Part 26. Gemuruh

5.3K 397 51
                                        

To everyone, happy Tuesday!

***

Setelah prahara yang terjadi dan diselesaikan kurang lebih satu jam seusai Jeha dan Harret datang ke kantor polisi, Lucy pulang bersama Jeha menaiki taksi. Harret harus pulang lebih dulu karena ada urusan mendadak. Lucy justru curiga Harret sengaja menempatkannya bersama Jeha dan pergi dengan sok beralasan ada kepentingan. Alhasil kini dia disergap kecanggungan bersama Jeha di depan kosan.

"Lo boleh bayar uang tadi semampu lo, gue nggak akan nagih dalam waktu dekat."

"Iya."

"Untuk sementara, pakai mobil gue aja. Mobil lo perlu dibenerin juga, bagian depannya sampai ringsek begitu."

"Iya."

"Sejak tadi iya iya mulu," protes Jeha menanggapi sahutan Lucy yang terlihat tidak begitu tertarik dengan obrolannya.

Lucy memutar bola mata jengah. "Lah, terus gue harus jawab gimana?"

"Ya apa kek gitu yang bervariasi."

Lucy mendecak. "Lagi fakir diksi."

Jeha menatap Lucy, tapi cewek itu bersedekap sambil membuang muka. Sudah beberapa menit berlalu, tapi bukannya bicara banyak, mereka hanya cuap-cuap seperlunya. Jeha sudah berusaha mengajak Lucy bicara banyak, tapi cewek itu menanggapi dengan ala kadarnya.

"Lo nggak mau bilang makasih?" tanya Jeha.

"Di kantor polisi tadi udah kan. Mau lagi?"

"Ya, traktir makan apa gimana kek. Gue belum makan."

"Gue lagi nggak pengen nraktir lo. Mending lo pulang aja, gue pengen istirahat. Kepala gue pusing."

"Perlu ke dokter nggak? Kali aja tadi ada benturan yang bikin lo pusing."

Lucy kontak mendelik. "Nggak usah lebay, gue baik-baik aja."

"Tapi wajah lo pucet."

Lucy menyangkal. "I am totally fine right now. Lo pulang aja. Gue rasa lo bisa pesen taksi sendiri, kan?"

Jeha mengangguk. "Tapi lo beneran nggak apa-apa?"

Lucy mengangguk yakin. Namun, Jeha tidak begitu percaya. Cowok itu memajukan langkah untuk melihat wajah Lucy lebih dekat. Tindakan yang tiba-tiba itu sontak membuat Lucy mengerjap kaget. Tubuhnya termundur secara refleks saat punggung tangan Jeha mendadak menyentuh keningnya.

"Oh, lo demam, Lucyyana."

Lucy tergagap. Dia tetap mematung bingung sekalipun Jeha kembali menarik tangannya.

"Beneran nggak mau ke dokter? Mumpung gue di sini."

"Please, gue bukan anak kecil. Kalaupun gue sakit, gue bisa pergi ke dokter sendiri. Demam doang bukan lumpuh."

"Oh, ya udah."

Entah kenapa, rasa kecewa mendadak Lucy rasakan tepat setelah mendengar balasan Jeha yang terkesan singkat dan tidak ada usaha membujuknya. Namun, harus Lucy sadari bahwa dia tidak berhak untuk protes. Justru jika Jeha masih berada di dekatnya, jantungnya yang tidak aman. Dia sudah berusaha mati-matian untuk mengenyahkan nama Jeha. Segalanya bisa porak-poranda kalau dia masih berharap pada jenis manusia bernama Jeremy Harrison Bimantara itu.

"Pulang aja. Gue mau tidur," usir Lucy kemudian.

Cewek itu berbalik badan, lalu menghela napas sambil mulai melangkah meninggalkan Jeha. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengenyahkan segala gerombolan kesal campur gengsi yang bersemayam di dadanya. Walaupun Jeha telah menolongnya, Lucy masih mengobarkan bendera perang padanya.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang