu.
Tidak hanya Suga, Jungkook juga ikut menghajar Taehyung tanpa mendapatkan perlawanan. Dia sungguh memberikan tubuhnya untuk mereka sampai merasa puas.
Taehyung tertunduk. Tubuhnya bertopang dengan satu tangan dan satu tangan yang lain memegang perutnya. "Apa ha-nya ini yang kalian bisa. Cuhhh," ucap Taehyung. Dia coba untuk bangun dan menatap mereka yang tertawa puas. Ludahnya hanya dominan darah.
"Kau merasa mampu saat dirimu sangat lemah. Lihatlah posisimu sekarang," ujar Jungkook.
"Asal kalian tau. Berkas perjanjian lahan itu tertulis jika Ibu Gyeong yang meminjamnya," jelas Taehyung dengan nafas berat. Ada senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
"Apa maksudmu?" Gyeong menatap putra tirinya itu bingung. Meminjam apa yang dia maksud?
"Kau meminjam lahan itu dengan nominal yang harus kau bayarkan sebesar 750 Miliar dan tanda tangan yang tertera di berkas itu menandakan jika Ibu setuju membayar uang itu." Penjelasan Taehyung membuat mereka terdiam.
Ya, Taehyung membuat Gyeong menyetujui perjanjian sewa lahan pada Tuan Lee sebesar 750 Miliar, dan itu harus Gyeong bayar karena dia sudah menandatangangi berkas yang Taehyung bawa.
"Kau menjebakku?" tanya Gyeong marah. Tatapanya tak terima dengan nada tinggi. Dia saja tega memperlakukan Taehyung dengan buruk, kenapa saat dibalas dia marah. Bukankah ibunya itu begitu egois.
"Bukankah Suga Hyung bilang untuk baca lebih teliti. Lihat dan baca secara seksama. Untuk tanda tanganku tadi. Haruskah aku mengulanginya? Sepertinya aku tidak dengan benar tanda tangan di sana." Gyeong langsung mengecek, dan benar saja. Tanda tangan itu tidak sama dengan milik Taehyung. Tinta itu memudar dan tak terlihat tanda tangan Taehyung di sana.
"Kau!!" Jungkook yang marah mencengkram jaket kakaknya. Taehyung hanya tersenyum senang melihat mereka terdiam dengan rencananya.
"Pukul 8 malam nanti pihak Tuan Lee akan menagih uang itu pada ibumu. Jika ini gagal, kalian tetap harus membayar 75 Miliar sebagai gantinya, jika tidak dia menginginkan kepalamu sebagai bayarannya." Taehyung coba melepaskan genggaman erat tangan Jungkook dan menghempaskan. Mendorong pelan tubuh Jungkook dengan tenaga yang tersisa.
"Terima kasih untuk luka ini. Apa kalian kurang puas untuk menganiaya diriku? Haruskah aku mati saat kalian membutuhkan diriku untuk membayar hutang kalian." Mereka tampak marah dengan sikap yang Taehyung lakukan. Dia menjebak mereka. Membuat mereka percaya dengan apa yang dikatakan. Pada akhirnya dia juga yang tertipu.
"Sebaiknya aku pergi, dan--"
Door door
Tembakan terdengar seisi rumah dan membuat Taehyung mengurungkan niatnya untuk berdiri. Dia memegangi dada bagian atas sebelah kiri yang terluka karena tembakan yang Jungkook arahkan padanya.
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau menembaknya?" Suga membentak Jungkook. Karena jika dia memang mati, Gyeong ataupun mereka yang harus menjadi tumbal Tuan Lee.
Tubuh Taehyung limbung. Darah mengalir dari luka tembak yang Jungkook arahkan padanya. Dua tembakan yang mengarah padanya, satu yang menembus dada bagian atas sebelah kirinya, satu lagi meleset. Dengan kondisi darah yang terus mengalir, Taehyung menatap ke arah mereka yang hanya menatapnya tanpa ingin membantu. Mereka malah berdebat karena kebodohan Jungkook.
Taehyung diam sambil merasakan rasa sakit itu. Membayangkan jika ajalnya akan datang hari ini juga. Ini memang resiko yang dia ambil saat tak ingin keluarga kecilnya yang menanggung resiko.
"Tuan!" Teriakan seseorang yang Taehyung kenal terdengar lirih, namun dia tau seseorang itu menghampirinya.
Taehyung tersenyum tipis menatap seseorang yang memanggilnya sudah membawanya pada pangkuan. Kembali darah keluar dari mulutnya, entah sudah berapa kali, yang pasti kondisinya memang tidak baik-baik saja.
Suara tembakan pun tidak Taehyung hiarukan, pandangannya kian kabur bersamaan rasa sakit yang tak tertahan. Tubuhnya penuh dengan luka, di tambah Jungkook menembaknya dengan sengaja.
***
Di apartemen, di temani J-Hope. Ha Seul berharap cemas menunggu kabar dari Taehyung. Suaminya itu berjanji untuk segera pulang, tapi tak kunjung pulang hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam. Taeri yang terus menanyakan sang ayah, sampai tertidur.
"Ha Seul ssi, kau harus ke rumah sakit. Tuan Taehyung sedang menjalani operasi sekarang," jelas J-Hope pada istri bos nya.
Ha Seul yang terkejut dengan penuturan J-Hope hanya diam. Dia masih coba mencernah apa yang dia dengar. Operasi? Kenapa sampai operasi saat suaminya berjanji untuk segera pulang.
"Biarkan Taeri bersama yang lain. Kau bisa pergi bersamaku. Ha Seul ssi." J-Hope memegang lengan Ha Seul yang masih diam. Dia coba memahami atas kabar yang didengar.
Ha Seul menatap J-Hope dengan tatapan terkejut. Dia tidak percaya jika suaminya akan terluka. Namun, dia ingin memastikan kondisi suaminya sekarang. Kakinya saja seakan berat hingga dia terduduk karena kabar dari Taehyung.
"Op-pa," panggilnya lirih dengan isak tangis yang pecah saat dia duduk di lantai.
"Aku mohon kau untuk tetap tenang. Kau harus melihat kondisinya," pinta J-Hope.
Dengan berat hati. Ha Seul pergi ke rumah sakit bersama J-Hope. Tidak ingin mengganggu tidur Taeri, dia memilih pergi berdua. Hatinya berdegub kencang saat ini, dia ingin segera melihat kondisi Taehyung sekarang juga.
"Operasinya baru selesai, Tuan Taehyung masih dalam kondisi kritis. Dia masih di ruang ICU." Ha Seul menatap suaminya dengan beberapa alat medis di tubuhnya. Dia terluka parah karena melawan keluarganya sendiri.
"Si-a-pa yang me-la-ku-kan ini?" tanya Ha Seul dengan suara lirih dan terbata-bata. Jimin menatap terkejut dengan apa yang Ha Seul katakan. Dia dengan susah payah bicara. Saat dirinya masih harus menjalani terapi untuk kondisinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight (MAFIA-KTH)
FanfictionKetua genk Mafia yang jatuh cinta pada wanita tuna wicara. Tanpa memandang kekurangan itu, Ketua Genk Mafia itu dengan sangat tulus mencintanya, sayangnya, semua itu berantakan ketika wanitanya memilih mengakhiri hubungannya karena merasa dibohongi...
