#Bab 37 : Menjadi Asing

2.7K 118 22
                                        

Cinta tak pernah menemui kata gagal

-Ai-

----

Suasana hening di antara manusia - manusia yang lelah akan dunia. Tersisa deru mesin kereta yang ter-alun. Laki-laki itu menoleh, yang ia lihat hanya pemandangan alam gelap gulita yang ditemani sinar rembulan. Lagi-lagi bulan nampak sendiri, bintang-bintang tak mau menampakkan diri atau ia sebenarnya dihalangi untuk terlihat bersinar lebih indah? Entahlah. Ribuan kata berisik di kepalanya, bahkan lewat kesunyian ini semakin terdengar jelas. Bolehkah laki-laki tetap merasa sedih? Bolehkah laki-laki menyerah? Bolehkan aku kembali berharap dan berusaha? Bolehkah aku mencintainya?

"Mas udah makan? Lemas banget kelihatannya." Ia menoleh kaget saat suara itu terdengar di samping. Seorang laki-laki dengan mata yang terlihat sayu memperbaiki posisi duduknya. Entah kenapa orang itu terbangun, padahal Zafran tak membuat suara sedikit pun.

Zafran mengangguk,"Sudah Mas."

"Tujuannya kemana Mas?"

"Semarang Tawang, Mas." Orang itu hanya mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengarkan jawaban. Ia menarik selimut yang hampir jatuh ke bawah. Udara dingin begitu menusuk ke dalam kulit. Di gerbong itu hanya dua makhluk ini yang masih terjaga, padahal perjalanan masih cukup jauh untuk tujuan Zafran.

"Kalau saya Pekalongan, Mas. Masnya ini pulang kampuang, kerja atau kuliah, Mas?"

"Kebetulan lagi ada urusan keluarga di sana, Mas." Orang itu kembali mengangguk, meraih sebotol air mineral di saku kursi dihadapannya. Kemudian ia teguk hingga tandas tak bersisa.

"Nyari kerja sekarang susah 'e Mas. Kayaknya perusaan - perusaan di luar sana minta yang menguasai segala elemen, gimana lagi gini nasib jadi WNI." Zafran hanya menganggukkan kepala, sembari menyimak keluh kesah pria asing itu. Zafran tersenyum tipis menanggapi, perbicangan - perbincangan seperti ini selalu ia dengan, saat di meja rapat, saat duduk di depan minimart, bahkan saat naik ojek online.

"Usia dua tujuh sekarang, malah kena PHK. Calon istri minta cepat-cepat di lamar, orang tuanya udah gembar-gembor. Capek sebenarnya sama orang tuannya, kalau enggak buru-buru di lamar katanya nanti dia di jodohin sama orang. Aku tho harus gimana, Mas?"

Kedua pelipis Zafran mengernyit, bibirnya terangkat meringis. Kenapa? Kenapa dia mendengar masalah yang lebih kompleks darinya. "Ngopi ayo, Mas! Saya traktir."

Mendengar ajakan Zafran, pria itu tersenyum girang. Keduanya beranjak dari tempat duduk. Mereka melangkah hati-hati melewati orang-orang yang masih terlelap. Mereka bergerak menuju gerbong restorasi. Duduklah mereka di kursi samping jendela. Memesan secangkir kopi hangat untuk mereka seruput. Cerita mulai mengalir, anehnya mereka akrab dalam sekejap. Seperti seorang yang pernah mengenal sebelumnya. Apa karena kesamaan cerita tragis cinta dan perempuan diantara mereka?

Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Pria yang di sampingnya tadi sudah turun di halte sebelumnya. Semarang Tawang tinggal satu jam lagi. Esok senin ia harus kembali beraktivitas. Zafran memejamkan mata, rasa kantuk tiba-tiba menyergap, setengah jam rasanya bisa untuk tidur sekejap. Rasanya baru saja tertidur, namun suara announcer mengumumkan bahwa sesaat lagi akan tiba di stasiun Semarang.

Keluarlah di dari stasiun yang cukup lengang subuh ini. Tak sedikit orang yang tidur ruang tunggu stasiun. Mereka yang menunggu jam keberangkatan, bahkan pelancong yang tak tahu harus menginap dimana, atau seperti dirinya yang menunggu taxi online. Kota ini memang nyaman, dengan seribu cerita katanya, kota dengan keindahan citylight, bahkan kota dengan seribu kisah masa kecilnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Presma Pesantren Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang