E P I L O G:
Ending Sequence
*
Sebenarnya Lucy tahu kalau Jeha itu tidak bisa mengendalikan hawa napsunya. Cowok itu cenderung menunjukkan keagresifannya dibandingkan menutupinya. Lucy memang sudah terbiasa dengan mode Jeha yang seperti itu, tapi tetap saja Lucy heran dengan bagaimana cowok itu bertingkah. Ada saja gebrakan yang membuat Lucy berakhir pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Jeha.
Seperti halnya kali ini.
Mereka baru saja sampai di hotel setelah penerbangan panjang dari Cengkareng menuju Incheon dan sempat transit di Changi. Karena ini adalah penerbangan panjang pertama Lucy, cewek itu masih sedikit jet lag. Rencananya ingin tidur selepas mandi, tapi si Jeremy-Jeremy itu tiba-tiba memanggilnya.
"Lucyyana, ambilin sikat gigi. Gue nggak bisa pakai sikat gigi hotel."
Sebagai istri yang baik, tentu saja Lucy menuruti. Bahkan, ketika cowok itu sengaja menyuruhnya bolak-balik hanya untuk mengambilkannya sempak dan juga kolor. Sungguh, Lucy tidak marah. Hanya saja dia merasa Jeha seperti mengulur waktunya agar tidak menjatuhkan tubuh ke kasur lalu tidur. Lucy mendecak saat suara Jeha terdengar lagi.
"Lucyyana, sini. Gue butuh pertolongan lo."
Lucy mendecak. "Mandiri elah. Mau lo telanjang di depan gue pun gue nggak bakal judging. Gue mau tidur."
"Ini serius. Cepetan ke sini."
"Kalau cuma nyuruh ambilin handuk buat kepala, ogah."
Lucy merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Ambilin handuk. Handuk tubuh gue jatuh ke bathub."
Akhirnya Lucy mengalah. Dia jengah mendengar kicauan Jeha yang kian mengganggunya. Kalau tidak diladeni, takutnya kamar sebelah akan terganggu. Sebagai tamu yang budiman di negeri orang yang menjunjung tinggi sopan dan santun, Lucy meladeni Jeha dan berharap cowok itu berhenti heboh.
"Nih!" sambil memasang muka sebal, Lucy menyerahksn handuk warna putih lembut itu pada Jeha.
Lucy kira, Jeha akan melongokkan kepala dan tangannya untuk meraih handuk pemberiannya, tapi ternyata tidak. Jeha membuka pintu kamar mandi dan Lucy terkejut sebab cowok itu membohonginya. Handuk yang katanya jatuh di bathub nyatanya tengah membalut tubuh bagian bawahnya. Tubuh bagian atasnya dibiarkan telanjang dengan rambut basah yang baru saja dibilas. Detik selanjutnya Lucy tersentak saat Jeha mengulas senyum misterius. Dia sadar tatapan Jeha berubah menjadi cabul.
Saat Lucy berharap bisa kabur dari sana, yang terjadi justru sebaliknya. Tangan Jeha menarik kuat tangannya untuk masuk ke kemar mandi. Untuk beberapa saat mereka sibuk tarik menarik, Jeha mau Lucy masuk, tapi Lucy tidak mau.
"Please, gue capek, Jeremy. Biarin gue istirahat dulu!"
"Lo udah janji bakal iyain semua mau gue, kan?"
Lucy menggeleng capek. Tatapannya penuh permohonan yang serius. "Jangan sekarang. Biarin gue tidur sejam deh. Eh, enggak, tiga puluh menit aja."
"Mana ada lo tidur tiga puluh menit doang. Lo tidur sekarang tuh minimal bangunnya tengah malam. Gue udah nggak tahan."
Mereka masih saling tarik menarik sampai tangan Lucy kebas. Kakinya sudah terseok dan sewaktu-waktu bisa limbung. Namun, karena dia beneran ingin mempertahankan kemauannya, sekuat tenaga menguatkan diri melawan Jeha. Walaupun tenaga mereka tidak sebanding, setidaknya Lucy usaha dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)