Lucy pernah iseng bertanya ChatGPT tentang tahapan jatuh cinta. Selama setengah jam dia berkutat membaca deretan yang aplikasi AI—Artificial Intelligence—itu jabarkan. Katanya, tahapan jatuh cinta itu ada lima.
Pertama, tahap ketertarikan, di mana tahapan ini biasanya diawali dengan kertertarikan secara rupa maupun pesona. Lalu kedua tahap keinginan ataupun gairah. Pada tahap ini seseorang biasanya mulai ingin dekat secara emosional. Memasuki tahap ketiga yakni tahap pengembangan keterlibatan, di mana orang yang jatuh cinta biasanya sering menghabiskan momen bersama, berbagi minat, dan memiliki ikatan yang lebih dalam dari sebelumnya. Kemudian yang keempat adalah tahap keterikatan, yakni perasaan peduli satu sama lain. Pada tahap terakhir ada tahap komitmen. Komitmen ini semacam tahap pemutusan untuk menjalin hubungan yang serius.
Lantas, dari kelima tahap itu, Lucy berada di mana?
Jawabannya tahap tiga.
Meski hitungannya dia sempat hanya baper sendirian, Lucy mengakui sudah berada di tahap tiga. Dia sering bersama Jeha, berbagi cerita, dan kadang menghabiskan waktu bersama dalam tanda kutip mengurus pekerjaan. Namun, sayang sekali pemirsa, ChatGPT pun tidak akan memiliki jawaban saat Lucy bertanya kenapa Jeha menolaknya hari itu. Penegasan yang Jeha lontarkan membuat Lucy sontak menciut, mundur perlahan, lalu terbentur realita. Cowok gagal move-on itu tidak menganggapnya lebih dari seorang teman baru dalam hidupnya. Lalu jika mau menambahkan, Jeha tidak menganggap Lucy sebagai tokoh utama dalam kehidupannya.
Lantas Lucy harus bagaimana?
Jujur, dia merutuki dirinya sendiri karena berkata jujur pada Jeha. Malunya bercampur dengan rasa kesal lalu menumpuk dan menjadi sesal.
Jika tahu ending yang akan didapat, Lucy pasti memilih diam dan lanjut memendamnya. Apalagi selepas kejadian confess dadakan semalam, Jeha jadi agak menghindarinya. Lucy pun juga agak takut pergi ke rumah Jeha meskipun bisa saja dia beralasan menengok dua anabul.
Jeha sendiri tiba-tiba merasa canggung setelah mendegar ucapan Lucy yang jujur semalam. Cowok itu masih enggan percaya dengan apa yang didengar. Matanya menatap layar laptop, tapi dialognya kemarin dengan Lucy kembali masuk pada kepalanya.
Jeha mendesis lirih ketika ingat telah mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti hati Lucy. Namun, entah kenapa Jeha merasa itu lebih baik dilakukan daripada harus memberikan harapan palsu. Apalagi dia memang belum bisa lepas dari masa lalu.
Karena tidak ada ide kalimat di kepala, Jeha memutuskan untuk melukis. Sialnya, baru beberapa sapuan kuas, otaknya mendadak kosong. Tidak ada ide yang singgah di sana selain ide untuk menggambar gunung yang dikelilingi sawah dan jalanan.
Jeha menghela napasnya. Dia menurunkan kuasnya dengan loyo. Cowok itu memandangi kanvas di depannya. Beberapa saat kemudian, dia terlonjak mendengar nada dering hapenya. Dibandingkan meletakkan, Jeha memilih membanting pelan kuas tersebut ke lantai untuk mengecek hape.
"Heh, lo apain anak orang?"
Begitulah suara Naka terdengar tepat setelah Jeha mengangkat panggilan. Jeha mendecak, lambat laun orang-orang pasti tahu juga tentang kejadian kemarin. Bahkan semalam Harret pun tiba-tiba pidato karena menemani Lucy menangis agak lama.
"Lebih baik kan daripada gue kasih harapan palsu ke dia? Buruknya lagi kalau gue jahat bisa gue manfaatin. Prefer gue jujur, Na."
"Tapi masa lo bilang dia bukan tipe lo sih."
"Emang, kan?"
"Heleh. Gue dulu bilang Elin bukan tipe gue, tapi sekarang gue nggak bisa lepas dari dia."
"Itukan elo."
"Semoga lo bakal bucin tolol deh."
"Sorry, lo aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romansa(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)