Part 21. Ikan Nemo

4.8K 371 30
                                        

"He has a grand father, but never had a grandpa."

*

Alasan mengapa Jeha memiliki kecemasan berlebih jauh sebelum mendapat perhatian publik adalah karena dia memiliki trauma sejak kecil.

Dia sempat kesal campur was-was saat membaca artikel-artikel yang saat ini mentrendingkan namanya. Kini wajahnya terekspos di mana-mana. Instragramnya yang digembok itu mulai banyak yang meminta request. Kalau hapenya tidak sedang disita oleh Lucy, Jeha pasti akan mengecek akun Le Ciel untuk membaca komentar-komentar yang masuk di sana.

Untungnya, Lucy melakukan tindakan yang tepat. Komentar-komentar di sana hanya akan membuat Jeha semakin khawatir. Walaupun mungkin saja berisi komentar asbun dan ketikan capslock yang memujinya, Jeha tetap takut jikalau dia mendapatkan sebuah ejekan atau kritikan karena menyiakan privilege sebagai ahli waris bisnis keluarganya.

"Perlu gue gembok juga nggak akun Le Ciel?" tanya Lucy memastikan.

Jeha menggeleng. "Nggak usah. Selama gue nggak buka komentar atau DM, gue nggak bakal terdistraksi."

Lucy menurut. Dia masih menatap Jeha yang mulai tenang dari sebelumnya. Cowok itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua telapak tangan yang saling bertaut. Gerakannya meremas kedua tangan membuat Lucy sadar bawa cowok itu sedang khawatir. Setelah berkali-kali menghela napasnya, Jeha lantas mulai bicara.

"Gue selama ini bersembunyi karena gue more than introvert, Lu. Gue nggak suka ketemu banyak orang. Menurut gue, ketemu banyak orang itu menguras tenaga banget. Selain karena mereka bakal kenal gue, mereka bakal ngulik kisah gue. Gue nggak mau itu terjadi," Jeha mendesis pelan sebelum melanjutkan. Bibirnya agak bergetar.

"Jujur, gue suka menulis karena itu nenangin gue yang jarang berinteraksi sama orang lain. Gue seneng banget hidup sebagai Le Ciel yang nggak dikenali wajahnya oleh siapapun. Gue bisa kemanapun dengan wajah gue tanpa mereka tahu kalau gue Le Ciel. Gue nggak perlu menanggapi mereka dan fokus apa yang ingin gue lakukan di luar rumah. Tapi kalau udah begini, gue jadi khawatir," sambungnya diikuti hela napas panjang.

"Jeremy, don't say that. Listen to me."

Hanya terdengar helaan napas berat dari Jeha.

Meskipun begitu, Lucy tetap melanjutkan kalimatnya. "Emang manusia tuh punya dua sisi. Mereka bisa sangat mendukung lo, tapi bisa saja tiba-tiba berpaling dari lo. Tapi itu bisa terjadi ketika lo membuat kesalahan. Sejauh ini lo nggak ada kan bikin kesalahan? Lo cuma nulis dan mereka suka sama tulisan lo. Perhatian yang mereka berikan saat ini tuh ya karena mereka ngefans sama lo. Meski beberapa nantinya akan mempertanyakan profesi lo yang katanya menyiakan hak istimewa itu, mereka nggak berhak ngehakimi pilihan lo. Mungkin lo emang beda sama gue, tapi sikap stoic itu perlu diterapkan dalam beberapa keadaan. Kita nggak bisa hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain and it will never be possible. Too hard and painfull. Sebaliknya, kita harus hidup sesuai dengan kemauan kita. Kayak nulis aja deh. Lo nggak perlu ngikutin request pembaca lo untuk bikin happy ending padahal lo udah nyiapin sad ending. Go ahead, Man. Do what you want to."

"Tapi gue masih takut mereka mengkritik gue, Lucyyana."

"Soal itu pikirin belakangan aja. Saat ini mereka sedang fomo soal lo. Jangan takut, Je. Kalau lo takut, kakek dan nenek lo pasti akan makin meremehkan lo. Sebaliknya, kalau lo tegas dan bilang bahwa lo bangga sama profesi lo, mereka bakal kehilangan kepercayaan diri buat nyerang lo."

Jeha tidak menawab. Cowok itu larut pada memori masa lalu, memori yang mengantarkannya menjadi Jeha yang takut menghadapi kritik.

Memang benar kedua orang tuanya adalah orang tua yang amat menyayangi Jeha, tapi saat kecil Jeha sering ditinggal kerja oleh mereka hingga berbulan-bulan lamanya karena harus pergi ke luar negeri. Akibatnya, Jeha tinggal dan dirawat oleh kakek dan neneknya.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang