Part 14. Si Profesional

5.4K 391 46
                                        

Jeha menatap lurus-lurus sebuah proposal yang sejam lalu Naka berikan padanya. Cowok itu duduk di sofa sambil bersedekap dan melipat kakinya. Jari-jari panjangnya sesekali mengetuk lengannya. Tipikal kebiasaan Jeha saat dia sedang berpikir serius akan suatu hal.

Itu adalah proposal pengajuan hak cipta untuk mengadaptasi novelnya yang berjudul Demain Inconnu untuk diangkat ke sebuah film layar lebar.

Jeha menimang cukup lama. Dia benar-benar berhati-hati dalam mengambil keputusan. Sejujurnya, tidak ada satupun novel miliknya yang diharapkan untuk diangkat menjadi series ataupun film. Sehingga ketika kesempatan itu datang, Jeha kebingungan. Haruskah dia terima atau tolak saja? Naka sudah menegaskan bahwa dia akan menyerahkan segalanya pada Jeha. Naka agak skeptis. Banyak film dari adaptasi novel yang keluar tidak sesuai harapan. Takutnya citra indah novel yang Jeha tulis akan sirna karena film yang entah akan terkenal atau tidak tersebut.

Tiba-tiba Jeha penasaran. Dia membayangkan bagaimana jika nantinya kalimat-kalimatnya dalam novel diadaptasi dalam bentuk adegan-adegan di sebuah film. Dia sangat penasaran sebab Demain Inconnu adalah novel bergenre fantasi.

Cowok itu masih sibuk berpikir saat Lucy tiba. Cewek itu sudah menggendong Lili dan melongok kegiatan Jeha. Merasakan suhu seseorang dekat dengan tubuhnya, Jeha langsung menoleh dan mendapati Lucy nyengir sambil mengangkat tangan membentuk tanda peace.

"Salam kek."

"Shalom!"

Jeha mendecak, tapi lanjut menggeser pantat untuk membiarkan Lucy duduk di sampingnya sambil mengelus Lili di pangkuan.

"Lo lagi mikirin apa sih sampai bengong begitu? Duit lo abis apa giamna?"

"Lo salah nanya orang, Lucyyana! Kalaupun duit gue abis, duit bokap gue masih banyak."

"Yaudah, bagi sejuta."

"Kan lo udah gue gaji, masa kurang?"

"Ya, kan niatnya minta karena lo pamer. By the way, ini apaan?" Lucy salah fokus pada proposal di depannya. Cewek itu sampai membiarkan Lili pergi dari pangkuannya untuk membaca proposal tersebut dengan saksama.

"WOW!" kata Lucy setelah melihat isi proposal tersebut.

"Ck, belum gue setujui kok nggak usah takjub begitu. Gue masih mikir-mikir."

"Tapi bakal lo setujui, kan?"

Jeha mengedikkan bahunya. "Nggak tahu."

"Terima aja, Je. Kapan lagi coba dapat kesempatan kayak gini," timpal Lucy antusias.

"Masalahnya tuh cerita ini agak berat, fantasi gitu."

"Kan Production House-nya Colorgraph, pasti bakal pecah lah. Ini juga udah ada detail portofolio sutradara sama penulis naskahnya."

"Udah gue baca kok."

"What do you think?"

"Not bad sih, tapi gue agak skeptis sama pemilihan aktor dan aktrisnya nanti. Takutnya nggak sesuai ekspektasi. Biasalah perfilman Indonesia agak sakit."

Lucy memutar badan dan menghadap Jeha sepenuhnya. "Sebagai penulis, lo waktu nulis ini mikirin siapa? Biasanya penulis Wattpad tuh punya face claim gitu tiap tulisannya. Lo pasti ada, kan?"

Jeha menggeleng. "Nggak ada. Gue gambarin Hana dan Juna tuh sesuai imajinasi. Mereka bukan orang yang nyata di dunia ini."

"Ya gue tahu itu, cuma who knows pas nulis lo mikirin seseorang."

"Itu sih novel lainnya."

Lucy mengernyit. "Novel yang mana?"

"Yang lagi gue tulis."

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang