Jeha mendecak saat Naka menghubunginya dengan suara mabuk berat. Cowok itu terdengar menangis di seberang sana, membuat Jeha tidak tega membiarkannya begitu saja. Meski sambil mendumel sebal sepanjang perjalanan, Jeha pergi untuk menjemput Naka. Takutnya Naka menganggap Jeha teman yang tidak pengertian pada rasa sakitnya.
Masalahnya masih sama. Elin meminta putus dengannya. Belum sempat Naka menimpali, Elin melenggang pergi begitu saja. Saat Naka mengejar, Elin malah memelototinya dengan ekspresi yang membuat Naka menyesal telah membuat cewek yang amat dicintainya itu terlihat sangat kecewa padanya.
"Gue harus gimana, Jeremy????" teriak Naka tepat setelah Jeha tiba untuk menjemputnya. Kondisi Naka terlihat berantakan dan dia telah kalap menghabiskan banyak botol minuman beralkohol.
"Nikahin dia lah," jawab Jeha enteng.
Naka terdengar mendecak. "Nikah tuh nggak semudah itu. Gue harus bener-bener siap mental. Gue belum siap bikin Elin kecewa sebagai suami nantinya."
Jeha merotasikan bola matanya. "Kalian pacaran kelamaan sih. Lagian Elin bener kok. Sejak awal lo selalu bilang bakal nikahin dia, tapi makin ke sini lo makin nggak jelas kapannya. Kalau sejak awal lo bilang nggak bakal nikah mungkin beda ceritanya."
"Gue bukan lo ya njir. Gue butuh orang lain buat nemanin masa tua gue."
"Ya sudah nikahin Elin."
"Belum siap njing!!!"
Jeha jadi ikutan lelah. Cowok itu membopong tubuh Naka untuk dibawanya ke mobil sebelum meracau lebih banyak lagi. Jeha mendecak setelah berhasil mendudukkan tubuh Naka ke kursi mobil. Sebenarnya Naka sempat membuat drama tidak ingin pergi dari sana, tapi Jeha sudah kepalang dongkol dan memaksanya untuk masuk mobil kalau tidak ingin ditinggal begitu saja.
Baru saja Jeha akan melajukan mobilnya, Naka berujar parau.
"Teleponin Elin dong, gue butuh pelukan dia."
Apa Jeha lakukan? Tentu saja. Namun, jawaban Elin sangat menohok.
"Kami udah putus, jadi bukan urusan gue lagi. Lo buang ke saluran irigasi gue juga nggak peduli."
Setelahnya Naka nangis bombay. Dia merebut hape Jeha dan membalas panggilan itu. Meski dia mabuk, dia masih setengah sadar. Naka bukan tipe pemabuk yang gampang ambruk. Toleransi alkoholnya cenderung tinggi, sama seperti Jeha.
"Evelyn, dengerin aku. Kalau kita putus dan kamu bakal sama orang lain, aku bakal gorok leher cowok barumu. INGAT ITU!"
"SINTING LO!" seru Elin.
"Lihat aja, entar aku datangin kamu terus hamilin kamu biar kamu nggak bisa lari dari aku."
"FUCK YOU, NARESH ADYAKA!!"
Beberapa detik berlalu dan panggilan tidak mutu itu akhirnya berakhir.
Pusing mendera Jeha, membuatnya harus memijat hidung sambil menghela napas berat. Di sampingnya, Naka justru cengar-cengir macam orang sinting. Sebelum melajukan mobil, Jeha sempatkan untuk menonyor wajah Naka hingga kepalanya menubruk jendela sampai menimbulkan suara. Namun, bukannya marah, Naka justru terkekeh senewen dengan mata yang perlahan meredup lalu jatuh tertidur dan tidak ingat apapun walaupun sepanjang perjalanan itu Jeha mengumpati namanya.
***
Elin awalnya ingin cuek dengan kelakuan Naka. Dia tidak takut dengan ancaman Naka, tapi mendengar Jeha mengatakan bahwa Naka demam dan tinggal di rumahnya selama dua hari membuat Elin buru-buru datang ke sana selepas pulang dari kerja.
Begitu Jeha membukakan pintu, Elin langsung menerobos masuk dan tergesa menuju tempat kebeberadaan Naka yang tengah terbujur loyo. Elin menghela napasnya saat melihat kondisi Naka. Tubuhnya masih demam meskipun sudah dibawa ke dokter oleh Jeha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)