"Ikatan tak kasat mata dari mereka begitu kuat."
.
.
.
.
👑👑
Tarikan yang membawa raga tanpa tuan itu pada satu titik keadaan. Dimana hidup hadir diantara bayangan. Menjadi burung kecil dalam sangkar. Ia terbelenggu.
Kemana arahnya mencapai mimpi. Langkah luka mana lagi yang harus ia arungi. Laut semakin luas, daratan perlahan habis. Bumi enggan untuknya berpijak. Langit selalu ingin membawanya pergi. Padahal, mimpinya adalah disini. Kehidupan.
Angin segar berhembus membawa surainya menari. Menerpa wajah pucat yang terlihat tanpa kehidupan. Manik gelap memandang hampa jalanan sepi.
Jalan setapak dengan bebatuan licik. Basah akan air hutan yang baru saja turun. Titik air pada dahan mulai berjatuhan. Ia membawa kaki berbalut sepatu putih itu kembali berjalan. Melewati pohon-pohon yang begitu rindang. Rumput tumbuh begitu subur.
Jalanan naik menuju ke puncak bukit. Ia menoleh kebelakang. Melihat rumah-rumah sederhana yang berjajar rapi. Nampak masih asri, seolah kemajuan dunia enggan menyentuhnya.
Ia kembali melangkah. Merapatkan jaket yang ia kenakan karena merasakan dingin. Berpijak pelan takut terjatuh karena jalanan licin.
Tidak butuh waktu lama, jalan yang ia lewati habis. Membawa pada pekarangan luas nan sejuk. Melihat dua rumah kayu sederhana. Salah satu yang paling dekat dengan ujung jalan nampak kosong dan tidak ditinggali. Sedangkan salah satunya nampak masih terjaga.
Maniknya melihat seorang wanita keluar dari rumah di ujung. Wanita tua dengan baju sederhana. Hampir semua rambutnya memutih karena uban. Tubuhnya kurus kecil dengan tongkat panjang sebagai alat penopang langkahnya.
Tanpa sadar ia melangkah mendekat. Berdiri tepat didepan rumah. Menatap wanita itu yang sibuk mengunci pintu rumah. Sepertinya akan pergi.
Ia berdiri disana. Tanpa suara hanya menatap, menunggu sosoknya sadar akan hadirnya.
Wanita itu berbalik perlahan. Menghela nafas kecil melirik rumah kosong yang tidak jauh. Namun ia terkejut dengan sosok yang berdiri didepan rumahnya. Membuat tongkat yang ia pegang terjatuh begitu saja.
Pemuda dengan tubuh kecil. Jaket merah berbulu tebal dengan surai hitam legam yang sedikit menutup keningnya. Wajah pucat yang sangat ia kenali.
Ia tidak bisa berkata apapun. Menutup mulutnya tidak percaya. Tubuhnya terasa lemas, terjatuh lemas bersandar pada pintu.
Pemuda itu mendekat dengan pelan. Berjongkok dihadapannya. Mata gelap yang menatap khawatir.
"Nenek gapapa?"
Air matanya mengalir, kedua tangannya bergetar. Membawa mendekat pada wajah pucat itu. Dengan ragu ia membelainya. Memastikan apa yang dia lihat adalah nyata.
Nyata, wajah yang ia rindukan. Penuh akan rasa kasih sayang. Namun ia tau, bukan dirinya.
"Ka-kamu Kana?" Tanyanya terbata. Masih setia menatap tidak percaya.
"Iya, Aku Kana. Lukana Batara." Balas sosok itu tenang. Wajah tanpa rasanya nampak terlihat tidak hidup.
"Ouh Ya Tuhan!" Pekik wanita itu. Memeluk dengan tangis keras. Bahunya bergetar dengan hebat.
KAMU SEDANG MEMBACA
SILENTIUM || End✓
Teen FictionLuka, seperti namanya. Ia adalah simbol dari kesakitan yang tak terlihat, menyimpan begitu banyak luka yang tak pernah bisa diungkapkan. Tidak ada yang tahu seberapa dalam lara nya, seberapa berat langkahnya menjalani hidup. "Mereka yang mengabaikan...
