Siap tersenyum?
*
Lucy kaget saat melihat Jeha tiba-tiba menerjang tubuhnya sambil menangis. Meski tidak bersuara, Lucy bisa merasakan buliran hangat itu perlahan merembes di pundaknya. Sesekali pundaknya pun merasakan hangatnya bibir Jeha yang sedikit terbuka karena sibuk menangis di sana.
"Kenapa?"
Jeha menggeleng.
"Habis direstui harusnya bahagia nggak sih, Je? Kok nangis gini?"
Saat Lucy berencana melepas pelukannya, Jeha masih menolak. Dekapannya pada tubuh Lucy kian menguat. Tangisnya mulai reda, tapi belum juga mengatakan apa-apa. Ada setidaknya sepuluh menit mereka bertahan di posisi itu. Baru setelah dirasa cukup, Jeha menjadi orang pertama yang melepaskan pelukan.
Lucy mendongak, menatap wajah Jeha yang sembab. Tangannya tergerak untuk mengusap sisa air mata di sekitaran pipi cowok itu. Diusap selembut itu oleh Lucy membuat tangan Jeha ikut menahan tangan cewek itu agar tetap di sana untuk beberapa waktu.
"Kenapa? Gue baru kali ini lihat lo nangis sesenggukan ini loh."
"Gue terharu."
Lucy mengernyit. "Karena bokap sama nyokap gue suka banget sama lo?"
Jeha mengangguk. "Selain itu gue juga dapat hadiah dari bokap lo."
"Hah?"
Jeha malah tersenyum.
Beberapa jam sebelumnya.
Pertemuan mereka dengan orang tua Lucy banyak meninggalkan kesan mendalam campur haru bagi Jeha khususnya.
Siapapun pasti gugup jika akan bertemu calon mertua. Jeha gugup setengah mati ketika jam sudah bergerak dan sebentar lagi mereka akan bertemu dengan orang tua si cewek. Lucy mah kalem. Cewek itu sibuk menyapukan blush on tanpa peduli dengan hawa cemas Jeha sejak tadi.
"Lo yakin mau pakai jas, Je? Kemeja aja nggak sih biar nggak terlalu formal?" Lucy menceletuk saat sudut matanya melihat Jeha yang tengah mondar-mandir khawatir.
"Hm, tapi bagusan ini nggak sih?"
"Nope. Lo kayak mau rapat. Pakai kemeja aja."
Karena tenaganya sudah habis untuk overthinking, Jeha tidak mendebat Lucy dan iya iya saja saat cewek itu mengeluarkan kemejanya dari lemari. Lucy sempat menilik ekspresi Jeha yang macam zombie itu, tapi saat hendak bertanya, cowok itu buru-buru melesat ke kamar mandi untuk ganti baju.
"Lah, biasanya asal lepas di depan gue, kok tumben beradab?"
Tidak ada sahutan.
Lucy terkekeh penuh goda. "Wajah gugupnya kelihatan banget."
"Gue nggak gugup!" balas Jeha setelah berganti baju.
"Tapi ente banyak bengong. Biasanya lepas celana aja di depan gue, eh tumben di kamar mandi."
Jeha mendecak. Jasnya dilempar begitu saja ke atas kasur lalu tiba-tiba merebahkan tubuhnya di sana. Cowok itu terlentang sambil menatap langit-langit kamar dengan deru napas berat. Lucy tergerak untuk menyentuh perutnya yang tertutup kemeja. Siapa tahu bisa sedikit melegakan kekacauan isi kepala Jeha saat ini.
"Tenang, Je. Lo takut banget kenapa sih? Sejak kemarin makan nggak enak tidur nggak nyenyak. Nggak biasanya lo kayak gini."
"Gue cuma khawatir."
"Khawatir kenapa?"
Buru-buru cowok itu bangkit dati rebahannya dan mengambil tangan Lucy untuk ditaruh di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romansa(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)