Mereka sudah pada tua, tapi main truth or dare layaknya bocah SMA yang memiliki niat terselubung untuk mengungkapkan cinta pada crushnya.
Ide Naka itu membuat Jeha mendengus malas. Matanya sejak tadi melayangkan tatapan tidak suka, tapi Naka mengabaikannya. Sebaliknya, Luki justru antusis dengan ide Naka, membuat Jeha tidak memiliki massa. Siapa sangka jika ternyata Luki bisa seklop itu dengan Naka. Arin pun mudah akrab dengan Elin meskipun masih canggung dengan Jeha.
Jeha mengembungkan pipinya, mau tidak mau dia ikut bermain truth or dare yang kemudian beralih status menjadi truth or drink. Permainan itu disepakati bahwa setiap orang memiliki kesempatan sekali untuk bertanya pada orang yang moncong botol tunjuk nantinya. Jeha lagi-lagi menggumam miris. Pasalnya, dia tuh pengen rebahan sambil main hape alih-alih bermain sesuatu yang menurutnya tidak memiliki fungsi apa-apa.
Meski sambil mendumel, Jeha ikut memutar botol dengan ogah-ogahan. Sialnya, botol itu justru menghadap dirinya sendiri. Naka tergelak cukup keras, membuat Jeha serasa ingin menjejalkan kaos kaki ke mulutnya.
"Lo kayaknya emang lagi diuji kesabarannya deh, Je. Semua hal selalu tertuju ke lo."
"Berisik njir. Buruan nanya. Satu-satu, awas kalau double gue ogah jawab," balas Jeha sewot.
"Gue dulu," kata Elin sambil mengacungkan satu tangannya dengan antusias.
Jeha nyengir. "Emang apa yang lo kepoin? Lo kan udah kenal gue lama."
"Banyak kali. Meski kita dah kenal lama, bagi gue lo tetap misterius."
"Yaudah buruan apa."
"Kapan lo berhenti rusuhin Naka?"
Tanpa menjawab, Jeha memilih untuk menenggak alkohol di gelas yang Luki tuangkan. Elin melengos, tapi sudah menduga Jeha tidak akan menjawab pertanyaan itu. Mau sampai sekarat pun sepertinya Naka belum bisa lepas dari Jeha. Ada benang tidak kasat mata yang mengikat hubungan Naka dan Jeha, yang entah sampai kapan bisa terlepas. Bisa jadi tidak akan lepas sebab kata Lucy tempo hari, Naka dan Jeha itu âme soeur alias soulmate.
"Gue merasa lo tuh suka sama gue, Je," tiba-tiba Naka dramatis.
"Lahh, kalau nggak suka, mana mungkin gue jadiin lo asisten."
"Maksudnya suka dalam artian lain alias lo gay."
Jeha langsung melempar selada ke muka Naka. "PERTANYAAN LO UDAH. NEXT!!"
Naka mau mangap untuk menyangkal, tapi Jeha kembali melayangkan tatapan membunuh sehingga Naka kembali kicep sambil manyun. Bisa dicekek kalau terus menerus menggoda Jeha. Dia masih ingin hidup sejahtera dan manja-manja bersama Elin.
"GUE!!"
Arin mmegangkat tangan dengan heboh. Cewek itu bersemangat, membuat Luki dan Lucy bertatap keheranan.
"Apa?"
"Je, lo punya keinginan menikah di masa depan? Truth or drink?" tanya Arin.
Jeha menatap Arin sebentar. Dia mengolah kata dalam kepala, lantas menghela napas dan menjawab pertanyaan Arin. "Sebenarnya nggak ada, tapi untuk menenangkan beberapa pihak dengan keputusan gue, gue selalu bilang ke nyokap kalau gue bakal nikah minimal usia 35 tahun. But, actually, gue nggak berkeinginan untuk nikah di masa depan."
"Kenapa?"
"Panjang alasannya, tapi gue tipe orang yang ingin bebas dari yang namanya ikatan pernikahan."
"Jadi, kalau lo pacaran lo nggak niat nikahin dia?"
"Gue bakal bilang di awal kalau niat gue pacaran emang bukan ke jenjang yang lebih serius. Lo nanya begituan kenapa? Mau nyumbang nikahan gue?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)