Halooo!! Selamat datang kembali! Selamat pagi pagi pagi.
Pasti gasabar kaan euyy baca kelanjutannyaa??
yaudah,,
VOTE DAN COMMENT DULU SINI MERAPAT!
Selamat membaca, enjoooyyii<3
******
Zecapella berjalan bersama Arbale memasuki koridor hall pertunjukkan tempat dimana Cherelle lomba. Ia memeluk satu bucket bunga besar yang akan ia berikan kepada Cherelle.
"Rame banget," keluh Arbale melihat sekeliling. Lelaki itu mendecak lesu. Malas melihat keramaian ini.
Gedung mewah ini dipenuhi banyak remaja dan orang tua yang datang untuk menyaksikan pertandingan ballet internasional ini. Untuk pertama kalinya, pertandingan ballet dilaksanakan di negeri ini.
Zecapella mengangguk antusias. "Ya iyalah! Ini kelasnya inter bro, bukan kelas teri," ucap Zecapella dengan senang membuat Arbale mendengus namun tersenyum menatap senyuman Zecapella yang mengembang.
"Ada paspampres?" tanya Zecapella bingung melihat beberapa pria berseragam khusus menjaga di sekitar pintu masuk. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya.
Apakah Genzano hadir?
Dengan cepat Zecapella menggelengkan kepalanya. Ayolah, Genzano tidak mungkin hadir.
"Kan yang buka acaranya presiden," gumam Arbale membuat Zecapella menatap lelaki itu lalu mengangguk. Pantas saja.
Lagian mana mungkin Genzano hadir. Lelaki itu pasti tidak memiliki tiket. Kecuali jika lelaki itu hadir bersama orang tuanya atas nama undangan khusus presiden.
Keduanya lalu memasuki satu gedung utama. Ramai dan penuhnya akses jalan membuat Arbale langsung berinisiatif menggenggam tangan Zecapella. Zecapella mematung. Secara reflek ia menggenggam erat bucket bunga dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya digenggam erat oleh Arbale.
"Biar nggak ilang. Lo kan kayak tusuk gigi. Giliran dibutuhin gampang ilang,"
Zecapella mendengus dan melirik kesal pada Arbale atas perumpamaan dirinya dari lelaki itu. Ingin sekali tangannya mencubit lengan keras berotot lelaki itu. Namun apadaya kedua tangannya sibuk.
"Duduk dimana?" tanya Arbale membuat Zecapella dengan susah merogoh saku roknya. Mengambil satu tiket.
"VVIP. Itu yang di depan tengah," jawabnya. Arbale mengangguk. Kembali menarik Zecapella dengan genggamannya. Sementara gadis itu hanya menurut. Mengikuti langkah Arbale dalam diam.
"Nih, lo mau di kanan atau kiri?" tanya Arbale.
Zecapella memandang beberapa kursi yang masih kosong itu. Pandangannya mengedar ke sekitar.
"Nyari siapa?" tanya lelaki itu bingung. Zecapella menoleh. "Bunda," jawabnya membuat Arbale mengangguk.
"Mungkin sebentar lagi sampai," balas lelaki itu membuat Zecapella mengangguk lalu menduduki salah satu bangku yang masih kosong.
Beberapa bangku di depan dan belakangnya sudah terisi penuh. Ia duduk di tengah. Di kirinya seluruh bangku masih kosong dan di kanannya ada Arbale yang juga sudah duduk dengan tenang. Sementara di samping kanan lelaki itu masih terdapat dua bangku yang kosong.
Zecapella meletakkan bunganya di bawah. Tidak ingin mengganggu pemandangannya.
"Lo udah sarapan?"
Zecapella menoleh. Ia menatap Arbale yang tidak menatapnya sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERMORE
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Kenapa? Kenapa gue harus ikut berkorban cuma karena rasa nggak enak lo sama sepupu lo?" Zecapella mengerjapkan matanya. Menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya. "Nggak ada urusannya. Hidup lo ya hidup lo. B...
