welkambekk eaAaa...
udah siappp baca cerita EVERMORE??
VOTE DULU YUKK dan penuhin kolom komennya!!
selamat membaca,, enjoyy!!
******
Hari ini adalah hari pertama Zecapella kembali bersekolah meskipun harus dengan bantuan dua tongkat di ketiaknya. Sebenarnya, Havana dan Agrio tidak memberikan izin untuknya pergi bersekolah. Namun, dengan keyakinan kuat dan rayuan gadis itu, akhirnya Havana menyetujuinya dengan syarat ia harus pulang pergi dengan supir dan langsung pulang ke rumahnya. Ditambah, gadis itu harus mau berjalan dibantu dengan tongkat. Sebab, pergelangan kakinya masih tidak mungkin menahan beban tubuhnya secara berlebihan.
Zecapella menghembuskan napasnya pelan. Ia berjalan memasuki gerbang sekolah. Ia tahu beberapa pasang mata menatap ke arahnya dengan padangan yang berbeda-beda. Ia hanya tersenyum tipis.
Norak banget kayak nggak pernah lihat orang susah jalan. Keluhnya di dalam batinnya.
Zecapella berjalan dengan pelan. Menghiraukan sekitarnya. Namun, gadis itu adalah gadis yang memang selalu ceroboh. Seperti saat ini, Zecapella tidak melihat kalau tongkatnya malah berpijak pada satu batu kecil membuat dirinya oleng dan hampir saja terjatuh.
Zecapella sudah memejamkan matanya. Bersiap mendapati rasa sakit yang baru.
Namun, ia tahu tubuhnya ditahan oleh seseorang. Hal itu membuat Zecapella membuka matanya dan mengerjap.
"Lo bisa nggak sih hati-hati?!"
Zecapella mengedipkan matanya berkali-kali. "Bale?"
Arbale menatap gadis itu kesal. Masih dengan memeluk gadis itu ia berucap,
"Sehari aja nggak bikin gue khawatir, bisa?!"
Zecapella kembali mengerjap. Ia berusaha melepaskan pelukan lelaki itu dan berdiri dengan baik. "Lo kenapa sih? Datang marah-marah,"
"Lo yang kenapa!" balas lelaki itu kesal. Arbale menatap marah pada Zecapella. Gadis itu dapat merasakan kilatan kesal yang lelaki itu layangkan padanya.
Arbale menarik napasnya. Sudah cukup beberapa hari ini dia pusing menahan dan memikirkan keselamatan gadis itu yang sama sekali tidak memikirkan keamanan dirinya sendiri. Arbale sungguh khawatir Zecapella kenapa-kenapa!
"Lo punya hape kan? Lo juga punya supir. Bahkan lo tahu kalau gue bisa antar jemput lo kapanpun lo mau. Tapi kenapa lo selalu ceroboh sih Zee? Lo mau kayak gini terus-terusan?"
Zecapella diam. Serius ini dia sedang dimarahi oleh Arbale?
"Lo ngomong apa sih?!" kesal Zecapella. Pagi-pagi seperti ini sudah kena semprot adalah hal yang paling Zecapella kesalkan.
Arbale menghembuskan napasnya. Lelaki itu melangkah ke depan. Mendekat pada Zecapella. Membenarkan letak tongkat gadis itu. Lelaki itu melembut. Mengusap rambut gadis itu dengan pandangan putus asa.
"Berhenti bikin gue selalu khawatir sama lo Zee. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Gue nggak suka lo kenapa-kenapa,"
Zecapella berdeham. Ia mengangguk dan menepuk pundak lelaki itu dengan kekehan. "Uluh-uluh, Arbale si sahabat yang baik—"
"Fuck that bestfriendship! Gue mau lebih dari itu,"
"Hah?" Zecapella mengerjapkan matanya berkali-kali. Menatap pandangan keputusasaan dari lelaki itu.
Tunggu, ini maksudnya apa? Batinnya berbicara.
"Lo nggak bisa lihat atau nggak mau lihat kalau selama ini gue sayang sama lo? Lebih dari sahabat. Gue nggak menganggap lo sahabat gue lagi Zee. Gue mau lebih dari itu," ucap lelaki itu dengan putus asa.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERMORE
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Kenapa? Kenapa gue harus ikut berkorban cuma karena rasa nggak enak lo sama sepupu lo?" Zecapella mengerjapkan matanya. Menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya. "Nggak ada urusannya. Hidup lo ya hidup lo. B...
