Lucy baru saja membuka mata dan menyibak selimut ketika hapenya berbunyi nyaring. Cewek itu mendecak, tapi memilih mengangkatnya dengan mata yang masih setengah terbuka.
"Lucy, cepetan datang, kucingnya berak di sofa."
Itu suara Jeha. Suaranya terdengar khawatir.
Lucy loading sebentar. Dia masih mengumpulkan nyawa untuk bisa menyahut ucapan Jeha dengan tepat.
"Lu?" Jeha memanggilnya lagi.
"Iya, gue denger. Gue baru bangun. Tiga puluh menit lagi gue ke situ. Nggak apa-apa?"
"Kelamaan njir. Baunya keburu ke mana-mana."
Lucy memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napasnya. "Kasih gue waktu lima belas menit deh. Perjalanan ke rumah lo sepuluh menit dan yang lima menit buat gue sikat gigi sama cuci muka."
"Oke."
Lucy mau protes, tapi itu resikonya. Lagipula Jeha menggajinya bukan untuk leha-leha.
Setelah menerima panggilan itu, Lucy bergegas cuci muka dan sikat gigi. Dia tidak sekalipun peduli dengan penampilannya dan pergi menuju rumah Jeha dengan sedikit tergesa.
Ya, siapa sangka jika ternyata rumah mereka hanya berjarak satu kilometer, di mana Lucy bisa lewat gang-gang komplek untuk sampai di rumah Jeha. Tentu saja mereka beda perumahan. Perumahan yang Jeha tempati empat kali lebih mewah dari perumahan yang Lucy tempati sekalipun jarak keduanya cukup dekat.
Meski jarak rumah mereka berdua tidak terlalu jauh, Lucy memutuskan untuk pergi menaiki sepeda listrik warna hijaunya. Sepeda yang baru dia beli setelah menganggur. Dia punya mobil, tapi ogah jarak sedekat itu harus repot-repot naik mobil. Lebih baik naik sepeda listrik sambil menikmati sepoi-sepoi angin di perjalanan.
Lucy sampai di depan gerbang rumah mewah itu kurang dari sepuluh menit. Setelah memastikan sepeda listriknya terparkir dengan benar, Lucy memencet bel di sana. Suara Jeha lantas menyuruhnya untuk segera masuk.
"Lo ngapain, Je?" tanya Lucy saat melihat Jeha sibuk menutupi berakan kucing dengan tisu menggunakan tuding panjang yang entah dia dapat darimana.
"Lo lama njir," bukannya menjawab, Jeha justru protes. "Padahal lo bilang rumah lo di kompleks Ordinary House. Deket elah."
Lucy menipiskan bibirnya. "Ya maap, gue ke sini naik sepeda listrik bukan jet."
Jeha menyangkal, katanya Lucy banyak alasan.
Daripada lanjut ribut, Lucy maju untuk melakukan tugasnya. Meski Lucy suka kucing sejak dulu, tapi baru kali ini dia merawat kucing. Makanya dia tetap merasa jijik ketika melihat bokeran Jiji yang ada di sofa. Kucing oren itu membuat Lucy memejamkan mata sambil membersihkan sofa.
Jeha tidak sedikit pun membantu karena cowok itu sibuk menyemprotkan pengharum ruangan di sekitar Lucy. Lucy batuk-batuk karena nyegrak pun Jeha tidak peduli. Hidungnya terlalu sensitif pada bau tidak sedap alih-alih peduli pada Lucy yang bersin sebab pengharum ruangan terhirup hidungnya.
Sementara itu, pelaku kejadian itu justru tengah asik menyantap Royal Canin di bawah meja tanpa sedikitpun peduli dengan Lucy yang sudah berkaca-kaca karena harus mengurusi bokerannya. Lili sedang main di sisi lain. Kucing abu-abu belang itu tampak lebih kalem daripada Jiji. Emang ya, mau di mana pun kucing oren itu bar-bar dan ngeselin.
"Cuma ini, kan?" tanya Lucy ketika selesai dengan tugasnya.
"Hooh. Cuma Jiji yang berulah. Lili mah kalem. Ya semoga pas lo balik nggak berulah."
"Telepon gue aja kalau mereka berulah."
"Lah, lo mau langsung pulang?"
Lucy menatap Jeha. "Gue belum mandi, Je. Gue ke sini buru-buru karena lo nggak mau nunggu lama. Gue juga lapar mau sarapan lah, kembaran gue masak enak di rumah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romansa(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)