"Membahagiakan orang lain bukan tanggung jawabmu."
Ai
————
Suara langkah tergesa terdengar bersahut-sahutan di lorong rumah sakit. Lampu putih di langit-langit memancarkan cahaya dingin yang menusuk mata, sementara aroma khas obat-obatan bercampur dengan bau antiseptik begitu kental memenuhi udara. Setiap pintu ruangan yang dilewati terasa seperti menyimpan kisah berbeda: tangisan bayi baru lahir, keluhan pasien yang menahan sakit, hingga bisik doa keluarga yang menunggu dengan cemas.
Di ruang tunggu, kursi-kursi berjejer rapi, namun ketegangan menggantung di udara. Jam dinding berdetak lambat, seolah mempermainkan waktu. Ada yang memandangi lantai tanpa kata, ada yang menggenggam erat tangan kerabatnya, seakan takut kehilangan. Menarik napas perlahan, menerima berita yang akan dia dengar.
Suasana yang akan familiar untuk Zafran. Pria itu masih menunggu kursi panjang itu. Sendirian, tanpa tangan untuk dia genggam. Tiba-tiba tangis keras terdengar dari dalam ruangan, membuyarkan lamunan Zafran. Rumah sakit menjadi tempat di mana harapan dan ketakutan berjalan berdampingan. Doa dan tawa lirih terdengar.
"Zafran?"
Zafran menoleh karena panggilan itu. Matanya menuju sosok yang tak asing. Ia duduk tepat di sampingnya, mengelus pundaknya perlahan. Keduanya sama-sama terpaku dengan keadaan.
"Ayah mana yang enggak sayang sama putrinya, Zaf? Bahkan dia jatuh dari sepeda saja Papa menyesali sejadi - jadinya." Mata Zafran beralih menatap wajah paruh baya disampingnya itu. Kekhawatiran begitu dalam terasa dimatanya.
"Sejujurnya mana ada Ayah yang rela melepas putrinya untuk orang lain, orang asing yang hanya sebentar dia kenal."
Hal yang tak pernah Zafran rasakan, ia tak pernah di posisi seorang Ayah, dengan putri kecilnya itu. Ia tumbuh sebagai laki-laki, yang dididik keras, penuh tekanan, namun melihat adik perempuannya diperlukan keras pun ia tak rela. Apalagi seorang Ayah yang merawat anaknya dengan penuh kasih seumur hidupnya.
"Saya jelas bukan yang terbaik untuk Zalfa, Om. Tak banyak yang bisa saya janjikan untuknya. Tapi saya serius dengan Zalfa, Om."
"Laki-laki mana Zaf, yang serius dengan perempuan malah ditinggalkan. Baru kemarin Om percaya sama kamu, tapi ...." Ucapannya terhenti...
"Pah?"
Seketika keduanya memandang ke arah yang sama. Melihat Zalfa yang berjalan tertatih. Keadaannya tak seburuk yang dibayangkan. Lengan kanan yang terbungkus perban putih, dan kaki yang berjalan pincang tak seperti sedia kala. Pak Ikhsan segera bangkit, wajahnya bercampur antara lega dan marah.
“Kalau ada masalah, selesain di sini aja. Ada Mama sama Papa di sini.”
Zafran bergeser, memberi ruang. Kini mereka berempat duduk berjajar di kursi panjang itu. Zalfa tersenyum tipis, berusaha menenangkan Papanya.
“Zalfa nggak apa-apa kok. Beneran.”
Mata Pak Ikhsan membelalak, nafasnya terdengar berat. “Nggak apa-apa gimana? Nyetir motor sambil melamun, tangan sampai diperban begitu. Itu namanya nggak apa-apa?”
Zalfa mengangkat alis, mencoba terlihat santai meski wajahnya masih kentara pucat. “Enggak patah, Pa. Cuma luka-luka doang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
Fiksi UmumGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...
