HEYHOOO!! Kembali lagi di EVERMOREEEEE!
Siapa yang udah kangen Zecapella, Cherelle, Genzano, sama Arbale?? cung!
VOTEEE DULUUU YUKKK terus komennn jangan lupaa!
Selamat membaca, enjoooooyy<3
******
Genzano terdiam. Begitupun Zecapella. Keduanya hanya saling pandang. Tidak ada pembicaraan lagi. Keheningan membuat Genzano akhirnya tersadar dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau lo yakin sama perasaan lo, lo nggak perlu bertanya pakai kalimat "what if". Cukup percaya sama perasaan lo dan apapun resiko di depannya,"
Genzano menurunkan tangannya. Pandangan lelaki itu sedikit kecewa dan itu tampak jelas bagi Zecapella.
"Gue yakin sama perasaan gue ke lo. Rasa sayang gue ke lo bukan cuma sekedar perasaan ragu-ragu yang gue rasain. Gue yakin dan gue tahu apapun resikonya akan gue tempuh, termasuk kemungkinan berantem sama Bale. Tapi, dengar lo harus mempertanyakan dan nggak berani ambil resiko atas perasaan lo ke gue yang penuh keraguan itu, buat gue miris. Zecapella, gue nggak perlu dikasihani. Lo nggak balas perasaan gue pun itu hak lo. Nggak perlu lo paksa suka sama gue cuma karena kasihan," ucap lelaki itu dengan senyuman pahit.
Zecapella menggeleng cepat. Tangannya langsung menggapai tangan Genzano dan menggenggamnya.
"Lo benar. Gue takut ambil keputusan dan nanggung resikonya. Itu benar. Tapi soal perasaan gue ke lo, itu bukan keraguan semata. Nggak. Gue nggak ragu soal perasaan gue ke lo. Gue—" Zecapella menarik napasnya. "—I really fall into you Genzano. Nggak tahu sejak kapan, tapi gue yakin beribu persen kalau ini bukan rasa kasian apalagi rasa yang ragu. Gue beneran udah jatuh cinta sama lo," ucap gadis itu dengan mantap.
Genzano mengerjapkan matanya. Menatap Zecapella yang semakin berkaca-kaca. Lelaki itu kini terdiam. Tidak lagi mampu mengutarakan kalimat-kalimat apapun.
"Lo benar. Gue selama ini nahan perasaan gue karena gue nggak mau semakin banyak orang tersakiti cuma karena perasaan gue. Gue... gue nggak mau kehilangan lagi. Kehilangan Bale dan Cherelle udah cukup mengguncang gue, dan pas gue tahu kalau gue kehilangan lo kemarin, gue nggak bisa lagi nahan perasaan gue. Semua udah berubah. Gue nggak lagi takut sama apapun kecuali kehilangan lo,"
Zecapella meneteskan air matanya membuat Genzano langsung dengan cepat mengusap pipi gadis itu. Tidak akan lelaki itu biarkan air mata Zecapella mengalir karena dirinya. Hanya boleh air mata bahagia. Genzano berjanji di dalam dirinya.
"Then, let's take that risks. Apapun resikonya, ayo kita hadapin bareng. Lo nggak perlu takut lagi sama apapun, nggak perlu takut kehilangan gue, ayo kita hadapin semuanya bareng,"
Genzano menarik napasnya. "Gue nggak akan nanya lagi untuk ketiga kalinya nanti, Zecapella. Udah cukup gue ngerasain ditolak sama lo satu kali dan itu beneran merusak kepercayaan diri gue. Lo datang lagi hari ini, ngejar gue, dan ngebuat kepercayaan diri gue itu tumbuh lagi. Jadi, udah cukup main kucing-kucingannya ya? Ayo jadi pacar dan milik gue,"
*******
"Cher,"
Sore ini, Zecapella memberanikan diri mendatangi rumah reyangnya hanya untuk menemui Cherelle. Setelah sampai, Zecapella langsung bertanya pada salah satu asisten rumah tangga reyangnya, bertanya keberadaan Cherelle dan akhirnya gadis itu menemukan Cherelle yang sedang berenang di kolam renang belakang di rumah reyangnya.
Hal itu membuat Zecapella menghembuskan napasnya. Mengenal Cherelle seumur hidupnya membuat Zecapella tahu, berenang adalah satu-satunya cara untuk gadis itu melepas beban pikiran dan rasa stresnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERMORE
Ficção Adolescente[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Kenapa? Kenapa gue harus ikut berkorban cuma karena rasa nggak enak lo sama sepupu lo?" Zecapella mengerjapkan matanya. Menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya. "Nggak ada urusannya. Hidup lo ya hidup lo. B...
