"Bagi mu, sebuah kebahagiaan. Namun, itu adalah luka orang lain."
.
.
.
.
👑👑
Sejatinya tidak ada manusia yang sama. Mereka adalah diri mereka sendiri. Hakikatnya, manusia adalah kebebasan itu sendiri.
Jalan yang mereka pilih, adalah keputusan yang telah mereka tentukan. Orang lain, tidak pantas terlalu mengekang. Namun, manusia itu egois. Segalanya harus sama seperti apa yang dia mau, apapun caranya.
"Kamu sadar itu bukan dia, tapi kenapa kamu seperti ini?" Manik biru laut yang begitu beku. Memandang sosok yang kini nampak kacau dengan dirinya sendiri.
"Mereka orang yang berbeda Rajendra. Bukan salahnya harus terlahir sama."
Kesunyian yang melanda. Lorong dimana ruangan unit gawat darurat. Penanganan pada sosok yang mereka lihat terjatuh dari tangga belum usai.
Namun, ada satu tanda tanya besar dalam salah satu orang.
Pemuda yang kini menatap kosong pintu di depannya. Hatinya yang bergemuruh kacau. Segala tanda tanya yang begitu meresahkan. Ia belum mengerti.
"Apa maksudnya?" Tanyanya bersuara lemah. Membuat dua pria paruh baya menatap dirinya.
"Siapa Raja?"
Hening, tidak ada jawaban. Namun nampak semua orang menegang. Mereka beralih melihat satu sosok yang sejak tadi duduk terdiam. Seolah pada pemikiran yang sama.
Namun, secara tiba-tiba pintu terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah letih. Ia menatap mereka semua dengan nafas lega.
"Pendarahan di kepala pasien tidak berakibat buruk. Namun, ada sesuatu yang sulit pada jantungnya. Sekarang kondisinya cukup stabil, pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawatnya." Sang dokter menerangkan dengan tenang. Melihat bagaiman wajah-wajah dingin yang menatap dia seolah siap menguliti.
"Mohon, untuk wali ikut saya keruangan. Akan saya jelaskan lebih rinci."
"Baik," Xigen bangkit dari duduknya. Ia melangkah pergi diikuti dokter tersebut.
Pintu kembali terbuka. Ranjang rumah sakit didorong keluar perlahan. Terlihat sosok pemuda dengan wajah pucat disana. Dengan masker oksigen yang melekat erat dan beberapa alat. Juga perban yang melilit kepalanya. Kondisi yang cukup memperihatinkan.
"Kamu harus menjaga adik mu. Ayo!" Julian menarik Arka bangkit. Mengikuti ke ruangan pasien.
Meninggalkan tiga orang yang masih disana. Namun, tidak lama Ares beranjak pergi setelah sang putra memberi kode untuk pergi. Membawa keheningan beku keduanya.
"Apa yang kamu mau sebenarnya Rajen?" Kaisar membuka suara. Menatap lekat adiknya.
"Dia sudah pergi, seharusnya kamu menyayanginya. Bukan seperti ini." Sungguh, segalanya atas permainan sang adik. "Bahkan Arka belum tau? Lalu selama ini mengapa kamu menjauhkan mereka."
Ada sebuah rahasia di masa lalu. Membawa jurang luka begitu dalam pada sosok Pangeran Rajendra. Juga goresan lara pada Lukana Batara.
Semuanya tidak sesederhana itu. Namun, nyatanya sangat kacau.
👑👑
KAMU SEDANG MEMBACA
SILENTIUM || End✓
Novela JuvenilLuka, seperti namanya. Ia adalah simbol dari kesakitan yang tak terlihat, menyimpan begitu banyak luka yang tak pernah bisa diungkapkan. Tidak ada yang tahu seberapa dalam lara nya, seberapa berat langkahnya menjalani hidup. "Mereka yang mengabaikan...
