Time flies too fast.
Jeha tidak tahu sejak kapan mulai sejujur itu mengakui perasaannya. Mungkin jawabannya setelah bertemu Lucy. Sebelum mengungkapkan perasaannya hari itu, Jeha memang sempat ragu. Selain karena Lucy adalah teman barunya, Jeha takut jika itu hanya perasaan sesaat karena takut kehilangan Lucy. Namun, semakin ke sini, Jeha semakin yakin bahwa itu bukan rasa sesaat.
Cowok itu benar-benar jatuh cinta pada Lucy. Malah cinta banget sampai dia sendiri juga heran. Dia tidak ingin Lucy menjauhinya sebab dia ingin terus bersama cewek itu. Bukan sebagai teman, tapi sebagai seorang kekasih. Tiap kali melihat Lucy, dia bahagia. Tiap Lucy tidak ada di dekatnya, Jeha seringnya loyo macam kangkung yang ditumis kelamaan.
Tanpa Jeha sangka, cewek itu banyak mengubah kesehariannya. Sekalipun mulutnya kadang masih nyelekit jika bicara pada Lucy dengan niat menggoda ataupun asal ceplos, Jeha amat mencintainya. Lucy terlihat menunduk karena kecapekan pun dia langsung heboh dan menyuruh Lucy untuk istirahat. Dia bahkan lebih aware sama kesehatan Lucy dibandingkan dirinya sendiri. Seperti halnya kali ini. Dia lagi demam, tapi melihat Lucy kecapekan campur kelaparan membuatnya bangkit dari kasur dan memasakan cewek itu makanan.
Begitu selesai mandi, Lucy kaget Jeha memasak untuknya dengan hidung berair yang berkali-kali dia lap pakai tisu.
"Lo lagi sakit njir." Kata Lucy buru-buru meraih centong yang Jeha pegang untuk mengambilkannya nasi ke piring.
Jeha nyengir dan Lucy sigap memapah cowok itu masuk ke kamar.
Cowok kalau lagi demam tuh bawaannya nyebelin. Omongannya melantur seakan hidupnya tidak lama lagi. Lucy mendengus lelah dengan kelakuan Jeha yang seharian ini minta ditemaninya rebahan mentang-mentang libur bekerja. Lucy tidak masalah dengan mode Jeha yang clingy begitu saat sakit, tapi dia encok kalau hanya menuruti Jeha rebahan seharian.
Mana kalau dilepaskan pelukannya langsung ngambek katanya Lucy sudah tidak sayang. Otomatis Lucy mengalah. Berdebat dengan orang sakit apalagi cowok, Lucy jelas akan kelelahan mental. Makanya tepat setelah Jeha benar-benar tertidur setelah minum obat, Lucy enyah sebentar dari Jeha. Dia meregangkan tubuhnya beberapa saat sebelum melenggang keluar dari kamar.
Saat keluar kamar, dia mendapati Jasmine tengah sibuk menata makanan yang dibawanya di atas meja makan.
"Lucy, Jeha udah baik-baik aja?" tanya wanita itu.
"Lagi tidur tadi, Tante. Abis minum obat juga. Tante udah dari tadi?" tanya Lucy sambil membantu Jasmine.
"Baru aja sampai karena Tante khawatir. Soalnya kalau sakit Jeha jadi nyebelin. Ngomongnya aneh-aneh pula."
Lucy mengangguk setuju. "Iya, Jeha tadi gitu sampai aku ikut tidur bentar. Tapi sekarang udah turun panasnya."
"Syukurlah. Kamu sendiri udah makan?"
"Belom, Tante."
"Oh, kebetulan nih. Makan masakan Tante ini aja. Dijamin enak kok."
Dua perempuan itu pun akhirnya makan bersama. Jasmine membawa sup dan daging sapi bumbu kecap. Lucy yang niatnya ingin makan telur gulung dicampur daun bawang pun langsung bersyukur melihat makanan enak itu telah tersaji di depannya.
"Ini Tante masak sendiri?"
Jasmine tersenyum. "Tentu saja. Meski Tante payah dalam baking, Tante pandai masak kok. Approved by bapak dan anaknya."
Lucy tersenyum setuju. Dia menyendok sup dan membawanya ke mulut. Kunyahannya itu diamati oleh Jasmine. Wanita itu duduk mengamati dengan penuh harap, menunggu Lucy untuk memberikan penilaian. Lantas ketika Lucy tersenyum sambil mengacungkan jempolnya, Jasmine mengembuskan napas dengan lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)