(Completed)
Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri.
Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tahu tidak apa yang membuat seorang Jeremy Harrison Bimantara sampai hampir meledakkan jantungnya? Oke, kata meledakkan memang terkesan berlebihan, tapi jantung Jeha terasa hampir melompat dari tempatnya setelah mendengar kabar bahwa istrinya mengalami pendarahan saat dia ada kunjungan penting ke Singapura.
Sepanjang rapat, Jeha tidak bisa fokus sedikitpun pada pembahasan saat Jasmine kembali berkabar bahwa Lucy harus melahirkan dini alias bayinya akan prematur. Mata Jeha bergerak-gerak panik dengan tangan yang mengepal kuat saat jarum jam seakan bergerak lambat, menghambatnya untuk segera bertemu dengan sang istri.
Begitu orang penting di depan Jeha menyelesaikan pemaparannya dan menutup sesi rapat, secepat kilat dia keluar ruangan. Laptopnya terbanting pun tidak sadar saking tergesanya. Dia berlari kencang tanpa memperdulikan Naka yang terus menerus memanggilnya untuk tetap fokus. Dengan tangan gemetar dan mulut gagap, Jeha memesan tiket penerbangan pulang saat itu juga. Naka hanya bisa menghela napas, paham betul dengan gejolak perasaan Jeha.
Bagi Jeha, penerbangan hari itu terasa seperti penerbangan paling lama baginya. Bahkan, terbang ke Amerika Serikat tidak ada apa-apanya dibandingkan penerbangan dari Changi ke Cengkareng hari itu. Selama di pesawat, tubuhnya tidak bisa berhenti bergerak, membuat Naka ikut merasakan kegelisahannya. Namun, dia harus bersabar bahwa ada rute yang harus dilalui untuk bisa tiba menemui Lucy.
Ketika awan masih dapat Jeha lihat, napasnya kembali tidak beraturan. Sudah berkali-kali ditenangkan oleh Naka, tapi Jeha tetap mempertahankan ekspresi keruhnya. Keimpulsifan Jasmine memberitahu Jeha membuat anak laki-lakinya itu dirundung kekhawatiran yang kian beradu dengan degup jantungnya yang tidak beraturan. Bahkan, jika ada teknologi yang bisa membawanya secepat kilat untuk menemui Lucy saat itu juga, Jeha rela membayar berapa pun. Namun, lagi-lagi dia harus berpuas diri bahwa pesawat yang ditumpanginya hanya dikemudikan oleh pilot yang sama-sama manusia sepertinya.
"Je, minum dulu, biar tenang," kata Naka sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Jeha.
Memang Jeha ambil, tapi tangannya tidak digerakkan sedikit pun menuju bibir. Jari-jari panjangnya sibuk mencengkeram botol dengan mata menatap gamang pada monitor di depannya yang menampilkan rute penerbangan.
Naka memakluminya. Jika dihadapkan dengan situasi yang sama, Naka bahkan bisa hilang kewarasan. Tapi sebagai sosok yang masih sedikit lebih tenang, sepanjang penerbangan itu dia setia membantu Jeha agar tetap tegar menerima berita kemalangan Lucy. Dia selalu menjelaskan bahwa Lucy tidak sendirian. Ada banyak kerabat yang menemaninya di rumah sakit.
Saat Jeha dan Naka sampai di rumah sakit, Lucy sudah terlanjur masuk ruang operasi. Begitu mendengar penjelasan singkat tentang kondisi Lucy, Jeha jatuh tersungkur begitu saja dengan kondisi yang mengenaskan. Jasmine menenangkannya begitupun kedua orang tua Lucy yang sama-sama khawatir.
"Kata dokternya nggak begitu fatal. Mereka pasti bakal baik-baik aja, Je."
Tangis Jeha pecah. Naka yang menyaksikan betapa berantakannya Jeha malam itu tidak kuasa membendung air matanya. Malam itu pernah menjadi malam terberat untuk seorang Jeha. Wajah kusutnya ketika menunggu pintu ruang operasi terbuka pun membuat Jasmine berkali-kali menghela napas, ikut merasakan kesedihan Jeha. Anak lelakinya itu tampak begitu rapuh. Sambil terus memeluk Jeha, Jasmine menenangkannya dengan kalimat-kalimat lembut agar anaknya itu tidak berpikiran buruk tentang kondisi Lucy.