Part 05. Kumpul

8.5K 524 89
                                        

Jeha tidak percaya dengan omongan mamanya. Cowok itu heboh menyangkal.

"Mama ngawur kali."

"Mana ada. Orang dia kerja di perusahaan Mama."

"Di Aurora?"

Mama Jeha mengangguk. "Sejak empat bulan yang lalu. Mama nerima dia karena dia berbakat. Lalu Mama mulai tahu kondisi dia karena nggak mungkin kan Mama diam-diam saja saat tahu crush anak Mama ada di depan mata. Sebenarnya juga Jane bilang buat nggak ngasih tahu kamu, tapi Mama pengen aja soalnya nggak mau waktu kamu sia-sia buat nunggu dia."

"Maksud Mama gimana?"

"Selain udah nikah, dia juga udah punya anak, Jeremy. Dia udah bahagia sama keluarganya saat ini."

Jeha bak disambar petir saat itu juga. Awalnya dia tidak mau percaya, tapi sang mama berhasil membuktikannya. Potret foto keluarga Jane yang diam-diam mamanya ambil dari meja kerja Jane itu membungkam Jeha sepenuhnya.

"Mama ngefoto ini karena yakin kamu pasti nggak bakal percaya. Tapi kamu harus tahu soalnya Jane bukan untukmu. Mama akan marah jika kamu kepikiran untuk ngerebut dia dari suaminya. Dia ibu dari anak suaminya, Jeremy."

Jeha speechless.

"Selama ini Mama nggak ngomong karena nunggu waktu yang tepat. Tapi waktu itu Naka pernah bilang sama Mama katanya kamu sempat depresi nyariin dia makanya Mama ngelakuin ini. Semoga ini nggak ngebuat kamu benci sama Mama, ya Jeremy."

Kalau sang mama memanggilnya Jeremy, tandanya wanita itu sedang serius dan tidak sedikitpun main-main dengan kalimatnya. Jeha masih bungkam, masih tidak menduga mendapat kabar semengejutkan itu.

Mamanya menepuk pundak Jeha. "Semoga setelah ini kamu move-on ya, Nak."

Selepas kepergian mamanya dari rumah, Jeha merenung sangat lama. Cowok itu tadinya sempat nangis sebentar, tapi sudah tenang dan sedang memegangi kepalanya di depan komputer sambil berkali-kali menghela napas gusar.

Jadi, tiga tahun yang lalu Jane menghilang itu karena cewek itu akan menikah lalu setelahnya melahirkan seorang anak? Jeha makin menggeram saat memikirkan kenangan itu. Lantas ketika Naka datang, cowok itu menjelaskan segalanya.

"Sorry, nyokap lo ngelarang gue ngomong apapun soal Jane karena katanya beliau yang mau ngomong langsung ke lo, Je."

Jeha tidak menjawab. Cowok itu masih sibuk memijat pelipisnya.

"Gue yakin nyokap lo udah jelasin semuanya. Jadi, gue juga harap lo lupain Jane. Dia udah punya keluarga yang bahagia."

"Siapa suaminya? Orang Korea?" tanya Jeha kemudian.

"Keturunan Indonesia-Korea sama kayak Jane."

"Namanya?"

"Marklen Lee."

Jeha langsung meraup wajahnya dengan frustrasi. Namanya terdengar asing di telinganya sehingga dia tidak tahu pria seperti apa Marklen Lee itu. Tapi dari cerita mamanya tadi, Jeha yakin satu hal. Jane mencintai Marklen Lee.

"Kalau lo kepo, dia arsitek."

Jeha diam saja. Kepalanya kembali berdenyut saat mengetahui fakta yang datang bertubi-tubi.

"Anak mereka gimana?"

"Namanya Ailee Jennie Lee. Sekarang usia dua tahun."

Jeha memang masih belum memercayai semuanya. Tapi dia tidak bisa menyangkal saat semua bukti senyata itu. Dia ingin berteriak keras, tapi tenggorokannya seperti tersumbat. Akhirnya dia hanya bisa memaki dirinya sendiri dalam hati. Jari-jari tangannya terus mengacak rambutnya dengan frustrasi. Di depannya itu Naka hanya bisa menghela napas. Cowok itu paham bahwa Jeha pasti sulit menerima kenyataan. Apalagi selama ini Jeha sangat berharap memiliki ending yang bahagia bersama Jane. Lantas ketika semuanya tidak sesuai harapan, Jeha langsung kecewa luar biasa.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang