HAIII... sudah lama tidak berjumpaa!!
maafin aku yaah update kali ini agakk lamaaaaa bgttt huhuu lagi ngerasain life after breakup jadi gasemangat ngapa-ngapain...
tapi gapapa, karena hidup terus berjalan makanya aku lanjutin nulis cerita ini semogaa kalian sukaak!!
ABSEN DULUUU VOTE DAN COMMENTNYAAA!!
olrait,, selamat membacaaa!! enjoyyyy<3
******
Zecapella mendengus ketika melihat Genzano yang justru terfokus pada ponselnya setelah lelaki itu menerima panggilan dari —entahlah, Zecapella juga tidak tahu.
Gadis itu diminta untuk duduk di bangku taman kecil di istana kepresidenan ini. Padahal Zecapella sudah semangat karena apa yang lelaki itu ceritakan tadi. Namun, semangat dan senyuman di wajahnya luntur perlahan setelah Genzano masih menerima panggilannya.
Udah 20 menit! Kesal gadis itu di dalam hatinya. Zecapella sebisa mungkin menahan bibirnya untuk mengumpat dan mengutarakan kekesalannya.
Begitu Genzano kembali berdiri di hadapannya, Zecapella langsung mendongak dan menatap lelaki itu. Wajah kesalnya langsung luntur begitu saja begitu melihat Genzano yang tersenyum manis.
Lelaki itu mengusap rambut Zecapella sembari tersenyum. Ia tahu gadis di hadapannya ini kesal.
"Maaf ya nunggu lama," ucap lelaki itu dengan lembut membuat Zecapella salah tingkah.
Zecapella berdeham. Memutar pandangannya ke sekitar taman lalu kembali berdeham.
"Nggak kok! Gue malah lagi menikmati pemandangan sama tamannya. Udaranya juga adem,"
Genzano terkekeh. Jelas sekali gadis itu salah tingkah dan berbohong. Udara sore ini cukup panas. Bahkan Genzano dapat melihat gadis itu berkeringat di sekitar dahinya.
Genzano mengulurkan tangannya. Mengusap dahi Zecapella yang berkeringat kemudian menampilkan senyuman mengejek.
"Udaranya adem ya?" ejek lelaki itu membuat Zecapella dengan cepat memukul lengan lelaki itu. Genzano tertawa. Ia menunduk. Berjongkok di hadapan Zecapella.
"Lo itu orangnya transparan. Kalau sedih kelihatan. Kalau marah kelihatan. Kalau senang kelihatan. Apalagi kalau ngambek, kelihatan jelas,"
Zecapella mengerjapkan matanya. Ia menatap Genzano di bawahnya. Lelaki itu menggenggam kedua tangannya dan mengusapnya lembut.
"Bahkan kalau lagi banyak pikiran, lo juga gampang banget kebaca," lanjut lelaki itu.
"Nggak seru dong ya?" tanya Zecapella mencairkan.
Genzano terkekeh. Lelaki itu menggeleng pelan. "Justru bagus. Gue nggak perlu susah-susah buat ngartiin ekspresi lo. Gue bisa dengan gampang tahu suasana hati lo. Memudahkan gue loh,"
"Cuma, satu yang nggak bisa gue tahu. Gue bisa baca suasana hati lo cuma dengan ngelihat muka lo, tapi gue nggak bisa baca siapa yang ada di hati lo. Nggak ada tandanya buat ngebaca itu,"
Zecapella terdiam. Kedua pasang mata itu bertemu. Saling menatap satu dengan yang lainnya.
"Tapi, ngelihat perlakuan lo ke gue, perhatian lo ke gue, cara lo ngerespon gue, bolehkan gue percaya diri kalau gue yang ada di hati lo?"
Zecapella masih terdiam. Mendadak tangannya mendingin.
"Gue belum pernah pacaran sebelumnya. Pernah lah dekat sama beberapa cewek, tapi ini pengalaman pertama gue untuk ngungkapin perasaan gue secara langsung ke cewek... dan pertama kalinya gue mengharapkan balasan dan jawaban yang sama,"
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERMORE
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Kenapa? Kenapa gue harus ikut berkorban cuma karena rasa nggak enak lo sama sepupu lo?" Zecapella mengerjapkan matanya. Menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya. "Nggak ada urusannya. Hidup lo ya hidup lo. B...
