Saat pagi menjelang, tentu saja Lucy terbangun di atas kasur Jeha. Dia tidak kaget sedikitpun. Malah aneh kalau dia kaget padahal semalam sejelas itu pergumulan panas mereka hingga menyisakan ngilu di beberapa bagian tubuhnya. Dia sedikit kaget saat merasakan tangan Jeha masih mendekap tubuhnya dengan erat. Padahal mata cowok itu masih terpejam, tapi rengkuhannya pada tubuh Lucy tidak mengendor seakan takut begitu bangun Lucy akan meninggalkannya. Dibandingkan dibiarkan telanjang hingga pagi menjelang, Jeha juga memakaikannya kaos yang cowok itu pakai semalam.
Lucy menggerakkan tubuh untuk bisa melihat lebih jelas wajah kalem Jeha saat tertidur. Napasnya teratur seperti kucing yang tengah tertidur. Rambut hitamnya berantakan. Lucy justru terkekeh saat dia berhasil mencipta kerutan di dahi Jeha karena berusaha menyingkirkan lengan cowok itu. Namun, usahanya tetap gagal. Lengan Jeha tidak sedikitpun mau lepas dari tubuhnya.
Lucy menyerah. Diliriknya jam di atas nakas Jeha. Pukul enam dan itu masih cukup pagi untuk bangun. Dia masih punya cukup banyak waktu sebelum pergi ke kantor pukul setengah sembilan.
Karena dia juga menyukai momen paginya kali ini, Lucy tidak berniat menyudahinya. Dia balas rengkuhan Jeha dengan usapan lembut di pipi cowok itu. Sangat lembut karena dia takut membangunkannya. Lucy tersentak saat kelopak mata indah Jeha perlahan terbuka lalu menatapnya. Gerakan tangannya di pipi Jeha pun terhenti dan Lucy mengerjap manakala Jeha menggenggam tangannya yang berada di pipi cowok itu untuk tetap berada di sana.
"Gue ganteng banget, ya?"
Lucy tidak mengelak. Dia hanya mengangguk dan berhasil membuat Jeha tertawa renyah. Suara bangun tidurnya membuat Lucy tertegun sebentar.
"Lo meluk gue erat banget sampai ngep."
"Sengaja. Takut lo ilang."
Lucy merotasikan bola mata. "Yakali abis enak-enak bareng ngilang."
"Gue trauma."
Lucy mendecak miris. "Gue bukan Jane. Dia nggak pernah cinta sama lo, but I do really love you."
"Entah kenapa gue nggak sedikitpun terluka sama kalimat lo yang bilang she never loved me. Gue malah pengen terbang pas lo bilang secinta itu sama gue."
"Emangnya lo enggak?" Lucy menoleh dengan ekspresi ssngar dibuat-buat.
Jeha menyentil bibir Lucy dengan telunjuknya. Itu adalah kebiasaannya ketika gemas dengan keasbunan Lucy.
"Masih aja lo nanya gue cinta apa nggak sama lo? Mau lo bedah hati gue sekarang pun isinya bakal lo."
Lucy sok bergidik, tapi Jeha tidak sedikitpun sakit hati. Sebaliknya Jeha justru makin menatap Lucy dengan teduh. Mereka diam tanpa kata cukup lama, membiarkan deru napas saling bersahutan.
"Review dong," kata Jeha kemudian.
Lucy mengernyit. "Apanya?"
"Semalam."
Lucy terbatuk. "Harus banget minta review?"
"Iya dong. Siapa tahu lo agak keberatan sama tindakan gue. Meski yah kelihatannya lo enjoy juga, tapi gue tetep butuh review lo."
"Kayak order di Shopee aja."
Jeha tergelak sebentar lalu melanjutkan. "So, was I good?"
Lucy menatap Jeha sebentar. Lantas ketika Jeha mengerutkan kening karena tidak sabar menunggu jawabannya, Lucy mengangguk pelan.
"You were good enough."
Jeha tersenyum puas. Dia maju untuk bisa mendekap Lucy lebih erat. Dibawanya wajah cewek itu ke dadanya lalu perlahan mengelus rambutnya yang mulai kusut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)