Saking asingnya dengan nama-nama kota di Indonesia, Jeha pernah searching kata Cinere karena melihat postingan Naka. Namun, bukannya muncul arti kata aestetik seperti harapannya, yang muncul malah nama kecamatan di Kota Depok.
Sejak kecil, Jeha memang anak rumahan. Cowok itu keluar rumah jika diajak papa atau mamanya. Saat SMP, dia lebih suka melukis di rumah sambil memakan buah kupasan ART-nya dibandingkan bermain bersama teman-teman seusianya. Baru setelah masuk SMA, dia mulai menikmati masa mudanya. Cowok itu mulai mau diajak jalan-jalan oleh teman satu kelas atau ekskul basketnya. Kalau tidak ada yang mengajak, dia akan lanjut ndekem di rumah menghabiskan stok yogurt. Mamanya dulu sempat heran. Bukannya menanyakan mainan atau oleh-oleh ketika mamanya baru pulang dari suatu tempat, Jeha justru bertanya soal stok yogurt.
"Mama nggak beli yogurt lagi? Di kulkas abis," katanya sambil menyendok satu-satunya yogurt yang tersisa.
Mamanya hanya bisa menatap Jeha dengan tampang lelah. Meskipun begitu, Jasmine tidak pernah marah. Wanita itu hanya heran dengan tingkah Jeha yang makin hari makin menghindari interaksi sosial. Jasmine sempat meyakini bahwa Jeha lebih cinta makan yogurt daripada bergaul dengan teman-temannya.
Bukannya sembuh, jiwa introvert Jeha justru kian membandel. Jika biasanya anak basket tuh playboy dan suka tebar pesona, Jeha tidak. Memang agak lain, tapi saat SMA bisa pacaran dengan Bianca ya karena Bianca nembak dia duluan. Coba kalau Bianca tidak nembak duluan, pasti tuh cowok tidak akan pernah punya pacar sampai lulus SMA. Hidupnya pasti akan lempeng jika tidak bertemu dengan Bianca.
Waktu itu, Bianca yang memang terlahir barbar mendekati Jeha dengan sangat liar.
"Woi, Jeremy!"
Jeha yang baru saja hendak men-shoot bola basketnya ke ring lantas menoleh saat mendengar suara seorang cewek melengking dari arah tribun. Beberapa kasak-kusuk mulai terdengar saat cewek itu, Bianca, berjalan mendekat ke arah Jeha.
Jeha mengangkat alis. "Who?"
"Bianca Saline Dewangga."
Jeha mengernyit. "Ada apa?"
"Pacaran yuk."
Bola yang ada di genggaman Jeha langsung melorot, menggelinding begitu saja ke lapangan. Jeha langsung cengo, tapi Bianca justru cengar-cengir. Belum sempat Jeha menjawab, Bianca mengambil bola yang sempat menggelinding cukup jauh dari tempatnya berdiri.
"Kalau gue bisa masukin ke ring, mulai hari ini lo pacar gue. Oke?"
"Hah?"
"Just say yes without hah, Jeremy."
Surprisingly, bola itu masuk ke ring.
Bianca terkekeh bangga. Tangannya bertepuk tangan mengabaikan wajah Jeha yang syok.
"Lo pacar gue sekarang," ujar Bianca sambil menunjuk Jeha dan dirinya sendiri dengan telunjuk secara bergantian.
Akibat ultimatum sepihak itu, sepulang sekolah Jeha lari secepat kilat untuk menghindari Bianca. Bianca yang melihat Jeha secepat itu menghindarinya pun mendecak. Namun, cewek itu tidak mudah menyerah. Dia punya banyak strategi untuk membuat Jeha mau berhadapan dengannya.
Karena Bianca juga berasal dari keluarga tajir melintir, cewek itu memanfaatkan koneksi ayahnya untuk mencari alamat rumah Jeha. Setelah dapat, dia langsung melancarkan aksi cegilnya. Tepat setelah Bianca sampai di depan gerbang rumah Jeha, cewek itu berlagak sok feminim padahal sebelumnya berjalan petantang-petenteng macam Preman Tanah Abang. Jasmine menjadi orang yang heboh saat tahu ada seorang cewek datang berkunjung di hari Minggu untuk menemui putranya. Wanita itu lantas tergopoh-gopoh untuk menarik selimut Jeha agar bangun dan menemui Bianca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)