Hembusan angin terasa menyerbu wajahnya. Rasa di hati masih terlalu sesak untuk menyadarkan. Deru mesin motor menyembunyikan isak tangis pilu, dengan congkaknya lelehan air mata begitu saja mengalir. Hari demi hari kejutan demi kejutan ia terima. Sebuah kenyataan bahwa Zafran berucap ingin serius kepadanya. Namun dihari selanjutnya, dia juga yang memutuskan begitu saja. Hati mana yang tak terasa dipermainkan. Gadis itu ragu, ia merasa tidak pantas. Namun ia hanya ingin melihat perjuangan dari laki-laki itu. Namun pada akhirnya, dia benar-benar berniat meninggalkan. Segitu sajakah di diperjuangkan?
"Gue yang jahat. Tapi ini sakit banget Ya Allah."
Isi kepala yang riuh ricuh, jalanan hari ini cukup ramai. Motor yang ia kemudikan berjalan pelan. Anehnya meski tak ada mode auto pilot pada motornya, motor itu masih berjalan sesuai arah jalan pulang. Disertai air mata yang tak kunjung berhenti juga. Bunyi kelakson terdengar nyaring di telinga. Ia merasakan tubuhnya melayang di udara. Aneh, suara klakson tadi berubah menjadi dengungan keras di telinganya. Seketika semuanya menjadi gelap.
***
Masih diliputi dengan rasa kecewa Zafran, langkahnya di sambut oleh Kakaknya dengan tas yang begitu saja di lempar ke arah Zafran. Ia hanya menerima tas itu, tidak membalas dengan candaan seperti biasanya.
"Joging lama banget." Tak menjawab pertanyaan itu, ia segera mengambil satu koper miliknya dari tangan Gus Alif.
"Ada insiden tadi— mau pulang sekarang?" Tanya Zafran kepada Umi Halimah, mengalihkan pertanyaan lanjutan dari Gus Alif. Rasanya tidak elok menceritakan hal tadi kepada mereka. Pikir Zafran hal itu mungkin akan membuat mereka kecewa.
"Kita mampir dulu ke rumah Pak Ikhsan, Nak."
Tanpa membantah Zafran mengangguk. Debar dadanya masih begitu terasa, langkah kaki yang semakin berat. Memikirkan bagaimana respon dari keluarga besar jikalau tahu Zafran tidak akan melanjutkan hubungan selanjutnya dengan Zalfa.
Satu persatu keluarga memasuki mobil, saat Zafran akan membuka pintu kemudi, sebuah tangan menghalanginya.
"Biar apa aja yang nyetir, kusut banget wajah mu Dek...Dek!"
Zafran tersenyum canggung, berusaha menyembunyikan segalanya. Namun raut wajahnya tidak bisa berbohong dengan orang terdekatnya. Segeralah Zafran pergi ke pintu samping kemudi. Menarik napas dalam, menyiapkan jawaban untuk pertanyaan - pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh Gus Alif.
Disertai doa, mobil melaju perlahan meninggalkan hotel. Obrolan mulai tercipta dari sini, tentang oleh-oleh apa yang harus mereka beli saat di Jakarta, hingga haruskah ke objek wisata terkenal di Jakarta. Di luar perkiraan tidak satupun dari mereka yang menyinggung tentang Zalfa kali ini. Padahal kemarin mereka begitu antusias bertanya tentang Zalfa pada dirinya.
Sampai mobil itu menepi di suatu rumah yang tak asing itu. Satu persatu penumpang keluar dari mobil. Tersisa Zafran dan Gus Alif yang masih di dalam. Alif menatap Zafran dengan rasa penasaran. Perlahan ia menepuk pelan pundak Zafran.
"Ada masalah?" Tanyanya.
"Nanti saja Bang ceritanya." Tidak mau membahas ini, Zafran keluar begitu saja. Meninggalkan Alif yang dilanda penasaran. Langkah Zafran memasuki rumah yang cukup megah itu. Kalau dipikir-pikir, justru Zafran yang akan insecure soal ini. Zalfa lahir dari keluarga terpandang, hidup dilingkungan yang berkecukupan. Namun masih hidup sederhana dan menetap di pesantren sederhana milik Abahnya.
Mereka di sambut oleh keluarga Zalfa. Bahkan Pak Ikhsan, rela menyempatkan pulang ke rumah untuk menemui keluarga itu. Zafran melihat sekelilingnya, wanita yang ia temui tadi pagi belum juga menampakkan diri. Apa benar tidak mau menemui ku? Itulah yang terbersit di pikiran Zafran.
"Zalfa-nya kemana?" Akhirnya pertanyaan ini terucap dari bibir Umi Halimah, pertanyaan ingin juga Zafran tanyakan.
"Katanya tadi keluar sebentar, sampai sekarang belum pulang dia." Sahut Ibu dari Zalfa. Umi Halimah hanya menganggukkan kepala, tidak dengan Zafran. Pertanyaan itu terjawab justru menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain dalam benaknya.
Apakah dia baik-baik saja? Apa motornya mogok lagi? Dia enggak bawa dompet dan ponsel kan tadi? Obrolan dan tawa renyah masih terdengar. Zafran ragu untuk menanyakan ini. Beberapa kali dia melihat ponsel, angka menit mulai berubah di ponsel. Dia ingin menelepon tapi tidak tahu harus menelepon siapa. Hatinya gusar dan tidak tenang. Sampai mulutnya tak tahan untuk bertanya.
"Jam sepuluhan tadi saya ketemu Zalfa Tante. Motornya kehabisan bensin, jadi saya belikan buat dia- Tapi kami berpisah di minimarket, saya kira sudah dirumah." Jelas Zafran.
"Palingan ke rumah temannya, Zaf. Temu kangen mungkin." Tanggapan santai terdengar.
"Tapi coba deh Mama telepon dulu, Pah." Bu Salma hendak mengambil ponsel, namun interupsi Zafran mencegahnya bangkit.
"Zalfa enggak bawa Hp, Tante. Kayaknya juga enggak bawa dompet tadi."
Suasana berubah seketika, tawa renyah merubah menjadi kekhawatiran. "Ke rumah temannya mungkin, Mah. Coba telepon teman deketnya sekitar sini." Bu Salma menuruti perintah suaminya itu. Beberapa panggilan tertuju teman Zalfa terjawab. Namun, tidak satupun yang mengetahui keberadaan Zalfa, bahkan Zalfa pulang dari pesantren saja mereka pun tidak mengetahui. Raut wajah mereka mulai panik dan gelisah.
"Ada masalah kah Zaf tadi pagi ketemu?" Tanya Kakak Ipar Zalfa. "Soalnya Zalfa orangnya enggak suka melipir atau kelayapan."
Peluh mengalir dari pelipis Zafran, tangannya ia genggam erat. "Tadi ada sedikit masalah sama dia, Mbak. Tapi bukan masalah besar."
Bukan masalah besar katanya. Zafran mulai bertanya-tanya apakah ini akibat ucapannya tadi? Apakah itu menyakiti dia. Detak jantung seperti tak normal, cemas, khawatir, mendominasi perasaannya. Zalfa bukan anak kecil lagi, ia pasti bisa menjaga dirinya. Zafran berusaha meyakinkan dirinya, bahwa gadis itu baik-baik saja.
Ponsel di atas meja milik Pak Ikhsan berbunyi. Ia segera mengangkat telepon masuk itu. Semua berharap itu Zalfa yang mengabarinya entah dari ponsel siapa yang di pinjam. Tapi suara tegas laki-laki terdengar dari sana. Kebingungan terpancar dari raut Pak Ikhsan.
"Zalfa Pah?" Pak Ikhsan menggeleng. Wajah penuh harap masih terlihat jelas disana.
"Iya saya pemilik Yamaha Fazio nopol B3578 SYC." Entah apa yang ditanyakan si penelpon itu.
"Zalfa bawa motor Fazio biru ya, Ma?" Bu Salma mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan Pak Ikhsan.
"Dari Polsek." Ucap Pak Ikhsan. Ia menyalakan loudspeaker pada panggilan tersebut.
"Ada kabar yang harus kami sampaikan… satu jam lalu terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Bintaro Raya. Kecelakaannya melibatkan dua sepeda motor dan sebuah truk kontainer. Kini korban sudah kami evakuasi ke rumah sakit terdekat. Apakah Bapak kenal dengan penggunaan motor ini?"
"Bisa di beritahukan ciri-cirinya, Pak?"
"Wanita tinggal sekitar 160 cm, berhijab, memakai kaos warna putih lengan panjang dan celana training abu-abu. Dengan sendal Crocs warna hitam."
"Mah?" Pak Ikhsan menatap istrinya, berharap bukan anaknya yang menaikinya. Namun mustahil, istrinya mengangguk berat. Waktu terasa berhenti, lidah Pak Ikhsan kelu untuk menjawab. Ia menarik napas berat.
"Itu anak kami, Pak. Sekarang di rumah sakit mana, Pak?"
"Korban dibawah ke RSUD Kebayoran Lama. Kami harap Bapak dan keluarga bisa segera menyusul."
Hati orang tua mana yang tak mencelos saat mendengar berita seperti ini. Tanpa mengingat ada tapi penting, Pak Ikhsan segera berlari keluar. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana putri satu-satunya yang ia jaga dan rawat dengan penuh cinta dan kasih, berakhir di bed rumah sakit. Tahukah perasaan Zafran kali ini?
—
Bersambung.
—
Kemaleman banget ya ini
Jangan lupa vote dan coment guys. Komen yang banyak agar penulis cepat update.
Tetap belajar dan jaga kesehatan.
— See you —
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
General FictionGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...
