Jeha menurunkan majalah ketika Naka masuk ke rumahnya. Mata cowok itu menyipit ketika sadar Naka tidak datang sendirian.
"Gue udah nemu yang lo minta."
"Cepet amat."
Naka melengos. "Tuhan lagi baik sama gue makanya dapat cepet."
Lucy masih berdecak kagum pada rumah yang barusan dia masuki meskipun kini dua orang di depannya itu menatap ke arah kedatangannya.
"Lu, ini Jeha, yang punya kucing," kata Naka memperkenalkan.
Lucy tersentak, lalu mengangguk. Awalnya, dia mengulurkan tangan untuk menyalami Jeha, tapi Jeha hanya menatap Lucy dan menolak berjabatan tangan. Melihat itu Lucy menipiskan bibir dan mengelap tangannya sambil mundur dengan pelan.
"Saya Lucy, Pak."
"Gue masih muda nggak usah dipanggil "Pak" segala."
Lucy meringis kikuk. "Baik, Kak."
"Nggak usah formal, panggil nama aja. Seperti kata Naka, gue Jeha," kata Jeha dengan nada agak judes. Naka sudah menduga, makanya hanya bisa mendecak dari tempatnya.
Lucy manggut-manggut kikuk. "Hehe, oke."
Jeha menatap Lucy dari atas hingga bawah. Bajunya agak serabutan dan seperti pengangguran.
"Lo bawa CV nggak?"
Lucy yang tadinya fokus menata degup jantungnya pun tersentak. "CV?"
"Iya Curiculum Vitae. Daftar kerja kan pakai itu."
Lucy gelagapan. Dia jelas tidak membawa CV-nya karena bertemu Naka pun secara tiba-tiba.
"Hmm, tadi sih ketemu gue di taman, Je. Pasti dia nggak bawa," jawab Naka mengklarifikasi.
Jeha masih dalam pendiriannya. "Kalau gitu ada filenya?"
Lucy langsung mengangguk. "Ada, ada kok."
"Ya udah, kirim ke Naka. Terus Naka cetakin buat gue."
SI ANJIR.
Tapi Naka tidak mungkin membantah. Lucy pun buru-buru mengirimkan CV-nya pada Naka setelah mereka bertukar kontak. Sifat Jeha yang tidak ramah membuat Lucy takut dan gugup walau sekadar mengangkat wajahnya. Padahal Naka terbilang ramah Cowok itu juga baik dan pengertian pada Lucy. Tapi sayangnnya di mana-mana bos itu yang lebih sengak, ya. Lucy kira dia akan bertemu dengan orang baik yang pengertian karena menyukai makhluk berbulu bernama kucing, tapi ternyata dia ditampar oleh kenyataan. Jeha jauh dari dua kata tersebut. Apalagi wajahnya sejak Lucy datang tidak tersenyum barang sedikitpun.
Sambil menunggu Naka mencetak CV-nya, Lucy hanya duduk di kursi sambil mengembungkan pipinya. Di depannya ada Jeha yang tengah asik bermain hape sambil duduk melipat kedua kakinya.
Kalau Lucy boleh jujur, Jeha memang ganteng banget. Tubuhnya tinggi dan proporsinya bagus. Cowok itu juga rapi dan wangi. Meski tidak duduk mepet dengan Jeha, Lucy bisa mencium parfum yang Jeha pakai. Parfum yang menurut Lucy hanya dipakai oleh orang-orang kaya.
"Nih, Baginda," kata Naka dengan sewot sambil menyerahkan cetakan CV milik Lucy pada Jeha.
Cowok itu pergi ke dapur lalu kembali lagi sambil membawa jus jeruk dan menyerahkannya pada Lucy.
"Makasih, Na," ujar Lucy.
Naka hanya manggut-manggut dan mengambil duduk di samping Jeha. Sementara itu, Jeha sedang tenggelam membaca kalimat-kalimat di CV milik Lucy. Meskipun Lucy sudah berkali-kali melakukan wawancara bahkan sampai bertemu HRD gila, baru kali ini dia merasakan gugup luar biasa. Karena tidak terbiasa melakukan interview di tempat private begini, Lucy gagap saat Naka dan Jeha sesekali meliriknya yang tampak gugup. Dua orang ganteng itu berhasil membuat jantung Lucy berdegup lebih berisik dari biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)