Part 27. J and L

5.8K 389 40
                                        

Semuanya jadi menggila.

Satu Instagram story berhasil menggegerkan massa. Nama Jeha dan Lauren sempat trending paling atas sebelum tergantikan dengan hastag hari Senin. Melihat itu, Jeha hanya bisa memijit pelipisnya. Semalam dia tidak berniat mabuk, tapi berakhir kalap bersama Naka. Naka sudah paham tentang segalanya, tapi tidak dengan Lucy.

Tepat setelah Lucy mengiriminya pesan, Jeha langsung membalas, tapi nomornya terlanjur diblokir oleh Lucy. Mengirim Direct Message di Instagram juga tidak dibuka. Akibatnya Jeha kesal. Lucy pasti salah paham seperti Naka sebelumnya. Niatnya Jeha ingin menemui Lucy malam itu juga, tapi dia terlanjur loyo karena kebanyakan minum. Naka bahkan sampai tepar dan Elin datang setelahnya. Cewek semungil Elin sempat berkelahi untuk membawa dua manusia bongsor untuk pulang ke rumah. Tentu saja setelah Elin menonyor wajah Jeha dan Naka secara bergantian.

Saat memgecek hape, semuanya masih sama. DM Instagramnya tidak sama sekali Lucy buka. Sebaliknya Jeha justru mendapati akun Lauren meminta mengikutinya. Jeha mendecak, mengabaikan itu dan berusaha menguhubungi Lucy lewat Elin, tapi jawaban Elin lagi-lagi membuat Jeha tertohok.

"Dia bilang nggak berhak marah sama lo. Itu pilihan lo. Menurut gue, dia pasti sakit hati, cuman katanya mau lupain lo."

Ada rasa tidak terima yang bermuara di dadanya. Buru-buru Jeha menyambar kunci mobil dan bergegas menemui Lucy di kosan cewek itu sekalipun denyutan di kepala makin menyiksa geraknya. Tubuh panasnya diabaikan begitu saja karena tidak ada yang lebih penting daripada menemui Lucy saat ini juga. Meksi dia tidak yakin Lucy masih di kosan, setidaknya Jeha ingin pergi ke sana terlebih dulu.

Begitu dia sampai, Lucy baru saja membuka gerbang kosannya untuk pergi bekerja. Mata mereka bertemu sebelum akhirnya Lucy yang membuang muka, melangkah begitu saja mengabaikan kehadiran Jeha. Bahkan menyapa pun tidak seakan Jeha adalah seonggok sampah di pandangannya yang tidak minat dilihat. Jeha segera menyusul langkah Lucy sebelum cewek itu menaiki bus untuk pergi ke lokasi syuting.

"Gue pengen bicara."

Lucy memilih abai. Dia sudah tidak begitu minat meladeni Jeha. Langkahnya tergesa, seakan memang tidak ingin Jeha mencegahnya. Akan tetapi percuma. Langkah lebar Jeha berhasil menyamai langkahnya. Lucy berhenti ketika tangan Jeha menarik lengan dan berhasil membuatnya menghadap cowok itu. Lucy melotot, tapi Jeha tidak terusik sedikitpun. Cowok itu menghadap Lucy dengan napas naik-turun.

"Kita perlu ngomong sekarang juga."

"Nggak ada yang pengen gue omongin."

"Please, Lu. Banyak yang pengen gue jelasin."

"Gue mau kerja."

"Lo nggak akan dipecat kalau bolos sehati doang."

"Gue nggak mau makan gaji buta."

Jeha tidak mau kalah begitu saja. Tangannya masih berada di lengan Lucy. Namun, bukannya fokus dengan Jeha, Lucy sempat terdistraksi dengan suhu tubuh cowok itu. Lucy ingin tidak peduli sekalipun Jeha nyusruk ke aspal saat ini juga, tapi ada bagian hati terkecilnya menyuruh untuk tidak abai. Wajah Jeha yang pucat pun berhasil menurunkan ego Lucy. Walaupun tidak mengakuinya secara langsung, dia memang selalu tidak bisa tega dengan Jeha.

Dengan segenap rasa kesal yang berhasil dia turunkan dari sebelumnya, Lucy akhirnya menjawab. "Cepet ngomongnya gue mau kerja."

"Di sini banget?"

"Lah, emang lo mau di mana?"

Jeha menggeleng. "Oke, di manapun gue nggak masalah. Gue mau ngom—" Jeha berhenti bicara saat kepalanya kembali dihantam pening luar biasa. Gelengan kecil kepala Jeha berhasil memantik atensi Lucy. Cewek itu mengernyit heran.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang