Part 28. Belum Jelas

5.4K 357 32
                                        

Jempolnya dulu sini.

*

Besoknya, Lucy masih sakit meskipun sudah tidak sepanas sebelumnya. Dia juga masih menginap di kontrakan Luki. Jeha menengoknya lagi sambil membawa bubur. Lucy yang tengah melamun menatap langit-langit kamar tersentak saat pintu kamarnya dibuka dan menampilkan tubuh tinggi Jeha sambil menenteng kresek isi makanan. Cowok itu terlihat rapi seperti biasanya. Meskipun sedang pilek, dari penampilannya, Lucy bisa menerka bahwa Jeha wangi. Rambut cowok itu dibiarkan jatuh ke dahi dan wajahnya sedikit lebih pucat dari kemarin. Lantas ketika jaraknya sudah dekat, tiba-tiba cowok itu bersin.

Lucy mendecak. "Udah gue bilang jaga jarak. Ketularan kan lo."

Mengabaikan omelan Lucy, Jeha justru mendekat dan menempelkan punggung tangan ke kening cewek itu. Lucy memejamkan mata sebentar lalu melek lagi saat Jeha kembali menarik tangannya.

"Oke, udah nggak sepanas kemarin," kata Jeha. Cowok itu lantas menyambung. "Sarapan nih, gue bawain bubur ayam kesukaan lo, Mang Asep."

Lucy merotasikan bola mata. "Lo juga sakit tuh, tadi denger ada yang bersin. Nggak mungkin kucing tetangga bersin di kamar gue."

"Gue nggak apa-apa."

"Pasti ketularan gue. Siapa suruh deket-deket."

Jeha malah terkekeh. "Nggak masalah. Lagian akhir-akhir ini imun gue emang lagi buruk aja."

"Udah tahu gitu malah deketin orang sakit."

"Ya gimana ya, Luki sendiri yang minta gue jagain kembarannya."

"Dih, Lukiardo."

Jeha mengambil duduk di tepi kasur. Lucy masih sama, sibuk membuang muka saat Jeha mulai menatapnya seraya melipat tangan di dada. Mereka seperti itu untuk beberapa waktu hingga akhirnya Jeha yang mengalah. Lucy kira, Jeha akan menjauh atau minimal berdiri agak jauh, tapi ternyata Jeha malah tetap duduk di tempatnya sambil membuka wadah bubur yang tadi dibelinya. Cowok itu diam sampai bubur terbuka sempurna untuk memudahkan Lucy memakannya.

"Nih, makan," katanya menyodorkan bubur berwadah thinwall itu pada Lucy.

Bukannya menjawab Jeha, Lucy justru punya kosakata lainnya.

"Lo mending minum obat dulu deh, Je. Batuk sama pilek itu nyiksa banget. Nggak lucu kalau abis ini lo yang gantian tumbang. Masa seminggu masuk klinik dua kali kan nggak keren."

Jeha mengelak santai. "Entar aja, lo makan dulu aja," kaya Jeha.

Lucy tersentak saat Jeha menyodorkan sendok berisi bubur ke dekat mulutnya.

Lucy mengerjap. "Lo mau ngapain?"

"Nyupain lo lah masa mau main sulap-sulapan."

Lucy menukas ketus. "Gue nggak lumpuh ya, gue bisa makan sendiri. Siniin," kata Lucy berusaha merebut sendok dari tangan Jeha.

"Ck, biar gue aja, lo tinggal mangap. Kalau lo  yang megang malah bakal lo anggurin nih bubur."

"Tapi nggak perlu disuapin kayak bayi juga elah."

"Oh, maunya disuapin kayak lansia?"

"Gue bukan lansia."

"Yaudah, mangap!"

Lucy tidak protes lagi. Dia mangap dan menerima suapan Jeha. Dia tim bubur diaduk sehingga Jeha mengadukkan untuknya.

"Anyway, lo bakal datang ke nikahan Jordan-Bianca?" tanya Lucy di sela kunyahan buburnya. Sebenarnya tinggal ditelan, tapi masih ada beberapa tekstur nasi yang harus Lucy kunyah.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang