HAIII!! Ketemu lagii niee >.<
UPDATE LAGI YUHUUU,,,
VOTEE VOTEE VOTEE OIIII
Semoga senang terus baca cerita ini yaaa!
Enjooooyy<3
******
Begitu Zecapella membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah Cherelle yang menatapnya dengan tatapan khawatir. Sebab, tidak biasanya Zecapella sampai pingsan seperti ini.
"Zee?" panggil Cherelle membuat Zecapella mengerjapkan matanya.
Tidak ada siapapun di ruang kesehatan ini selain dirinya dan Cherelle membuat Zecapella meringis.
Apa tadi ia bermimpi?
Bukannya Genzano yang seharusnya ada di sini sekarang sebab lelaki itu yang menolongnya?
"Nih minum dulu,"
Zecapella mengangguk dan menerima satu gelas teh manis hangat yang diberikan Cherelle. Zecapella kemudian memberikan gelas yang isinya sudah berkurang setengah kepada Cherelle.
"Lama gue pingsan?" tanyanya yang dibalas anggukkan.
"Lumayan lah. Dua jam," jawab gadis itu membuat Zecapella menghembuskan napasnya.
Pintu terbuka membuat senyum Zecapella mengembang. Namun, melihat siapa yang datang membuat senyumnya perlahan meluntur.
"Ada kan?" tanya Cherelle yang dibalas anggukkan oleh Arbale yang baru saja masuk ke dalam ruang kesehatan.
"Ini. Kata Cherelle, lo suka banget nasi ayam penyet bu keti," ucap Arbale lalu memberikan bungkus plastik bening yang berisi satu nasi kotak.
"Makasih," jawab Zecapella. Zecapella lalu menatap keduanya.
"Genzano mana?" tanyanya.
Arbale dan Cherelle saling melirik. "Ada urusan," jawab Arbale santai.
Zecapella mengerutkan keningnya lalu mengangguk. Memilih memakan ayam penyet yang sudah dibelikan oleh Arbale.
"Kok bisa lo pingsan sih?! Tumben banget lemah," ejek Arbale membuat Zecapella menatap lelaki itu dengan tajam.
"Iya juga ya. Sialan emang panas banget hari ini," balas Zecapella cuek. Arbale menggeleng. Menatap Zecapella yang sangat rakus memakan makanannya.
"Gila, laper banget gue," keluh Zecapella.
"Pelan-pelan makannya," ucap Arbale sembari membukakan satu botol air mineral.
Semua itu tak luput dari pandangan Cherelle. Cherelle menatap keduanya lalu tersenyum tipis. Potret yang menyakitkan baginya namun membuatnya harus tetap menampilkan senyumannya.
******
"Silakan masuk,"
Genzano dengan percaya diri melangkahkan masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Lelaki itu menatap pria paruh baya yang kini berdiri. Tersenyum menghadap ke arahnya. Menampilkan senyum percaya diri, sama seperti Genzano.
Sayangnya, Genzano tidak lagi menampilkan senyuman tipisnya. Lelaki itu menampilkan wajah datarnya.
"Ada apa Genzano?"
Rohazi Andante, pria yang berstatus sebagai kepala sekolah itu tersenyum menatap putra tunggal presiden yang menemuinya.
Genzano mengambil duduk. Menghadap penuh pada kepala sekolahnya. Genzano menahan dengusannya ketika melihat pria itu nampak kesenangan melihat kehadirannya.
"Apa tidak ada prosedur yang bagus dalam menghukum murid di sini?"
Kening Rohazi itu berkerut. "Maaf, bagaimana?" tanyanya tidak mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERMORE
Novela Juvenil[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Kenapa? Kenapa gue harus ikut berkorban cuma karena rasa nggak enak lo sama sepupu lo?" Zecapella mengerjapkan matanya. Menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya. "Nggak ada urusannya. Hidup lo ya hidup lo. B...
