Part 15. Orang Baru

5K 393 58
                                        

Harret baru saja turun dari pesawat dan langsung memainkan jari-jari panjangnya di atas layar hape. Cowok tinggi itu mengetikkan pesan pada seseorang yang baru dia ketahui sudah berada di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan sepupu tercintanya, Jeha.

Akan tetapi, dia harus menelan kembali rasa antusiasnya karena tidak ada balasan dari Jeha. Agak kecewa, tapi hal itu tidak menghentikan langkahnya. Setelah mendapat balasan dari tantenya yang tidak lain adalah mama Jeha, Harret menggeret kopernya dan pergi menuju ke tempat tujuan.

Rumah Jeha.

Kenapa tidak rumahnya?

Dia ingin merasakan sensasi yang berbeda. Lagipula dia sudah lama tidak bertemu dengan Jeha. Di rumahnya hanya akan disambut oleh ruangan kosong sebab kedua orang tuanya tengah sibuk bekerja. Ditambah lagi rumahnya dekat dengan rumah keluarga pusat, alias rumah kakek dan neneknya. Bisa dipastikan kalau mereka tahu Harret pulang akan heboh dan langsung menggelar makan malam akbar untuk membahas hal yang tidak begitu Harret sukai.

Jadi, pilihannya menuju rumah Jeha adalah pilihan yang tepat. Dia bisa tinggal beberapa hari di sana tanpa kesepian. Urusan kakek dan tetek bengeknya bisa dipikirkan setelahnya.

Cowok tampan itu berpakaian biasa, tapi karena tampangnya memang menjanjikan, beberapa pasang mata mendecak kagum pada kehadirannya. Wajahnya yang khas seperti blasteran dunia-surga (cielah) itu beberapa kali menarik perhatian massa. Bagaimana tidak? Selain dianggap sebagai Keluarga Sultan, Keluarga Bimantara memiliki genetik yang bagus perihal tampang. Jeha waktu di Korea Selatan pun bisa berbaur santai tanpa ditanya dia orang mana.

Tanpa berniat menghubungi mama dan papanya, Harret memutuskan untuk menemui Jeha terlebih dahulu. Cowok itu membuang napasnya saat taksi yang ditumpanginya mulai melaju membelah padatnya kota Jakarta. Harret memilih menyandarkan punggung pada sandaran kursi taksi. Kepalanya menengok jendela dengan mata yang fokus memandang ke jalanan. Mendadak dia banyak pikiran. Cowok berusia 31 tahun tersebut amat merindukan Indonesia khususnya Jakarta. Kalau saja kisahnya tidak rumit, Harret pasti akan tetap memilih tinggal di Indonesia daripada di Inggris. Berbeda dengan Jeha yang pergi ke Korea Selatan karena memang suka, Harret pergi ke Inggris karena terpaksa. Cowok itu banyak diliputi kegelisahan hingga pergi tepat setelah sang kakek mengumumkan tanggal pertunanangannya.

Seperti yang telah Jeha jelaskan sebelumnya, calon tunangan Harret adalah Wilmeyna Ranjayu, cewek yang berusia lima tahun di bawahnya. Fakta gilanya lagi, Wilmey menyukai Harret sehingga cowok itu terpojok. Satu-satunya cara yang terlintas di benaknya adalah minggat sejauh mungkin. Namun, setelah menetap di London selama kurang lebih empat tahun untuk menghindari perjodohan itu, tiba-tiba Harret memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya. Entah apa yang sudah cowok itu lalui di London hingga memutuskan pulang padahal di Indonesia akan jauh pelik perjalanannya.

Begitu sampai di kediaman Jeha, Harret langsung memencet bel rumah. Tidak ada tanggapan sehingga dia memencetnya berkali-kali dengan tidak sabar. Amarahnya pun membuncah. Padahal matahari sudah meninggi, tapi tampaknya Jeha masih bergelut di alam mimpi.

Baru saja dia akan memencet bel dengan sewot untuk ke sekian kalinya, sosok asing muncul dan membukakan pintu gerbang. Mereka berpandangan sebentar.

"Wow, bidadari jatuh dari khayangan, ya?"

Begitulah kiranya celetukan asal yang Harret lontarkan pada Lucy yang membukakan pintu gerbang.

"Siapa, ya?" tanya Lucy dengan kening berlipat.

Sambil melepas kacamata hitamnya yang sejak tadi bertengger di hidungnya, Harret berujar pada Lucy. "Harret Hendrian Bimantara."

Hanya dengan tahu nama belakangnya, Lucy paham siapa cowok tampan di depannya itu. Tanpa banyak tanya, Lucy mempersilakan Harret masuk. Cowok itu lantas mendecak saat tidak menjumpai Jeha.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang