Stroberi mangga apel
Don't worry, people!
*
Di dunia ini, Lucy paling suka buah semangka. Saking sukanya, dia rela mencret untuk menghabiskan satu buah semangka. Sekalipun apes mendapatkan buah semangka yang tidak manis, Lucy tetap bersedia memakannya, dicampur yogurt atau dibuat Watermelon Squash. Menurut Lucy, buah semangka itu misterius, jadi apabila isinya tidak sesuai harapan, bisa dimaklumi. Alasan itu sebenarnya asbun saja karena pada dasarnya semua buah memiliki sisi misteriusnya masing-masing. Namun, karena sesuka itu dengan buah semangka, kadang Lucy rela mengutarakan banyak alasan untuk membela buah favorit jika sewaktu-waktu ada oknum yang bertanya.
Sementara itu, kalau boleh jujur, Lucy tidak begitu suka dengan buah stroberi. Baginya, rasa buah stroberi itu plin-plan alias tidak pasti. Kadang manis, kadang asam, malah kadang keduanya di mana manis dan asam adalah perpaduan rasa yang tidak begitu Lucy sukai. Kalau manis ya manis saja, tidak perlu ada asamnya ataupun sebaliknya. Namun, meskipun begitu, Lucy jelas tidak bisa menolak buah stroberi pemberian Jeha. Apalagi saat tahu bahwa Jeha memberikan buah stroberi karena ada maksudnya.
Hal itu terjadi setelah Lucy mengiyakan ajakan Jeha untuk memasak tteokbokki di rumah cowok itu.
Selepas belanja bahan masakan, mereka pulang. Di dalam mobil yang masih melaju, Lucy fokus menatap jalanan yang macet, sementara Jeha sibuk menyetir tanpa banyak kata. Mereka memutuskan saling diam sepanjang perjalanan. Baru setelah sampai di kediaman Jeha, Lucy langsung berlari untuk menjemput tubuh Jiji. Wajahnya yang sempat kaku berubah menjadi wajah senang sembari menyambut tubuh anabul itu penuh kerinduan.
"Busyet, nih anabul udah besar banget," kata Lucy sembari menguyel-uyel tubuh Jiji. Kucing oren itu tumben tidak memberontak. Mungkin kangen karena Lucy sudah jarang menemuinya akhir-akhir ini.
"Lili mana?" tanyanya pada Jiji yang tentu saja tidak dijawab.
Kucing abu-abu belang itu menyembul dari balik sofa setelah Lucy memanggil namanya. Bobotnya setara dengan Jiji menandakan tidak ada kesenjangan gizi di antara mereka berdua. Jeha sudah mulai terbiasa merawat kucing secara mandiri sehingga dapat dipastikan bahwa dua anabul itu terawat dengan baik. Lucy malas memuji. Toh, wajar jika Jeha sudah mulai paham dengan dunia perkucingan di saat dirinya sudah hidup lama bersama dengan mereka. Bahkan Jeha sudah membawa dua kucing itu untuk disteril. Pantas saja tanda sehat pada dua anabul itu mulai kelihatan di mata Lucy.
"Lo mau berapa telur di tteokbokki?"
Lucy mendongak. Jeha sudah berjalan menuju dapur dan membiarkan Lucy temu kangen bersama dua anabulnya.
Lucy membalas santai. "Terserah lo aja. Gue nggak begitu laper banget."
Jeha mengangguk. Cowok itu menggulung lengan kemejanya, mulai menunjukkan kemampuan memasak tteokbokkinya. Lucy akan membantu setelah meladeni Jiji dan Lili yang minta camilan.
"Menurut gue, tteokbokki tuh rasanya kayak cilok," Lucy berkomentar sambil mendekat ke dapur untuk membantu Jeha di sana.
Jeha mendecak. "Cilok tuh dari aci sedangkan tteokbokki dari tepung beras, Lucyyana."
"Tapi sama aja rasanya."
"Beda."
Lucy mengalah lebih dini. Dia tahu tidak akan menang melawan Jeha perihal makanan khas Korea Selatan tersebut. Sebagai orang yang lama tinggal di sana, Jeha pasti akan mati-matian mempertahankan argumennya tentang tteokbokki. Lucy memutuskan untuk mengiris daun bawang dan odeng. Jeha sibuk membuka kemasan tteokbokki instan yang tadi dibeli. Untuk beberapa saat, mereka sibuk pada urusan masing-masing. Sesekali ada ambient dari suara Jiji dan Lili yang manja di kaki mereka berdua secara bergantian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)