DUA PULUH SEMBILAN: What We Need

434 30 12
                                        

Halooo... selamat datang kembali!

Jujur lagi gapunya motivasi banget buat lanjut nulis, tapi inget ada beberapa dari kalian yang justru semangat nungguin cerita ini update.

Semoga bisa menghibur kalian yaah!

VOTE DULU YAHH SEBELUM MEMBACA..

Selamat membaca, enjoooyy<3

******

Zecapella menghembuskan napasnya. Matanya berulang kali melihat ke arah pintu kelasnya. 

Kemana sih mereka berdua? Batinnya bertanya-tanya.

Gadis itu kembali menelungkupkan kepalanya di meja. Berusaha mengusir pikiran macam-macamnya tentang Genzano dan sepupunya. Bukan, bukannya Zecapella tidak mempercayai Genzano maupun Cherelle, hanya saja batinnya mengatakan kalau ia tidak suka. Entah mengapa perasaan tidak suka itu muncul begitu saja tanpa Zecapella bisa tahan.

"Suntuk banget sih lo Zee,"

Zecapella menoleh, menatap Adit yang memandangnya heran. Jelas saja heran. Sudah daritadi Zecapella seperti bayi yang tantrum berpindah-pindah posisi. Untung saja gadis itu masih bisa menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan teriakan-teriakan yang hanya akan mengganggu orang sekitarnya.

Zecapella memandang Adit. Kemudian dengan cepat gadis itu membangunkan tubuhnya mendekati Adit membuat lelaki itu terkejut dan reflek memundurkan tubuhnya.

"Woi woi woi, santai! Jangan dekat-dekat nanti ada yang tantrum,"

Zecapella mendengus lalu menatap Adit. Setahu Zecapella, teman sekelasnya yang merupakan anggota Geros ini setia menjomblo sejak awal masuk SMA. 

"Lo jomblo?"

Pertanyaan Zecapella membuat Adit mendengus. Untung saja gadis di hadapannya ini merupakan ketua Gerosea sehingga sedikit banyak Adit menyimpan rasa hormat pada gadis itu. Kalau tidak, sudah lelaki itu pastikan tangannya akan menjitak dahi gadis itu dengan kencang.

"Lo ngeledek gue?" balas lelaki itu kesal. Zecapella terkekeh lalu menggeleng. Menatap Adit dari atas hingga bawah membuat mata lelaki itu menyipit. 

"Ngapain lo lihat gue kayak gitu?! Baru sadar gue ganteng juga?"

"Iya lo ganteng," jawaban Zecapella membuat Adit melotot. Lelaki itu dengan cepat menempelkan punggung tangannya di dahi Zecapella.

"Nggak demam. Sakit apa lo sampai bisa tiba-tiba muji gue begitu?"

Zecapella tersenyum tipis. Dirinya tidak berbohong begitu mengatakan bahwa Adit tampan. Memang lelaki itu tampan. Zecapella juga tahu sudah banyak gadis yang ingin bersama lelaki itu tetapi entah mengapa lelaki di hadapannya ini seolah bangga dengan status jomblo yang selalu lelaki itu elu-elukan. 

"Lo lagi nungguin siapa sih Dit? Kok betah banget jomblo,"

Adit mengerutkan keningnya. "Lo kok tumben banget kepo sama percintaan gue?" balas lelaki itu heran. Selama ini meskipun sudah dua tahun sekelas, dirinya dan Zecapella bukan tipe berteman dekat. Keduanya hanya berteman sebatas dan sewajarnya saja meskipun gadis itu menjabat sebagai ketua Gerosea dan bersahabat dengan Arbale yang merupakan ketua Geros.

"Iya kepo aja sih. Cowok kayak lo kok malah betah ngejomblo," jawab Zecapella.

"Kenapa harus nggak betah? Gue punya keluarga, punya teman-teman juga, punya Geros juga, jadi apa alasan gue harus ngerasa kesepian sampai harus punya pacar? Lagian hidup kayak gini enak kali Zee. Gue nggak punya tanggung jawab antar jemput anak orang habis capek pulang sekolah atau diganggu pas lagi nongkrong. Kebebasan kayak gini nih yang nggak akan didapetin kalau punya pacar. Mau nongkrong nanti ditanya 'sama siapa?' 'ada ceweknya gak?' 'harus pulang jam segini.' Belum lagi kalau gue harus berantem, ikut gabung anak-anak lain. Duh ribet deh, kebayang nggak lo?"

EVERMORECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang