(Completed)
Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri.
Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lucy baru selesai interview.
Tenaganya seperti tersedot oleh HR yang barusan ditemuinya. Semua hal dipertanyakan hingga Lucy mengenyit penuh keheranan. Memangnya kalau mau bekerja, urusan keluarga akan jadi tolak ukur dia bisa kerja apa tidak? Memangnya juga kalau hampir enam tahun bekerja di bidang yang sama itu sia-sia?
Lucy tidak paham sedikit pun yang HR perusahaan tadi katakan dengan korelasi formasi yang dilamarnya. Semuanya muter-muter tidak jelas. Harusnya menanyakan kemampuan yang Lucy punya, tapi malah bertanya Lucy anak ke berapa.
Selama tiga puluh menit sesi interview, Lucy sangat menahan dirinya untuk tidak mengamuk karena tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Namun, HR bernama Tendrius itu berhasil mengikis kesabaran Lucy dengan mulut kurang ajarnya.
Pada akhirnya Lucy gagal lolos interview kerja karena membalikkan meja. Dia bahkan sampai heran karena Tuhan bermurah hati memberikan kekuatan sedahsyat itu untuk mengamuk di perusaahan orang.
Sangat heboh sampai membuat security menenangkan kedua belah pihak. Lucy merasa direndahkan. Pengalaman kerjanya tidak layak untuk dicaci maki padahal itu merupakan salah satu dari harga dirinya. Lantas salah kah kalau Lucy belum menikah saat usianya sudah dewasa? Memang salah kalau Lucy tidak bisa berbahasa Korea padahal jelas-jelas perusahaan yang dilamarnya adalah perusahaan Indonesia?
Di mana letak kesalahannya? Si Tendrius Tendrius itu saja yang sok mencari gara-gara padahal Lucy datang dengan sopan dan menunjukkan keprofesionalitasannya.
"Saya pastikan kamu nggak bakal dilirik perusahaan mana pun. Sikap kamu yang bar-bar itu akan bikin kamu kesusahan cari kerja ke depannya," teriak Tendrius sambil menuding Lucy dengan geram. Orang itu ditahan oleh dua orang HR yang tadi juga mewawancarai Lucy.
"Ya, silakan terserah Bapak saja. Penghinaan Bapak pada saya juga akan saya viralkan dengan detail. Kalau perlu sebut nama perusahaannya juga."
"KAMU NANTANGIN SAYA?"
Pada akhirnya Lucy diseret paksa untuk meninggalkan perusahaan. Dia mendecak ketika sadar kemejanya sobek karena melawan dua security bertubuh besar tadi.
Sialan.
Tidak ada kata lain yang Lucy lontarkan untuk mendeskripsikan kekesalannya.
Selepas momen menegangkan itu, hidup Lucy menemui banyak kesialan. Setiap kali melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan besar, banyak yang menolak CV-nya padahal dia memiliki banyak pengalaman. Kalau ingat omongan Tendrius hari itu, Lucy selalu mengumpat dengan kesal. HR gila itu rupanya benar-benar membuat Lucy tidak bisa bekerja di perusahaan yang diinginkannya.