Part 36. Birthday Wine

5.4K 291 39
                                        

Hayo, nungguin, ya?

*

Lucy tidak pernah segugup ini dalam hidupnya. Meski sering bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter khususnya saat bekerja, Lucy jarang menunjukkan kegugupannya. Dia selalu bisa mengendalikan dirinya dan bersikap profesional. Namun, kali ini tidak bisa.

Tepat setelah sesi fitting baju selesai, Jeha membawanya pergi ke rumah orang tua cowok itu. Baju bagus dan dandanan cantik itu rupanya tetap tidak bisa menutupi keresehan Lucy sejak mobil Jeha memangkas jarak temu antara mereka dan kedua orang tua si cowok.

Jeha paham perubahan raut wajah Lucy sejak cewek itu memasuki mobilnya, tapi memilih mesem tipis, membiarkan Lucy mengantongi waktu sebanyak mungkin untuk menata degup jatungnya. Sesekali Jeha melirik lewat sudut matanya. Kalau saja tidak sedang nyetir, niscaya dia akan sanggup memandangi Lucy sampai matanya juling. Bagaimana tidak. Jarang-jarang Lucy berpakaian seperti itu. Meski biasanya cewek itu terlihat cantik di matanya, kali ini terasa beda dan sungguh itu mampu memebuat Jeha mengulum bibir tipis, merasa bangga.

Balutan dress warna soft yellow itu melekat cocok di tubuh ramping Lucy. Heels setinggi tiga sentimeter itu juga terpasang cantik di kakinya. Jujur Lucy menyukainya, tapi rasa gugupnya tetap tidak bisa ditutupi dengan pakaian mahal dan dandanan cantik.

"Je." Tiba-tiba Lucy membuka suara setelah sekian lama mengatur degup jantungnya yang macam drumband kabupaten.

"Iya?"

"Gue butuh oksigen deh kayaknya."

"Dari mulut gue?"

Lucy menggeleng. "Ya enggak lah. Oksigen beneran soalnya gue merasa pasokan oksigen gue menipis."

Jeha tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik kurva bibirnya lebih tinggi.

"Mau mampir ke rumah sakit dulu?" tanyanya. Jeha jelas menggoda Lucy.

Lucy malah menoleh. "Emang cukup waktunya?"

Jeha beneran keselek dengan sahutan Lucy yang kelewat polos itu. "Kenapa? Lo beneran butuh oksigen apa gimana? Dada lo sakit?"

Lucy membuang napasnya dengan gusar. "Gue gugup banget sampai sesak napas. Padahal nggak biasanya gue begini. Gue tiba-tiba takut."

"Takut kenapa?"

"Nggak sesuai ekspektasi."

"Ekspektasi siapa?"

"Orang tua lo."

Jeha menolehkan kepala saat mobil berhenti di lampu merah untuk mendengar lanjutan kalimat Lucy. Cewek itu memutar tubuh agar bisa menghadap Jeha sepenuhnya.

"Gue tahu saat ini udah lebih cantik dari biasanya, tapi cantik aja nggak cukup, kan? Gue banyak nggak tahu soal hal-hal yang mungkin entar ditanyain orang tua lo ke gue. Gimana kalau gue nggak bisa jawab mereka? Lo mau jadi jubir gue nggak, Je?"

Jeha tergelak. Tawanya yang sedikit sarkas itu memenuhi seisi mobil. Lucy jadi cemberut melihat Jeha menertawai penderitaannya. Tidak bisakah cowok itu membalas lebih serius di saat pacarnya risau?

Karena lampu merah belum berganti warna, Jeha meladeni keresehan Lucy. Tentu saja diawali dengan tabiat khas Jeha, yakni kekehan yang berhasil membuat Lucy mendecak lirih.

Meski begitu, Jeha beneran serius dengan kalimatnya dan Lucy anteng menyimak.

"Orang tua gue nggak kayak apa yang lo pikirkan, Lucyyana. Mereka sejak dulu nggak pernah ikut campur urusan asmara gue, jadi gue bisa menjamin mereka seratus persen setuju sama hubungan kita dan nggak bakal nanya aneh-aneh sama lo."

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang