(Jempolnya dulu buat Jeha Oppa!)
*
"Jeremy!!"
Jeha yang lagi mengotak-atik laptopnya karena mendadak lemot sewaktu digunakan pun tersentak kaget saat tiba-tiba Lucy masuk ruang kerjanya dengan suara menggelegar yang terdengar sangat serius dan butuh perhatian khusus.
Dia mendongak. "Lah, udah pulang? Kok nggak telepon gue kalau pulang lebih awal?"
Lucy berkacak pinggang. "Gue bareng Harret tadi."
Mendengar nama Harret disebut, Jeha menatap Lucy penuh tanya. "Lo nggak ada indikasi selingkuh, kan?"
Si cewek beneran mengumpat, tapi lirih karena tahu Jeha tidak suka wanitanya berkata-kata kasar. Kalau dihukum pakai ciuman sih tidak masalah, tapi takutnya ditabok keyboard kan kliyengan. Yah, walaupun Jeha tidak mungkin melakukannya.
"Gue cuma pulang bareng kagak usah cemburu," sergah Lucy.
Jeha bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Lucy. "Cemburu dalam hubungan itu wajib asal nggak berlebihan."
"Nah itu lo barusan berlebihan," Lucy mendengus. "Pokoknya gue sama Harret cuma pulang bareng. Dia juga ada urusan lainnya kok, jadi nggak usah cemburu. Gue cintanya cuma sama lo!"
Jeha manggut-manggut penuh bahagia. "Oh, mungkin dia kebelet boker."
Lucy memukul ringan pundak cowok itu.
"Padahal gue mau ngomong sesuatu ke lo, eh malah ngalor-ngidul gini. Tadi sampai mana, ya?"
"Sampai lo ada indikasi selingkuh."
"GUE KAGAK SELINGKUH BAGINDA JEREMY!"
Jeha mengusap lembut rambut Lucy. "Good girl."
Lucy komat-kamit sebal. Sebelum melebar ke mana-mana, dia mengambil duduk dan Jeha pun mengikuti.
"Gue mau tanya sesuatu ke lo. Lo mau nggak sambutan di acara presscon film Demain Inconnu?"
Jeha mengernyit. "Kudu banget gue?"
Lucy mengangguk. "Semua orang udah tahu siapa ente. Papa lo bahkan udah sering sebut nama lo terang-terangan di setiap kesempatan yang beliau hadiri. Jadi, nggak masalah kan kalau lo muncul buat sambutan doang? Nggak usah lama-lama entar gue buatin scriptnya sekitaran tujuh menitan. Gimana?"
"Bukannya yang sambutan biasanya tuh sutradara utama sama penulis naskahnya, ya?"
"Emang biasanya gitu untuk beberapa keadaan, tapi kali ini para produser pengen lo yang ngasih sambutan. Mau gimanapun ini adaptasi dan lo yang nulis bukunya. Gimana?"
Jeha menimang sebentar. "Orang-orang yang terlibat nggak masalah? Maksudnya kayak Harret dan Charez gitu. Gue rasa mereka kepengen bisa sambutan."
Lucy mengangguk. "Nggak masalah, Jeremy. Harret katanya tetep sambutan kok, paling yang enggak Yuki. Tapi itu bisa diatur tim humas nantinya. Pokok ini gue nanyain lo bersedia apa nggak?"
"Kalau gue nolak malah nggak enak nggak sih?"
Sekali lagi Lucy mengangguk. "Malah mereka akan kecewa kalau lo nggak mau sambutan. Kesannya sombong."
"Ya udah, gue mau."
Lucy bersorak gembira. "Nah, gitu dong. Jangan kuper lagi. Calon istri lo ini banyak relasi. Takutnya ditanya suami lo mana? Lagi di kamar, rebahan, kan nggak lucu."
Jeha terkekeh. "Tapi kan kerjaan gue emang fleksibel, nggak kayak kerja kantoran. Duit gue juga udah banyak."
Lucy memukul Jeha. "Bisa nggak sih kalau lagi ngomong serius nggak usah pamer harta? Gue tahu lo kaya raya, jadi nggak usah diperjelas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romansa(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)