HAIII yuhuu...
Welkambek welkambek welkambek.. gimana kabarnya hari ini? Happy gak?
harussss HAPPY karena kan EVERMORE update lagiii!
VOTE DAN COMMENT CEPETAN SEBELUM BACA BAB INI!
Selamat membaca, enjooooooy<3
*****
Cherelle mengerjapkan matanya. Pandangan harunya tiba-tiba berubah. Bola mata cokelat itu menjadi berkabut. Seolah menyimpan kesakitan atas permintaan Arbale.
"Lo anggap gue ini apa?" tanya Cherelle dengan parau membuat Arbale diam.
Cherelle menegakkan badannya. Tidak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki yang menyakitinya.
"Gue bukan second choice. Bukan back-up kalau Zee nggak bisa dipilih. Gue nggak serendah itu,"
Cherelle mengangguk. "Gue ngerti lo sakit hati. Lo bukan cowok yang dia pilih, dia suka, dan dia mau. Tapi bukan berarti lo limpahin sakit hati lo ke gue. Bale, bukan lo satu-satunya cowok yang bisa milih mau punya hubungan sama siapa,"
"Cher, maksud gue nggak gitu," balas Arbale membuat Cherelle terkekeh. Gadis itu memandang Arbale dengan tatapan terluka. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa lelaki yang ia suka akan memandangnya hanya sebagai pilihan kedua. Sadisnya, pilihan pertama lelaki itu adalah sepupunya sendiri.
"Apapun maksud lo, lo udah nyakitin gue. Ditolak Zee memang semenyedihkan itu kan? Sampai lo tega perlakuin gue kayak gini,"
"Gue emang suka sama lo. Gue akuin itu. Tapi perasaan gue bukan untuk dimainin sama cowok yang baru aja ditolak sama sepupu gue sendiri,"
Cherelle berdiri. "Lo bilang tadi gue cewek baik kan? Lo juga bilang nggak mau sia-siain cewek kayak gue kan?"
Gadis itu mengangguk. Mengeluarkan uang seratus ribuan dari saku baju seragamnya. Meletakkannya di meja guna membayar pesanannya.
"Sayangnya cowok yang berpikiran kayak gitu nggak lo doang. Lo benar. Pasti banyak cowok di luar sana yang juga nggak mau sia-siain gue,"
*****
Zecapella duduk di ranjangnya. Ia menghembuskan napasnya menatap tongkat yang sudah ia minta pada supirnya untuk belikan. Gadis itu kemudian menatap jam kecil di nakas samping tempat tidurnya. Pukul tujuh malam. Kedua orang tuanya juga belum kembali dari kesibukannya membuat gadis itu menghembuskan napasnya.
Zecapella tidak tahan. Mungkin ini adalah perseteruan pertamanya dengan Cherelle selama mereka hidup. Mengingat ini hanya tentang lelaki membuat Zecapella mengepalkan tangannya. Sungguh ia tidak ingin hubungannya dengan Cherelle hancur hanya karena seorang lelaki.
Sepanjang hidupnya, hampir tidak pernah ia berselisih paham dengan Cherelle. Entahlah, kedekatan keduanya membuat Zecapella selalu memilih untuk mengikuti kemauan Cherelle. Sepupunya itu lebih pandai membuat keputusan dibanding dirinya yang terlalu ceroboh. Biasanya, Zecapella hanya mengandalkan Cherelle di setiap keadaan. Mempercayakan pilihan hidupnya pada sepupunya itu. Karena Zecapella tahu, Cherelle lebih mengerti dirinya daripada siapapun.
"Non?"
Zecapella mendengar ketukan pintu itu. Memunculkan kepala pelayan utama di rumahnya yang kemudian menunduk memberikan hormat membuat Zecapella mengangguk.
"Anu, ada telepon non dari rumah reyang. Katanya non ditunggu di sana sama reyang,"
Kening Zecapella berkerut. Tumben sekali? Biasanya reyang akan menghubunginya langsung atau melalui Agria.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERMORE
Fiksi Remaja[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Kenapa? Kenapa gue harus ikut berkorban cuma karena rasa nggak enak lo sama sepupu lo?" Zecapella mengerjapkan matanya. Menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya. "Nggak ada urusannya. Hidup lo ya hidup lo. B...
