Kontrakan akhir-akhir ini sering sepi.
Bukan karena Lucy merindukan Luki dan Arin berbagi keuwuan, tapi karena Lucy merasa sendirian ketika membuka pintu kontrakan dan disambut oleh kekosongan. Tidak satu dua kali, tapi nyaris berkali-kali. Akhir-akhir ini, baik Luki maupun Arin tengah sibuk menyiapkan pernikahan hingga kadang pulang malam. Bahkan menjelang pernikahan, bukannya mendapat keringanan, sistem kerja Luki semakin serabutan.
Pernikahan Luki dan Arin terhitung tinggal satu bulanan lagi. Pantas saja dua orang itu tampak lelah ketika pulang ke kontrakan karena semuanya mereka yang mengurus. Lucy awalnya menawarkan diri untuk membantu, tapi mereka menolak sebab sudah dibantu oleh teman Arin yang merupakan Wedding Organizer. Pada akhirnya, Lucy hanya jadi penonton kelelahan mereka.
Saking mumetnya, Luki dan Arin pernah ribut besar hingga Lucy yang sedang ngemil biskuit sambil menonton drama Korea di kamarnya terlonjak kaget.
"Gue tahu lo juga nggak bisa cuti sembarangan, Ki, tapi mbokya agak pengertian ke gue. Gue tiap hari mikirin acara nikahan kita biar sesuai dengan harapan. Tapi bukanya lo nanya gimana progresnya, lo malah bilang ngikut aja mau gue. Kita bakal hidup bareng, ikut andil lah mikirin nggak usah tim iya iya aja. Jujur, gue capek banget karena lo sebodoamat itu."
Arin bicara sambil menangis. Lucy buru-buru bangkit dari rebahannya berniat untuk menengahi keduanya, tapi tangannya terhenti di knop pintu kamar saat sadar sesuatu. Belum saatnya dia ikut campur pembicaraan mereka.
Di tempatnya itu, Lucy bisa mendengar Luki menghela napasnya.
"Bukan gue nggak pengertian, Rin. Gue juga nggak tahu kalau kerjaan akhir-akhir ini tuh banyak banget. Peak season bikin gue juga sering lembur. Gue pengen bantuin lo, tapi lo tahu sendiri gue susah minta cuti. Maafin gue."
"Nggak! Lo bahkan nggak nanya apa-apa pas pulang dan langsung tidur. Setidaknya lo tanya dong gue gimana, gue ngurus semuanya biar kita punya momen yang indah. Tapi see, lo tetap membela diri dengan dalih kerjaan lo banyak dan susah cuti. Gue tahu, Ki. Gue tahu lo juga capek dan sibuk, tapi gue pengen lo juga peduli sama gue."
Jujur, Luki juga sedang capek dan semrawut kepalanya. Bukan karena dia tidak peduli dengan kondisi Arin, tapi karena dia juga kewalahan dengan pekerjaannya. Melihat Arin menangis di depannya karena merasa tidak diperhatikan membuat Luki kesal campur kasihan. Dia ingin meraih cewek yang disayangnya itu ke dalam dekapan hangat, tapi Arin membuang muka dan bertolak menuju kamar sambil menghentak kesal.
Hari-hari menuju pernikahan pasti ada saja masalah yang timbul. Lucy menaruh rasa iba pada mereka. Apalagi setelah malam itu Arin tidak banyak bicara. Di meja makan tangannya fokus menyendok makanan lalu pergi ke Kafe Fleur untuk bekerja. Saat Lucy mengunjunginya, mata cewek itu sembab dan membuat Lucy khawatir.
Lucy jadi bingung. Akhirnya dia cerita pada Jeha.
"Emang hawa mau nikah kayaknya gitu deh. Meski gue belum pernah ngalamin, tapi mereka pasti sedang berada di titik kesal campur capek. Arin pasti capek soalnya dia ngurus sendirian sementara Luki pasti kesal soalnya pengen bantuin tapi nggak bisa cuti. Salah satu nggak enaknya jadi PNS ya itu."
"Dia sampai sembab banget."
"Udah pasti lah! Dia merasa kerja kerasnya nggak dianggap sama Luki. Lo bantuin gih. Kalau urusan film kayaknya lo nggak bakal sering rapat soalnya Yuki bisa ngechat gue sekarang."
"Iya, rencananya gue juga mau gitu. Nggak tega gue mereka mau bahagia harus berantem dulu."
"Wajar sih. Bahagia kudu ada nangisnya dulu. Kalau langsung bahagia biasanya tragedinya nggak kira-kira."
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romansa(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)