19. Kegilaan Logan

3.1K 179 6
                                        

"Jika jalanmu dihambat seseorang, injak dia sebagai batu loncatan."
.
.
.
.
❄️❄️

Manik gelap penuh akan rasa marah. Kebencian dengan ribuan trik licik sudah ia rencanakan dalam benaknya. Membayangkan, membuatnya bibirnya menyeringai. Berubah menjadi tawa keras. Tawa yang mengerikan.

"Pangeran Rajendra."

"Kita lihat, seberapa kuat Lo."

Matanya menatap meja kerjanya. Kertas berserakan, dengan foto yang saling berjajar. Ia mengambil foto-foto dan kertas yang sudah ia pilah. Membawanya pada papan yang tersedia disisi ruangan.

Menancapkan satu foto di paling atas. Sosok pemuda dengan pacifier di dalam mulutnya. Mata bulan yang menatap sendu. Ia usap dengan jari sesaat.

Ia lalu menyusun semua foto dan kertas sesuai yang sudah ia tandai. Berbalik mengambil spidol merah. Ia menghadap papan itu dengan raut datar.

Menelisik dari mulai foto paling atas. Membaca keterangan pada keras yang ikut ia tancapkan. Ada 8 foto orang yang ia tancapkan. Beberapa hanya sebuah bukti-bukti kecil.

Maniknya beralih pada foto seorang pemuda. Tersenyum manis diatas motor cross biru. Menawan dan ceria. Ia menyilang foto itu dengan spidol. Tersenyum miring melihat sosok dengan jas hitam, mata dingin yang begitu menakutkan.

Ia lalu melangkah menuju meja kerjanya. Mengambil secarik kertas. Membaca kembali bagian penting yang menarik baginya. Rasanya benar-benar puas mengetahui dengan mudah segala rahasia yang ada.

Otaknya kini begitu gila. Membayangkan ke hancurkan yang sangat ia nantikan.

"Kita mulai dari si bodoh."

👑👑

"Dek, ayo bangun. Kamu nggak sekolah?"

Tubuh mungil yang di terbungkus selimut tebal itu nampak menggeliat. Mengerjab pelan, menyesuaikan cahaya yang menyilaukan mata.

Sosok pemuda yang sudah rapi dengan seragam SMA nya. Sabar menunggu sosok itu terbangun. Tidak ingin memaksa.

"Sekolah nggak? Atau masih sakit?" Tanya Arka lembut, menatap adiknya dalam.

Luka memalingkan pandangannya. Bangkit segera, turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Mengabaikan Arka yang entah berceramah apa.

"Kakak tunggu di meja makan!" Seru Arka agar Luka mendengar. Ia lalu pergi keluar kamar adiknya.

Belasan menit berlalu. Sosok pemuda mungil itu keluar dari kamar mandi. Lengkap dengan segaram sekolahnya. Ia lalu bercermin merapikan penampilannya. Menyisir surainya, tak lupa memakai parfum.

Tak lupa mengecek keperluan sekolahnya. Melihat kembali jadwal yang bisa saja ia lupakan. Merasa yakin ia lalu keluar kamar. Membawa tas sekolah dan sepatu yang enggan ia pakai.

Lukanya hampir sembuh. Walau langkahnya pelan ia sudah bisa berjalan normal. Sudah tidak sakit, hanya parno saja bila kembali berdarah.

"Mau pakek sendal aja?" Arka bersuara dari meja makan. Melihat adiknya datang menenteng sepatu ia agak khawatir.

Luka menggeleng pelan. "Di hukum." Membuat Arka menggeleng.

SILENTIUM || End✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang