HAII HAII HAII selamat datang kembali!
JUJURRRR kangen banget nulis tentang Zecapella! Jadi lesgooowww kita gas ngeng...
VOTE DAN COMMENT DULU DONGGGG PLEASEEE...
pembaca wattpad tuh udah makin berkurang ya? sedih deh..
anw, selamat membaca!! semogaa sukaaa<3
****
Zecapella mengusap keringatnya dengan handuk kecil berwarna biru muda. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. Latihan sesi sorenya baru saja selesai dan Zecapella sudah hampir saja pingsan.
Reyangnya benar-benar hadir dan memperhatikan bagaimana Zecapella berlatih dari awal hingga selesai. Benar-benar penuh niat.
Zecapella menatap ponselnya yang akhirnya bisa ia mainkan. Selama waktu latihan, reyangnya menyita ponselnya dan berkata akan mengembalikkannya jika waktu latihan sudah selesai. Sungguh, reyangnya adalah orang paling idealis, menyebalkan, namun sangat disiplin.
"Cherelle pulang,"
Zecapella menoleh ketika mendengar suara sepupunya yang baru saja pulang. Matanya bertapapan dengan Cherelle yang berjalan memasuki rumah mewah milik keluarga Surendra ini.
"Baru selesai lo? Lesu banget,"
Zecapella mendengus dan berjalan menuju ruang makan. Zecapella kelaparan. Ia benar-benar membutuhkan banyak makanan untuk perutnya dan juga untuk membangkitkan semangatnya yang hilang.
"Beneran nggak bisa negosiasi sama reyang, ya?"
Zecapella mencomot satu sosis ayam yang tersaji di meja makan. Ia mengunyahnya dengan cepat dan melirik Cherelle yang kini duduk di hadapannya setelah sepupunya itu mengambil satu kotak jus kemasan dari kulkas. Cherelle melemparnya ke arah Zecapella yang langsung gadis itu tangkap dengan baik.
"Kayak nggak tahu tipe kakek lo aja," balas Zecapella membuat Cherelle mengangguk. Cherelle kemudian mendengus geli. "Kalau lo lupa, itu kakek lo juga," cibir Cherelle.
Jelas tahu bahwa Safarez adalah pria yang tidak akan pernah merevisi kata-katanya. Bahkan se-ekstrem apapun ucapan Safarez, maka pria itu akan selalu merealisasikannya. Termasuk hukuman yang dilayangkan pada Zecapella.
Apakah tidak pernah terpikir oleh Zecapella untuk membangkang? Oh tentu saja pernah! Zecapella itu sebenarnya bukan gadis penurut. Bukan juga yang langsung tunduk begitu saja. Tetapi bayangan Zecapella berumur 13 tahun yang tiba-tiba digendong seperti karung beras oleh kakeknya —Oh Tuhan, benar! Oleh Safarez karena ketahuan membolos membuat Zecapella berpikir ulang untuk membangkang kakeknya lagi.
Percuma. Safarez mempunyai banyak cara setebal buku ensiklopedia untuk selalu menang dalam argumen dan membuat siapapun menuruti perintah dan kemauannya. Ciri khas Surendra sekali.
"Lo beneran nggak apa-apa? Bokap—"
"Bokap gue apa? Bisa bantu? Ya elah Chery. Kayak nggak tahu keluarga gue aja. Mungkin dengan sibuknya gue kayak gini dan diatur sama reyang malah mempermudah hidup nyokap sama bokap gue. Mereka jadi nggak perlu mikirin gue udah pulang, di rumah sendirian, udah makan apa belum, bahagia apa nggak. Ya setidaknya reyang memberikan waktu untuk mereka semakin sibuk sama hidupnya,"
Cherelle terdiam lalu mengangguk. "Betul juga. Reyang lebih milih narik lo jadi beban dia dibanding lo dianggurin sama orang tua lo,"
"Sialan," kekeh Zecapella sembari memakan iga bakarnya dengan rakus. Benar juga sih. Kemanapun Zecapella pergi, ia akan jadi beban buat siapapun.
"Gimana sekolah? Ada yang beda setelah gue nggak ada?"
Cherelle tampak berpikir sejenak lalu menggeleng. "Apa ya yang beda? Lebih tenang aja mungkin karena nggak dengar apapun lagi soal tawuran,"
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERMORE
Novela Juvenil[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Kenapa? Kenapa gue harus ikut berkorban cuma karena rasa nggak enak lo sama sepupu lo?" Zecapella mengerjapkan matanya. Menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya. "Nggak ada urusannya. Hidup lo ya hidup lo. B...
