Part 17. Penegasan

5.1K 397 92
                                        

Setelah Harret menyetujui permintaan Jeha untuk menggantikan Lino menyutradari film Demain Inconnu dan telah diacc oleh pihak Colorgraph, masalah seharusnya sudah teratasi. Awalnya memang seperti itu, tapi sepupu Jeha itu berhasil membuat Lucy tidak habis pikir dengan segala tingkah lakunya.

Masalah yang harusnya sudah tidak perlu dibahas pun kembali memanas.

Pagi hari, Lucy bangun tidur seperti biasanya; ngucek mata, ngaca dikit untuk ngecek jerawat ada atau tidak, lalu ritual kebas-kebas kasur untuk menghilangkan debu dan juga rontokan rambut.

Lantas ketika langkah kakinya baru saja berderap menuju kamar mandi, hapenya meraung. Tidak mungkin Lucy mengabaikan panggilan itu. Matanya menyipit curiga saat nomor Charez tiba-tiba muncul di sana. Pasalnya, Charez adalah tipikal orang yang jarang menelepon Lucy. Biasanya Yuki atau Shania. Namun, pagi kali ini cowok itu sampai serepot itu menelepon Lucy hanya untuk menyampaikan kalimat yang membuat Lucy membulat seketika.

"Lucy, lo kemarin di mana? Harret ngotot pengen Wilmey ganti peran."

Lucy menyambut paginya dengan hela napas berat. Semalam Lucy memang tidur lebih awal karena darah rendahnya kumat. Cewek itu menarik selimut rapat-rapat tepat setelah menenggak obat. Namun, siapa sangka jika tidurnya yang terlalu dini justru membuatnya ketinggalan informasi.

Sambil menerima panggilan Charez, Lucy mengecek pesan yang Yuki kirimkan padanya. Panggilan WhatsApp hingga puluhan dan pesan sepanjang bon belanjaan pun memenuhi ruang obrolan mereka.

Lucy memijit hidung mancungnya. "Rez, sorry, gue semalam agak pusing. Terus gimana sekarang?" Tanya Lucy memastikan.

"Pembacaan naskah bakal dimulai jam sepuluh. Harret pengen Wilmey mundur dari peran utama dan jadi Raline, si antagonis di cerita. Buat jaga-jaga, lo datang lebih awal ya. Itung-itung kita rapat kalau saja ada kejadian yang tidak diinginkan. Gue baru tahu si Harret bawel dan punya banyak aturan njir. Tahu gitu gue nentang dia jadi sutradara utama ketika rapat hari itu. But, udah terlanjur jadi bubur. Produser juga udah ketok palu kalau Harret cocok gantiin Lino."

Suara Charez terdengar sinis dan itu berhasil membuat rasa pening kembali Lucy rasakan. Pagi hari bukannya sarapan sereal macam di drama-drama, dia justru mual karena harus mengurus pekerjaan yang sejujurnya bukan bidangnya.

"Oke, entar gue berangkat lebih awal. Gue siap-siap dulu," balas Lucy.

"Oke, Lucy."

Setelah menutup panggilan Charez, Lucy mandi dan dandan tipis-tipis lalu pergi ke Colorgraph. Sebelumnya dia sempat menemui Jeha dan cowok itu juga terkejut saat mendengar bahwa Harret ingin mengganti peran Wilmey.

"Lah, dia udah setuju kan bakal tetep pakai Wilmey? Kenapa tiba-tiba nolak lagi? Dia kayak abege aja anjir plin-plan banget. Gue telepon dia bentar—eh, lo udah sarapan?"

Lucy langsung menggeleng dengan wajah loyo. Tidak dibuat-buat sebab dia benar-benar loyo dan pusing.

"Gue bikin bubur tadi. Makan dulu gih, gue mau nelepon Harret."

Begitulah akhirnya Lucy menghampiri bubur buatan Jeha sementara cowok itu menelepon Harret. Cowok itu beberapa kali terlihat kesal karena panggilannya tidak digubris oleh Harret. Baru ketika percobaan kelima, Harret mengangkat panggilannya. Baru saja Jeha hendak mangap untuk mencerca, kalimat Harret sudah lebih dulu nyaut.

"Gue sutradara, gue berhak milih siapa yang pantas dan nggak pantas."

"Tapi lo kemarin bilang bakal tetep pakai Wilmey, kan? Mau ganti siapa sih? Emang ada yang cocok selain Wilmey?"

"Too many, Brow. Salah satunya adalah Selene. Dia cocok meranin Yuna."

Jeha tersedak ludahnya sendiri. "Selene si temen lo itu? Bukannya dia di Amerika ya?"

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang