Suhu panas siang ini begitu terasa untuk manusia-manusia pada umumnya. Namun tidak dengan Zalfa. Kali ini begitu terasa dingin dan menusuk tulang, tangannya ia genggam dengan erat, bahkan bibir yang senantiasa mengoceh dimanapun ia berada, kini hanya terbungkam kaku. Bagaimana tidak akibat kebodohannya lupa membawa dompet dan ponsel, akhirnya ia memilih semobil dengan Zafran. Suasana canggung begitu terasa, Zalfa menggigit bibir atasnya, menggaruk tengkuk yang tak gatal, menggoyang-goyangkan kaki yang tak pegal, apapun cara ia lakukan untuk menghilangkan kecanggungan dan kecemasannya kini.
"Ehem..." Deheman Zalfa tak bisa mengalihkan fokus Zafran untuk menyetir. "Ini kami eh kita semobil enggak apa-apa, Kak eh Gus?"
Zalfa memukul pelan mulutnya, akibatnya salah tingkah karena omongannya sendiri. Tidak biasanya ia tak dapat mengontrol ucapan.
"Iya enggak apa-apa. Kamu yang ngotot ikut. Padahal saya cuma mau beli bensin buat motor kamu, nanti juga balik lagi kesana. Kalau mikir mah, nunggu saja di depan mini market tadi sambil ungkang-ungkang kaki."
Bodohnya aku, itulah kiranya suara hati Zalfa. Saking sungkannya tidak mau merepotkan Zafran ia dengan keras mengikutinya tanpa pikir panjang ia langsung naik mobil Zafran. Cukup banyak kebodohan yang ia lakukan hari ini, dari tidak bawa dompet, ponsel, berhutang seratus dengan Zafran sampai bensin habis tanpa sepengetahuan. Ia memalingkan wajahnya ke samping, rasanya mau ditaruh mana wajahnya karena terlalu malu.
Mobil Zafran menepi, tidak lama laki-laki itu keluar dari mobil. Sementara Zalfa hanya melihat punggung pria itu. Ia mengenal napas panjang, akhirnya ia bisa menggerutu sepuasnya menyesali segala kebodohan yang ia lakukan.
"Astaghfirullah calon istri Zafran gini banget." Ucap Zalfa, sembari meraup kasar wajah. Tanggan itu kini beralih menyentuh dadanya, laju detak jantung yang terasa cepat bahkan keringat dingin yang membasahi tangganya, begitu mengganggu.
"Ini beneran yang namanya jatuh cinta ya?"
Rona merah tergambar di pipi Zalfa. Sepertinya baru pertama kali setelah 21 tahun lamanya ia menyendiri. Baru pertama kali ia merasa terbalas, menjadi suatu yang baru untuknya. Tentu ini bukan pertama kalinya ia merasa jatuh cinta, tapi ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang berani menghadapi Ayahnya untuk mengungkapkan bahwa dia serius dengan putrinya. Membayangkannya saja membuat pipinya kembali merona.
Suara tertutupnya pintu belakang membuyarkan lamunan Zalfa, ternyata Zafran itu telah menaruh sebotol bahan bakar untuk motornya. Kini laki-laki itu telah berada di sisinya.
"Kak? Ini kita khalwat loh, berduaan doang." Ucap Zalfa.
"Salah si Za, saya nggak membenarkan. Tapi lihat usaha saya, jendela semua saya buka dari keempat-keempatnya. Kan tadi saya udah ngelarang kamu sebisa saya." Zalfa menoleh sekitar, rasanya seperti naik motor hembusan angin begitu terasa menghempas wajah. Zalfa termenung.
Ini beneran calon istri Zafran? Hati Zalfa kembali bersuara. Menyadari kesalahan ada pada dirinya. Ternyata laki-laki selalu salah mungkin hanya mitos belaka. Kembali ia diragukan oleh dirinya sendiri.
"Kak?"
"Iya." Jawab santai Zafran.
"Melamar saya ada paksaan kah?" Zafran sekilas menoleh ke arah Zalfa. Pertanyaan Zalfa cukup mengejutkan Zafran. Kenapa gadis ini tiba-tiba berfikiran demikian.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?"
"Jujur kita tuh jauh banget kaya langit dan bumi. Maksudnya, Kakak yang seorang putra Kyai, calon dokter, bentar laki co-ass kan? Terus Ilmu agama dari sanad yang terpercaya, nasab yang baik. Mana mau sama saya yang cuma remahan ini?"
Zafran menggelengkan kepalanya, penyakit kebanyakan wanita selalu insecure atau memang kebanyakan manusia melihat dan merasakan hal yang terasa wah dibanding dirinya. Untuk sesaat Zafran tidak menjawab pertanyaan itu. Bukan tak mau menjawab, kini mobil mereka kembali ketempat awal mereka bertemu tadi. Zafran segera memarkirkan mobil, dan turun dari mobil diikuti Zalfa di belakangnya.
"Mana kuncinya!" Zalfa merogoh sakunya kemudian memberikan kunci motor. Ia hanya melihat Zafran yang melakukan pekerjaan yang seharusnya Zalfa kerjaan.
"Melihat kamu berbicara seperti tadi sepertinya saya akan menyesal." Dia berbicara dengan santainya, namun tidak dengan yang ia ajak bicara. Bagai tersambar petir saat itu juga.
"Maksudnya?" Tanya Zalfa.
"Saya nyari istri Za, teman hidup saya. Bukan buat nyari guru, nyari karyawan atau apalah itu. Saya justru akan menyesal kalau kamu ngerasa saya enggak pantas buat kamu, sia-sia sekali usaha saya untuk meyakinkan Umi, Abah, Papa dan Mama kamu. Apa kita menikah untuk bersaing, siapa yang paling atas? Siapa yang paling pintar? Paling sukses?" Ucap Zafran sembari mengisi tangki bensin yang kosong itu.
"Saya memilih kamu dengan berbagai pertimbangan. Buktinya kemarin saya kerumah buat mengenal kamu dengan baik. Kalau kamu ragu, kamu bisa menolak. Tapi kasih saya alasan yang jelas bukan sekedar kamu insecure dengan pencapaian saya." Lanjut pria itu. Zalfa mendengar ucapan Zafran deng seksama. Ia dihadapkan dengan laki-laki yang jauh dari segi latar belakang dan segalanya. Menikah bukan sesuatu yang sederhana, suatu ibadah yang tentu di dalamnya akan ada ujian, masalah, suka dan dukanya.
"Tapi kita enggak sekufu." Jawab Zalfa.
"Tahu darimana kita enggak sekufu? Kamu enggak kenal bagaimana saya, begitupun saya enggak mengenal kamu sepenuhnya. Kita cuma lagi belajar mengenal satu sama lain."
Gadis itu terdiam, tidak tahu harus menjawab seperti apa. Laki-laki itu memang benar, dia hanya mengenal latar belakang Zafran. Dia tidak tahu bagaiman keseharian dan bagaimana kehidupannya. Ia hanya menilai dari apa yang dia lihat, dengan keterbatasan matanya itu. Namun perkataan Zafran justru makin melihat bagaimana kekurangan yang ada pada dirinya.
"Saya ikhlas kalau Kak Zafran cari yang lebih baik dari saya." Zafran menghela napas, ia memalingkan wajahnya dengan pandangan kecewa. Bukan ini jawaban yang dia harapan. Laki-laki itu menatap keatas sembari menyugar rambut. Ia menarik napas dalam, menyembunyikan emosi yang cukup menyesakkan. Soal memahami wanita tidak segampang itu. Memang benar wanita itu makhluk yang cukup kompleks.
"Kamu belum selesai sama diri kamu sendiri, Za .... Oke, saya enggak akan melanjutkan ini kejenjang serius, sampai kamu selesai sama diri kamu sendiri. Assalamualaikum."
Laki-laki menaruh kunci diatas jok motor dan pergi meninggalkan Zalfa dengan raut wajah yang kecewa, tidak menyangka dengan jawaban yang ia terima dari gadis itu. Menikah adalah langkah baru untuk kembali menciptakan masalah yang baru, hanya orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri untuk melangkah ke jenjang ini. Menikah berarti memaafkan, memahami dan saling mengerti. Bagaimana akan mengerti orang lain? Memahami, mengerti dan berdamai dengan diri sendiri saja masih sulit untuk dipraktikkan.
Melihat Zafran pergi begitu menciptakan sedikit rasa bersalah dihatinya. Melihat punggung itu yang kini menghilang dari pandangannya. Ucapan Zafran terasa menyesakkan di hatinya. Apakah itu berarti Zafran memutuskan bahwa ia tidak akan melanjutkan rencana ke jenjang serius? Detak jantung yang melaju kencang tadi kini terasa berat dan menyesakkan. Mata yang tiba-tiba berembun.
Gadis itu menghela napas berat, ia segera menyalakan mesin motornya. Mungkin jika motor ini tidak kehabisan bensin hal dan obrolan seperti tadi tidak akan terjadi.
" Yang namanya jatuh tetap sakit ya."
—
Bersambung....
—
Annyeong Yeorobun! Ai am come back again.
Terima kasih teruntuk pembaca setia.
Menunggu itu enggak enak, asli. Mianhae!
Tetap belajar dan jaga kesehatan
Sampai jumpa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
General FictionGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...
